Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٣٨ ٣٨

٣٩ ٣٩


٤٠ ٤٠
ﭿ

٤١ ٤١

٤٢ ٤٢

٤٣ ٤٣

٤٤ ٤٤


٤٥ ٤٥
٤٦ ٤٦

٤٧ ٤٧

ﯿ ٤٨ ٤٨
7
Al-Baqarah Ayat 0 - 40

يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ

Ini adalah dorongan kepada mereka dengan menyebut nama kakek mereka, Israil, yaitu Ya’qub Nabi Allah. Asumsinya: Wahai anak-anak seorang hamba yang shalih yang taat kepada Allah, jadilah kalian seperti kakek kalian dalam mengikuti kebenaran. Sebagaimana kamu berkata, “Wahai anak orang mulia, lakukanlah ini. Wahai anak orang pemberani, majulah dan hadapilah musuh. Wahai anak seorang ulama, carilah ilmu.” Dan yang seperti ini. (Ibnu Katsir, 1/79).
Pertanyaan: Mengapa Allah memanggil orang-orang Yahudi melalui bapak mereka Israil yaitu ya’qub?

Al-Baqarah Ayat 0 - 41

وَءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلۡتُ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَكُمۡ وَلَا تَكُونُوٓاْ أَوَّلَ كَافِرِۢ بِهِۦۖ

Pembenaran al-Qur`an terhadap Taurat dan kitab lainnya dan pembenaran Muhammad terhadap nabi-nabi sebelum beliau memiliki tiga makna. Pertama: Bahwa mereka telah mengabarkan tentang Muhammad, kemudian terbukti sebagaimana apa yang mereka kabarkan, maka kabar mereka tentang Muhammad terbukti kebenarannya. Kedua: Nabi mengabarkan bahwa mereka adalah para nabi, Allah menurunkan Kitab-kitab kepada mereka, jadi beliau membenarkan mereka, yakni mengakui kebenaran mereka. Ketiga: Bahwa apa yang beliau bawa sesuai dengan apa yang ada di dalam Kitab-kitab mereka, berupa Tauhid, iman kepada Hari Kiamat dan akidah-akidah serta syariat lainnya, jadi beliau membenarkan mereka karena beliau dan mereka sama-sama beriman kepada semua itu. (Ibnu Juzay, 1/64).
Pertanyaan: Bagaimana al-Qur`an membenarkan Kitab-kitab sebelumnya?

Al-Baqarah Ayat 0 - 41

ِ١ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ ٤١

Ayat ini, sekalipun ia tertuju kepada Bani Israil, namun mencakup siapa saja yang berbuat seperti perbuatan mereka. Barangsiapa menerima suap untuk mengubah atau membatalkan kebenaran atau menolak meng-ajarkan apa yang wajib atasnya atau menunaikan apa yang diketahuinya padahal dia harus menunaikannya, sebelum dia diberi upah, maka dia termasuk ke dalam kandungan ayat ini. (Al-Qurthubi, 2/11).
Pertanyaan: Bagaimana manusia menukar ayat-ayat Allah dengan harga murah?

Al-Baqarah Ayat 0 - 42

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤٢

Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mengetahui kebenaran wajib menampakkannya, tidak boleh menyembunyikannya dengan syarat-syarat yang dikenal di kalangan para ulama. (Al-Alusi, 1/247).
Pertanyaan: Ayat ini menunjukkan apa?

Al-Baqarah Ayat 0 - 44

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ

Maksudnya bukan mencela mereka karena mereka mengajak kepada kebaikan, padahal mereka meninggalkannya, namun karena mereka meninggalkannya. Karena mengajak kepada yang baik adalah baik, ia adalah kewajiban atas ulama, akan tetapi yang wajib dan yang lebih patut bagi ulama adalah melakukan apa yang diperintahkan bukan malah meninggalkannya. Meng-ajak kepada kebaikan dan mengamalkannya adalah sama-sama wajib, salah satu dari keduanya tidak menggugurkan yang lain. (Ibnu Katsir, 1/82).
Pertanyaan: Jika pelaku kemaksiatan melihat orang lain melakukannya, apakah dia diam saja?

Al-Baqarah Ayat 0 - 45

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥

Allah mengabarkan bahwa shalat itu berat kecuali atas orang yang memiliki sifat demikian. (Ath-Thabari, 1/27).
Pertanyaan: Apa sifat yang menjadikan shalat itu sesuatu yang dicintai dan dirindukan oleh orang Mukmin?

Al-Baqarah Ayat 0 - 45

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥

Shalat itu tidak berat atas mereka karena mereka mengetahui apa yang mereka dapatkan padanya, mereka yakin kepada pahala yang mereka simpan karenanya, maka shalat menjadi ringan bagi mereka, karena itu ada yang berkata, “Barangsiapa mengetahui apa yang dicari, maka ringanlah atasnya apa yang dia korbankan. Barang siapa yakin kepada penggantian, maka dia akan ringan memberi.” (Al-Alusi, 1/249).
Pertanyaan: Mengapa shalat itu tidak berat atas orang-orang yang khusyu’?