Quran
ﮫ
ﱍ
ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ
ﭨ ﭩ ﭪ ٢٩ ٢٩ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ
ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ٣٠ ٣٠ ﭽ ﭾ ﭿ
ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ
ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ٣١ ٣١ ﮒ ﮓ ﮔ
ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ
ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ
٣٢ ٣٢ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ
ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ
ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ
ﯪ ٣٣ ٣٣ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ
ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ
ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ٣٤ ٣٤
ﮬ
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ يَجۡرِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ٢٩
Ayat ini menyebutkan malam sebelum siang, karena ia lebih menakjubkan, bagaimana kegelapannya menutupi cahaya siang. (Ibnu Asyur, 21/185).
Pertanyaan: Mengapa ayat menyebutkan malam sebelum siang?
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ٣١
Disebutkannya dua sifat, sabar dan syukur di sini adalah untuk memberikan perhatian kepada keduanya dari cabang-cabang iman lainnya, bahwa keduanya adalah sikap terbaik berkenaan dengan perjalanan laut, karena perjalanan laut berkutat antara keselamatan dan kecelakaan; yang pertama syukur dan yang kedua sabar. (Ibnu Asyur, 21/190).
Pertanyaan: Mengapa saat bahtera berlayar di lautan dua sifat, yaitu syukur dan sabar disebutkan secara khusus?
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ٣١
Yakni, sabar menerima keputusan Allah dan bersyukur atas nikmatNya. Para ulama Ma’ani (makna-makna) berkata, "Hendaknya setiap Mukmin memegang dua sifat ini, karena keduanya adalah sifat iman paling utama." (Al-Qurthubi, 16/493).
Pertanyaan: Mengapa ayat ditutup dengan sifat sabar dan syukur?
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ٣١
Bentuk kataصَبَّار dan شَكُوْر adalah dua shighah mubalaghah (bermakna sangat) dari sabar dan syukur. Dari keduanya diketahui bahwa tidak mengetahui dalam keadaan makmur keagungan Allah yang diketahui pada saat sulit kecuali siapa yang Allah tabiatkan di atas itu, yang Allah beri taufik dan Allah bantu untuk menjaga perjanjian dan meninggalkan pembatalan, dalam rangka berjalan seiring dengan ajakan fitrah yang selamat; dan me-reka itu tidak banyak. (Al-Biqa’i, 15/206).
Pertanyaan: Mengapa ayat ditutup dengan sifat sabar dan syukur dengan menggunakan shighah mubalaghah?
وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوۡجٞ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ فَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ كَفُورٖ ٣٢
Kata خَتَّار bermakna pengkhianat ulung, karena dia mengingkari nikmat Allah sebagai pengkhianatan. (Ibnu Juzay, 2/176).
Pertanyaan: Mengapa orang kafir pengkhianat ulung?
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمٗا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡـًٔاۚ
Allah memerintahkan manusia agar bertakwa kepadaNya, yaitu melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Allah mengajak manusia mengingat ketakutan Hari Kiamat, hari yang berat, hari yang setiap orang hanya sibuk dengan dirinya sendiri sehingga “seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun,” yakni, tidak menambah kebaikannya dan tidak mengurangi keburukannya. Amal setiap hamba sudah sempurna, balasannya di depan mata, mengingat Hari Kiamat yang menakutkan ini menguatkan seorang hamba, memudahkannya untuk bertakwa kepada Allah. (As-Sa’di, 652).
Pertanyaan: Mengapa Allah sering menjelaskan kengerian Hari Kiamat di dalam al-Qur`an?
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ ٣٤
Lima perkara ini dalam sabda Nabi disebut dengan kunci-kunci yang ghaib (مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ), dan beliau menafsirkannya dengan Firman Allah, “Dan hanya di sisi Allah mafatihul ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.” [Al-An’am: 59]. Dalam Shahih al-Bukhari dari hadits Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Mafatihul ghaib ada lima,” lalu beliau membaca ayat ini. (Ibnu Asyur, 21/198).
Pertanyaan: Lima perkara di dalam ayat yang mulia ini, disebut apa?