Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

ﭦﭛﭣﭤ
١ ١
٢ ٢

٣ ٣


ﭿ
٤ ٤

٥ ٥

٦ ٦

٧ ٧

٨ ٨


٩ ٩

١٠ ١٠

ﯿ ١١ ١١
415
As-Sajdah Ayat 0 - 2

الٓمٓ ١ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Nabi membaca di shalat Shubuh hari Jum’at surat as-Sajdah dan al-Insan.” (Ibnu Katsir, 6/358).
Pertanyaan: Perhatikanlah surat as-Sajdah kemudian berusahalah untuk menemukan hikmah di balik anjuran membacanya pada shalat Shubuh hari Jum’at!

As-Sajdah Ayat 0 - 2

تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢

Al-Qur`an turun dari Tuhan semesta alam yang mengurusi mereka dengan nikmat-nikmatNya, dan salah satu nikmat terbesarnya adalah al-Qur`an ini yang mengandung semua yang baik untuk keadaan mereka dan menyempurnakan akhlak mereka. (As-Sa’di, 653).
Pertanyaan: Apa maksud dari penyebutan sifat rububiyah di dalam firmanNya, "Tuhan semesta alam"?

As-Sajdah Ayat 0 - 2

تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢

Surat ini dimulai dengan menyanjung al-Qur`an, karena al-Qur`an adalah kitab yang mengumpulkan hidayah yang terkandung di dalam surat ini dan lainnya, karena pangkal kesesatan orang-orang yang tersesat adalah mendustakan al-Qur`an. Allah menjadikan al-Qur`an sebagai hidayah bagi manusia. Allah memuliakan orang-orang Arab dengan menjadikan mereka orang-orang pertama yang menerima al-Qur`an. (Ibnu Asyur, 21/205).
Pertanyaan: Ayat ini yang mulia menunjukkan pengagungan kepada al-Qur`an al-Karim. Jelaskan hal itu!

As-Sajdah Ayat 0 - 4

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ وَلَا شَفِيعٍۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ٤

Yakni, apakah kalian tidak mendengar nasihat-nasihat ini sehingga kalian tidak memperhatikannya. Atau apakah kalian mendengarnya namun tidak memperhatikannya. Yang pertama, untuk mereka karena tidak mendengar dan tidak memperhatikan. Yang kedua, untuk mereka karena tidak memperhatikan sekalipun ada pendorong untuk mendengar­kan. (Al-Alusi, 11/118).
Pertanyaan: Kapan faidah terwujud dari mendengarkan nasihat?

As-Sajdah Ayat 0 - 4

مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ وَلَا شَفِيعٍۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ٤

Kalian wahai manusia, tidak mempunyai wali selain Allah yang mengurusi perkara kalian, menolong kalian dari azabNya saat Dia menginginkan keburukan bagi kalian, tidak pula pemberi syafa'at yang dapat membantu kalian di hadapan Allah  apabila Dia menghukum kalian atas kemaksiatan kalian kepadaNya. Karena itu jadikanlah Allah semata sebagai penolong kalian, mintalah pertolongan kepadaNya dan dengan menaatiNya atas urusan-urusan kalian, karena Allah melindungi kalian dari siapa yang menginginkan keburukan terhadap kalian, tidak ada seorang pun yang kuasa menolak apa yang Dia kehendaki untuk kalian, tidak ada yang mengalahkanNya. (Ath-Thabari, 20/166).
Pertanyaan: Hati dan anggota tubuh hanya sah berkait dengan Allah semata. Jelaskan hal itu!

As-Sajdah Ayat 0 - 5

يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ٥

Ini mengandung petunjuk bahwa pengaturan manusia tidak berpengaruh di hadapan pengaturan Allah. Sungguh beruntung siapa yang diberi kerelaan kepada pengaturan Allah dan merasa cukup dengannya. (Al-Alusi, 11/138).
Pertanyaan: Apa manfaat bertawakal kepada Allah?

As-Sajdah Ayat 0 - 6

ذَٰلِكَ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ٦

Penyebutan sifat Allah dengan, "Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang", setelah semua yang disebutkan, adalah bahwa Allah menciptakan semua makhluk hanya dengan kuasaNya, tanpa ada satu pun yang membantuNya. Sifat "perkasa" berarti tidak membutuhkan selainNya, dan ini jelas, bahwasanya Dia-lah yang menciptakan mereka di atas keadaan-keadaan yang Dia berlemah lembut kepada mereka. Maka Dia Penyayang terhadap mereka dalam keadaan apa pun Dia menciptakan mereka, karena menjadikan urusan-urusan kehidupan mereka sesuai bagi mereka, ada kenikmatan bagi mereka dan juga menjauhkan mereka dari segala rasa sakit padanya. (Ibnu Asyur, 21/215).
Pertanyaan: Apa konteks penyebutkan sifat Allah dengan "Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," dalam ayat yang mulia ini?