Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٢٧ ٢٧

٢٨ ٢٨


٢٩ ٢٩
ﭿ ٣٠ ٣٠
Surah Header

ﭦﭛﭣﭤ
١ ١ ٢ ٢
٣ ٣
٤ ٤
٥ ٥
٦ ٦
٧ ٧

٨ ٨
٩ ٩
١٠ ١٠
١١ ١١ ١٢ ١٢
١٣ ١٣
١٤ ١٤
١٥ ١٥
ﯿ ١٦ ١٦
564
Al-Mulk Ayat 0 - 29

ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ

Iman itu mencakup pembenaran batin, amal-amal lahir dan batin. Karena eksistensi amal dan kesempurnaannya bergantung kepada tawakal, maka Allah menyebutkan tawakal secara khusus di antara amal-amal lainnya. Meski jika tidak disebutkan secara khusus, sebenarnya tawakal sudah termasuk dalam iman dan di antara konsekuensinya. (As-Sa’di, 878).
Pertanyaan: Mengapa Allah mengkhususkan tawakal di antara amal-amal lainnya padahal ia sudah termasuk dalam iman?

Al-Mulk Ayat 0 - 29

قُلۡ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ هُوَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٢٩

Hanya kepada Allah semata kami bertawakal, karena yang ada di tangan selainNya tidak bernilai apa-apa. Bila tidak demikian, niscaya selainNya bisa merahmati siapa yang hendak diazab oleh Allah atau mengazab siapa yang hendak dirahmati oleh Allah. Segala sesuatu yang bersumber dari tangan makhlukNya, baik berupa rahmat atau hukuman, maka Allah-lah yang sebenarnya menjalankannya. (Al-Biqa’i, 20/270).
Pertanyaan: Mengapa tawakal hanya kepada Allah semata?

Al-Qalam Ayat 0 - 1

نٓۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ ١

Bersumpah dengan pena karena kemuliaannya, ia adalah alat menulis al-Qur`an, kitab-kitab suci lainnya, buku-buku pendidikan, keluhuran akhlak dan ilmu-ilmu, semua itu memiliki bagian kemuliaan di sisi Allah. (Ibnu Asyur, 29/60).
Pertanyaan: Mengapa Allah bersumpah dengan pena?

Al-Qalam Ayat 0 - 7

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٧

Ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang tersesat dan janji baik untuk orang-orang yang mendapatkan hidayah. (As-Sa’di, 879).
Pertanyaan: Allah menyebutkan orang-orang yang tersesat dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Ini menunjukkan apa?

Al-Qalam Ayat 0 - 8

فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ٨

Larangan mematuhi seseorang sama dengan larangan menirunya, bahkan ini lebih utama. Pendusta dan orang yang banyak bersumpah tidak boleh ditaati, dan perbuatan keduanya tidak boleh ditiru. (Ibnu Taimiyah, 6/370).
Pertanyaan: Ayat ini melarang menyerupai orang-orang fasik dan para ahli maksiat. Jelaskan hal itu!

Al-Qalam Ayat 0 - 13

فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ٨ وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ ٩ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠ هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ ١٢ عُتُلِّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ ١٣

Akhlak bisa didapatkan melalui pergaulan. Ayat ini mengandung peringatan terhadap bahaya menularnya akhlak orang-orang tersebut melalui pergaulan dengan mereka. Maka hendaklah berhati-hati. Adanya kebutuhan untuk bergaul dengan mereka hanya dalam tema mengajak mereka kepada Allah. (Ibnu Taimiyah, 6/370).
Pertanyaan: Dakwah kepada ahli maksiat mengandung resiko yang harus diwaspadai. Apa itu?

Al-Qalam Ayat 0 - 10

وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠

Hal itu karena orang yang berdusta -karena kelemahan dan kehinaannya- hanyalah berlindung di balik sumpah dustanya yang di dalamnya dia berani memakai nama-nama Allah dan menggunakannya bukan pada tempatnya. (Ibnu Katsir, 4/404).
Pertanyaan: Mengapa kita dilarang mengikuti orang yang banyak bersumpah?