Quran
ﯙ
ﱑ
ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ٢٠ ٢٠ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ٢١ ٢١
ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ٢٢ ٢٢ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ
ﭴ ٢٣ ٢٣ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ٢٤ ٢٤ ﭾ
ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ٢٥ ٢٥ ﮄ ﮅ ﮆ ٢٦ ٢٦ ﮈ
ﮉ ﮊ ﮋ ٢٧ ٢٧ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ٢٨ ٢٨ ﮓ
ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ٢٩ ٢٩ ﮜ
ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ٣٠ ٣٠ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ
ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ٣١ ٣١ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ
ﯓ ٣٢ ٣٢ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ٣٣ ٣٣
ﯝ ﯞ ﯟ ٣٤ ٣٤ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ
ﯨ ٣٥ ٣٥ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ٣٦ ٣٦ ﯰ
ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ
ﯼ ٣٧ ٣٧ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ
٣٨ ٣٨ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ ﰍ ٣٩ ٣٩
وَإِن لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ لِي فَٱعۡتَزِلُونِ ٢١ فَدَعَا رَبَّهُۥٓ أَنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمٞ مُّجۡرِمُونَ ٢٢
“Dan jika kalian tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil),” maksudnya, jangan menggangguku, biarkanlah urusan di antara diriku dengan diri kalian berjalan damai hingga Allah memutuskan. Ketika keberadaannya di tengah-tengah mereka berlangsung lama, dia menegakkan hujjah-hujjah Allah atas mereka, namun semua itu tidak menambah mereka kecuali kekufuran dan penentangan, maka dia berdoa kepada Tuhannya dengan sebuah doa yang berlaku atas mereka. (Ibnu Katsir, 4/143).
Pertanyaan: Apa yang membuat Musa berubah dari mengajak mereka kepada Allah menjadi mendoakan mereka agar diazab oleh Allah?
فَمَا بَكَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّمَآءُ وَٱلۡأَرۡضُ
Mereka tidak memiliki amal-amal shalih yang baik ke langit, bagaimana langit menangisi kematian mereka, sementara di bumi mereka tidak memiliki tempat di mana mereka menyembah Allah padanya, bagaimana bumi bisa merasa kehilangan dia. Karena itu mereka patut untuk tidak ditangguhkan dan tidak diakhirkan azabnya karena kekufuran dan dosa-dosa mereka, kejahatan dan penentangan mereka. (Ibnu Katsir, 4/144).
Pertanyaan: Mengapa langit dan bumi menangisi hamba-hamba Allah?
فَمَا بَكَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّمَآءُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَا كَانُواْ مُنظَرِينَ ٢٩
Penjelasan bahwa tidak ada yang peduli terhadap nasib mereka yang binasa. Ulama tafsir menyatakan bahwa mereka tidak melakukan amal shalih di belahan bumi yang meng-haruskan bumi untuk menangisi mereka saat mereka binasa, tidak ada amal shalih mereka yang naik ke langit yang mengharuskan langit untuk menangisi mereka. Maksudnya tidak ada yang menaruh simpati terhadap nasib mereka, tidak dari penduduk bumi dan tidak dari penghuni langit. (Asy-Syaukani, 4/575).
Pertanyaan: Jelaskan rendahnya orang-orang musyrik menurut ayat yang mulia ini!
وَلَقَدِ ٱخۡتَرۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ عِلۡمٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٣٢ وَءَاتَيۡنَٰهُم مِّنَ ٱلۡأٓيَٰتِ مَا فِيهِ بَلَٰٓؤٞاْ مُّبِينٌ ٣٣
Ketika kaum Quraisy membanggakan penampilan luar berupa kekayaan dan kekuasaan, mereka menilai hal itu sebagai kemuliaan dari Allah, mereka melihat bahwa kehidupan yang lemah adalah kesengsaraan dan jauh dari Allah, maka Allah membantah anggapan mereka dengan apa yang Dia berikan kepada Bani Israil yang lemah dan tertindas pasca ditenggelamkannya Fir'aun dan bala tentaranya. (Al-Biqa’i, 7/76).
Pertanyaan: Apakah kekayaan di dunia menunjukkan bahwa Allah ridha dan cinta kepada pemiliknya, sementara kemiskinan menunjukkan kemurkaan Allah kepada orang fakir?
أَهُمۡ خَيۡرٌ أَمۡ قَوۡمُ تُبَّعٖ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٣٧
Sesudah Allah menyebutkan contoh dengan dibinasakannya Fir'aun dan kaumnya, Allah menambahkan contoh lain yang lebih mirip dengan kondisi mereka sehingga mereka bisa menarik pelajaran darinya, yaitu binasanya suatu kaum yang lebih dekat dengan negeri mereka daripada kaum Fir'aun: kaum Tubba’. Orang-orang Arab mendengar kehebatan Raja Tubba’ dan kaumnya di Yaman, banyak dari mereka yang bisa menyaksikan sisa-sisa peninggalan kaum Tubba’ yang menunjukkan kekuatan dan kebesaran mereka di dalam perjalanan-perjalanan mereka, dan mereka pun memperbincangkan kebinasaan yang menimpa mereka berupa Sailul Arim (banjir yang besar). (Ibnu Asyur, 25/308).
Pertanyaan: Apa faidah dibuatnya permisalan dengan kaum Tubba’?
أَهُمۡ خَيۡرٌ أَمۡ قَوۡمُ تُبَّعٖ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٣٧
Makna ayat ini, apakah kaum Quraisy lebih kuat dan lebih hebat dari kaum Tubba’ dan orang-orang sebelum mereka dari kalangan orang-orang yang kafir? Kami telah membinasakan kaum Tubba’ dan lainnya tatkala mereka ingkar, maka demikian pula dengan kaum Quraisy. Maksud ayat ini adalah mengancam. (Ibnu Juzay, 2/324).
Pertanyaan: Jelaskan ancaman yang ada di dalam ayat ini!
وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا لَٰعِبِينَ ٣٨ مَا خَلَقۡنَٰهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٩
Karena mereka tidak mengetahui mengapa Allah menciptakan makhluk, maka mereka berani berbuat kemaksiatan, merusak di muka bumi, tanpa berharap mendapat pahala dan takut dari hukuman. (Al-Biqa’i, 7/79).
Pertanyaan: Apa yang membuat seorang hamba berani melakukan dosa dan kerusakan dan apa yang mendorongnya untuk bertindak baik dan lurus?