Quran
ﮏ
ﰻ
ﮏ
ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ٣ ٣ ﭧ
ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ
ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ٤ ٤ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ
ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ٥ ٥ ﮈ ﮉ ﮊ
ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ٦ ٦ ﮗ
ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ
ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ
ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ
ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ
ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ٧ ٧ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ
ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ٨ ٨ ﯼ
ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ٩ ٩
نَزَّلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ ٣
Allah berfirman, أَنْزَلَ untuk Taurat dan Injil, karena keduanya diturunkan sekaligus, sedangkan untuk al-Qur`an Allah berfirman نَزَّلَ, karena al-Qur`an turun berangsur-angsur, kata نَزَّلَ menunjukkan makna berkali-kali. (Al-Baghawi, 1/320).
Pertanyaan: Kenapa Allah berfirman أَنْزَلَ untuk Taurat dan Injil, sedangkan untuk al-Qur`an Allah berfirman نَزَّلَ?
مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ
Dari kitab-kitab terdahulu, dan al-Qur`an adalah pembersih bagi kitab-kitab sebelumnya, apa yang diakui kebenarannya oleh al-Qur`an, maka ia diterima, apa yang ditolak oleh al-Qur`an, maka ia ditolak, al-Qur`an sesuai dengannya dalam segala tuntutan yang para rasul menyepakatinya, kitab-kitab terdahulu mengakui kebenaran al-Qur`an. Ahli Kitab tidak dianggap beriman kepada kitab mereka bila mereka tidak beriman kepada al-Qur`an, karena kekufuran mereka kepada Allah membatalkan iman mereka kepada kitab-kitab mereka. (As-Sa'di, 121).
Pertanyaan: Ayat ini menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah hakim atas kitab-kitab sebelumnya, bagaimana demikian?
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ
Allah menurunkan mutasyabihat agar keunggulan para ulama terlihat, agar kesungguhan mereka dalam merenungkannya meningkat, agar mereka mewujudkan ilmu-ilmu yang menjadi dasar ijtihad dalam rangka mengeluarkan hukum-hukum yang hakiki, dengan itu dan dengan mengerahkan segala daya kemampuan, mengeluarkan tujuan-tujuan syariat yang luhur dan makna-makna yang mulia, mereka meraih derajat-derajat yang tinggi. (Al-Alusi, 3/83).
Pertanyaan: Apa hikmah diturunkannya ayat-ayat mutasyabihat di dalam al-Qur`an?
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ
“Condong kepada kesesatan,” yakni, menyimpang dari kebenaran kepada kebatilan. “Mereka mengikuti yang mutasyabihat,” yakni, mereka mengambil ayat-ayat mutasyabihat yang memungkinkan mereka untuk membelokkannya dan menerapkannya kepada tujuan mereka yang rusak, karena lafazhnya memang memungkinkan untuk dibelokkan ke sana. Kalau ayat-ayat yang muhkam, maka mereka tidak bisa berbuat apa pun terhadapnya, karena menolak mereka dan menjadi hujjah atas mereka, karena itu Allah berfirman, “Untuk mencari-cari fitnah,” yakni, menyesatkan para pengikut mereka, untuk mengelabui para pengikut bahwa mereka berhujjah atas bid’ah mereka dengan al-Qur`an, padahal al-Qur`an adalah hujjah atas mereka bukan untuk mereka. (Ibnu Katsir, 1/336).
Pertanyaan: Apa sikap ahli bid’ah terhadap ayat-ayat mutasyabihat?
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ
Allah menjelaskan bahwa tidak ada yang tersesat karena satu huruf pun dari ayat mutasyabihat kecuali pemilik tabiat yang bengkok, mereka yang telapak kaki mereka dalam agama tidak kokoh, ilmu pengetahuan mereka di bidang ilmu belum mapan. (Al-Biqa'i, 2/22).
Pertanyaan: Siapa yang tersesat dalam ayat-ayat mutasyabihat?
وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧
Ini adalah sanjungan untuk orang-orang yang mendalam ilmunya, bahwa pertimbangan mereka matang dan pandangan mereka tajam, karena akal mereka bersih dari selaput yang menyelubunginya, yaitu kecenderungan kepada hawa nafsu yang mengotorinya, yang siap menggali petunjuk dari rambu-rambu kebenaran dan menapaki anak tangga kejujuran. (Al-Alusi, 3/83).
Pertanyaan: Apa petunjuk firman Allah, “Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”?
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨
Allah memiliki rahmat yang meliputi makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, yang berbahagia maupun yang sengsara, kemudian Allah memiliki rahmat yang Allah khususkan hanya untuk orang-orang yang beriman saja, yaitu rahmat iman, kemudian rahmat yang Allah khusus-kan bagi orang-orang yang bertakwa saja, yaitu rahmat ketaatan kepada Allah, dan rahmat yang Allah khususkan bagi para wali yang dengannya mereka menggapai derajat kewalian, dan rahmat yang Allah khususkan bagi para nabi yang dengannya mereka menggapai derajat kenabian. Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu.” (Ibnu Taimiyah, 2/34).
Pertanyaan: Sebutkan macam-macam rahmat Allah kepada makhluk?