Quran
ﮏ
ﰻ
ﭠ ﭡ ٦٢ ٦٢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ
٦٣ ٦٣ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ
ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ
ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ
ﮈ ﮉ ٦٤ ٦٤ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ
ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ
٦٥ ٦٥ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ
ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ
ﮮ ﮯ ٦٦ ٦٦ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ
ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ٦٧ ٦٧
ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ
ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ٦٨ ٦٨ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ
ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ٦٩ ٦٩ ﯾ
ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ٧٠ ٧٠
قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡٔاً وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ
Mungkin faidahnya adalah bahwa bila kalian mengucapkannya kepada mereka, dan kalian adalah ahli ilmu yang sebenarnya, maka hal itu meningkatkan tegak-nya hujjah atas mereka, sebagaimana Allah mempersaksikan ahli ilmu atas orang-orang yang menentang. (As-Sa'di, 134).
Pertanyaan: Apa faidah mengajak ahli kitab kepada kalimat yang sama?
قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡٔاً وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ
Tauhid adalah dasar segala kebaikan, di samping ia adalah keadilan paling besar. (Ibnu Taimiyah, 2/80).
Pertanyaan: Tauhid adalah keadilan paling besar. Jelaskan hal itu!
وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٦٤
Ini mengandung bantahan terhadap syi'ah yang menyatakan bahwa perkataan imam wajib diterima tanpa memerlukan bukti syar’i dan bahwa imam berhak menghalalkan apa yang Allah haramkan tanpa menjelaskan dasar dari syariat. (Al-Qurthubi, 5/162).
Pertanyaan: Bagaimana kamu membantah syi'ah melalui ayat ini?
هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجۡتُمۡ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٦٦
Ayat ini mengandung larangan berdebat bagi siapa yang tidak mempunyai ilmu dan peringatan terhadap siapa yang tidak memiliki pengetahuan yang akurat. (Al-Qurthubi, 5/165).
Pertanyaan: Siapa yang boleh berdebat dalam masalah ilmiah?
مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٦٧
Dorongan untuk mengetahui sejarah, karena ia merupakan jalan untuk menolak perkataan-perkataan yang rusak dan klaim-klaim yang bertentangan dengan apa yang diketahui dalam sejarah. (As-Sa'di, 134).
Pertanyaan: Apa pentingnya ilmu sejarah bagi penuntut ilmu syar’i?
وَدَّت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يُضِلُّونَكُمۡ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٦٩
Ada yang berkata bahwa maksud dari mereka menyesatkan diri mereka sendiri adalah kegigihan mereka di atas kesesatan karena godaan hawa nafsu mereka, padahal mereka bisa mengikuti petunjuk karena jelasnya hujjah-hujjahnya. (Al-Alusi, 3/199).
Pertanyaan: Bagaimana seseorang menyesatkan dirinya?
وَدَّت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يُضِلُّونَكُمۡ
Dan sudah dimaklumi bahwa barangsiapa menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha mewujudkan keinginannya. Golongan ini berusaha keras dan gigih untuk memurtadkan orang-orang yang beriman, menyusupkan syubhat-syubhat kepada mereka dengan segala cara yang bisa mereka lakukan. (As-Sa'di, 134).
Pertanyaan: Apa yang ahli kitab inginkan dari kaum Muslimin?