Quran
ﮨ
ﱌ
ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ٨٥ ٨٥ ﭦ ﭧ
ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ
ﭳ ﭴ ﭵ ٨٦ ٨٦ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ
ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ
ﮈ ٨٧ ٨٧ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ
ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ٨٨ ٨٨
ﮩ
ﮫ ﮬ ٢ ٢ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ
ﯘ ﯙ ﯚ ٣ ٣ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ
ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ٤ ٤ ﯨ ﯩ ﯪ
ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ٥ ٥ ﯶ
ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ٦ ٦
وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ بَعۡدَ إِذۡ أُنزِلَتۡ إِلَيۡكَۖ وَٱدۡعُ إِلَىٰ رَبِّكَۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٨٧
Perkataan mereka, pedustaan dan gangguan mereka jangan sampai menghalang-halangimu, tidak usah menoleh kepada mereka, teruslah berjalan menunaikan tugasmu. (Al-Qurthubi, 16/330).
Pertanyaan: Ayat ini menunjukkan bahwa seorang da'i harus terus berdakwah sekalipun menghadapi rintangan berat. Jelaskan!
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢
Apakah manusia menyangka mereka akan dibiarkan tanpa ujian dan cobaan "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji" yakni, mereka tidak diuji pada harta dan diri mereka? Tidak demikian, Kami pasti akan menguji mereka agar diketahui siapa yang mukhlis dan siapa yang munafik, siapa yang ikhlas dan siapa yang dusta. (Al-Baghawi, 3/461).
Pertanyaan: Mengapa Allah menguji hamba-hambaNya?
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢
Ayat ini turun pada sekelompok orang-orang yang beriman yang lemah di Mekkah. Orang-orang kafir Quraisy mengintimidasi dan menyiksa mereka karena keislaman mereka, maka hidup mereka menjadi sempit karena itu, maka Allah menghibur mereka dengan ayat ini. Allah memberitahu mereka sekaligus menasihati mereka bahwa hal itu adalah ujian untuk melatih kesabaran mereka dalam menghadapi gangguan dan keteguhan di atas iman. Allah memberitahu mereka bahwa ujian merupakan sunnahNya pada hamba-hambaNya. Allah menguasakan orang-orang kafir atas orang-orang Mukmin untuk menguji orang-orang Mukmin, agar orang yang imannya benar terlihat dari orang yang munafik. Lafazhnya umum, hukumnya pun umum untuk siapa pun yang mendapatkan fitnah dalam bentuk kemaksiatan atau kesulitan pada diri, harta dan lainnya. (Ibnu Juzay, 2/154).
Pertanyaan: Apa faidah ujian? Jelaskan melalui ayat ini!
وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
Orang-orang sebelum mereka adalah orang-orang beriman pengikut para nabi. Mereka mengalami berbagai macam ujian dan cobaan, maka mereka tetap bersabar, mereka menggigit agama mereka dengan gigi geraham mereka, sebagaimana Allah berfirman, "Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menim-panya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh)." [Ali Imran: 146]. (Al-Alusi, 10/240).
Pertanyaan: Di antara Sunnatullah adalah menguji orang-orang orang-orang yang beriman. Apa kewajiban seorang Mukmin dalam keadaan ini?
وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
Allah sudah mengetahui mereka sebelum menguji mereka, makna ayat ini, Allah akan memperlihatkan orang-orang yang benar dari orang-orang yang dusta sehingga apa yang telah Allah ketahui di alam azali nampak bagi manusia. (Al-Baghawi, 3/462).
Pertanyaan: Kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Lalu mengapa Allah berfirman, “Pasti Allah mengetahui"?
أَمۡ حَسِبَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ أَن يَسۡبِقُونَاۚ
Apakah orang-orang yang keinginan mereka adalah melakukan keburukan-keburukan dan mempraktekkan dosa-dosa menyangka bahwa amal-amal perbuatan mereka akan berlalu begitu saja dan bahwa Allah lalai dari mereka atau mereka bisa lepas dari hukuman Allah? Karena itu mereka berani melakukannya dan mudah bagi mereka untuk melakukannya. (As-Sa'di, 626).
Pertanyaan: Apa yang membuat seorang hamba mudah melakukan dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan?
مَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ ٱللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ لَأٓتٖۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٥
Barangsiapa menginginkan pahala Allah, maka hendaknya bersabar di dunia atas mujahadahnya di atas ketaatan kepada Allah sampai dia bertemu Allah lalu Allah memberinya balasan, karena sesungguhnya pertemuan dengan Allah itu dekat. (Ibnu Juzay, 2/155).
Pertanyaan: Apa syarat untuk mendapatkan pahala Allah?