Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٢١ ٢١

٢٢ ٢٢


٢٣ ٢٣

ﭿ ٢٤ ٢٤


٢٥ ٢٥


٢٦ ٢٦


٢٧ ٢٧
٢٨ ٢٨

٢٩ ٢٩
٣٠ ٣٠
Surah Header

417
As-Sajdah Ayat 0 - 22

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ٢٢

“Dan siapakah yang lebih zhalim,” yakni, tidak ada yang lebih zhalim terhadap dirinya, “daripada orang yang diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya,” yakni, dengan hujjah-hujjah dan bukti-buktiNya, “kemudian dia berpaling darinya,” dengan sikap tidak menerima. “Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa,” karena mereka mendustakan dan berpaling. (Al-Qurthubi, 17/40-41).
Pertanyaan: Jelaskan bahaya dan akibat dari berpaling dari nasihat Allah!

As-Sajdah Ayat 0 - 24

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

Ayat ini mengandung petunjuk bahwa seorang guru yang membimbing harus memiliki sifat-sifat, yaitu sabar di atas kesulitan ibadah dan berbagai macam ujian, menahan jiwanya dari memperturutkan syahwat, dan meyakini ayat-ayat Allah. Maka siapa yang mengklaim sebagai pembimbing tanpa memiliki sifat-sifat itu, maka dia tersesat. (Al-Alusi, 11/139).
Pertanyaan: Bagaimana seorang da'i bisa menjadi imam dalam petunjuk?

As-Sajdah Ayat 0 - 24

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ

Sufyan ditanya tentang ucapan Ali bin Abu Thalib, “Kedudukan sabar dalam iman adalah seperti kedudukan kepala bagi jasad,” maka dia berkata, “Apakah kamu tidak membaca Firman Allah, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” Dia melanjutkan, ‘Ketika mereka mengambil pokok perkara, mereka pun menjadi para kepala.” (Ibnu Katsir, 3/446).
Pertanyaan: Dari mana Ali bin Abu Thalib menimba ucapannya, “Kedudukan sabar dalam iman adalah seperti kedudukan kepala bagi jasad.”?

As-Sajdah Ayat 0 - 24

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

"Selama mereka sabar," yakni, karena kesabaran mereka, Kami menjadikan mereka para pemimpin. Sabar ini adalah sabar di atas agama, di atas ujian. Ada yang berkata, "Sabar di depan dunia." (Al-Qurthubi, 17/43).
Pertanyaan: Apa maksud sabar di dalam ayat ini?

As-Sajdah Ayat 0 - 26

أَوَ لَمۡ يَهۡدِ لَهُمۡ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ يَمۡشُونَ فِي مَسَٰكِنِهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٍۚ أَفَلَا يَسۡمَعُونَ ٢٦

“Sesungguhnya pada yang demikian itu,” yakni, pada pembinasaan Kami terhadap umat-umat yang mendustakan atau pada negeri-negeri mereka, “terdapat tanda-tanda (kuasa Allah),” yang besar pada dirinya, banyak dalam jumlahnya. “Apakah mereka tidak mendengar (memperhatikan)?” Ayat-ayat tersebut dengan pendengaran untuk merenungkan dan mengambil pelajaran? (Al-Alusi, 11/136).
Pertanyaan: Apakah faidah dari disebutkannya kisah umat-umat terdahulu?

As-Sajdah Ayat 0 - 29

قُلۡ يَوۡمَ ٱلۡفَتۡحِ لَا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِيمَٰنُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ٢٩

Barangsiapa mengklaim bahwa yang dimaksud dengan hari kemenangan adalah hari Fathu Makkah, maka klaim itu jauh sekali, salah besar, karena para hari Fathu Makkah Rasulullah menerima Islam orang-orang yang beliau maafkan yang berjumah sekitar dua ribu jiwa, seandainya maksudnya adalah Fathu Makkah, niscaya Nabi tidak menerima keislaman mereka, karena Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Pada hari kemenangan itu, tidak berguna lagi bagi orang-orang kafir keimanan mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan'.” Jadi yang dimaksud dengan hari kemenangan adalah hari keputusan dan ketetapan (Hari Kiamat). (Ibnu Katsir, 3/447).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan hari kemenangan di dalam ayat ini?

As-Sajdah Ayat 0 - 30

فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَٱنتَظِرۡ إِنَّهُم مُّنتَظِرُونَ ٣٠

Berpalinglah dari kebodohan mereka dan jangan menjawab mereka kecuali dengan apa yang kamu diperintahkan. “Dan tunggulah, sesungguhnya mereka (juga) menunggu,” yakni, tunggulah hari kemenangan, hari yang Allah menetapkan keputusanNya bagimu atas mereka. (Al-Qurthubi, 17/46).
Pertanyaan: Jelaskan manhaj al-Qur`an dalam menyikapi orang-orang yang mendustakan lagi berpaling!