Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan



٣١ ٣١
٣٢ ٣٢

٣٣ ٣٣
ﭿ

٣٤ ٣٤


٣٥ ٣٥



٣٦ ٣٦


٣٧ ٣٧
ﯿ
٣٨ ٣٨
336
Al-Hajj Ayat 0 - 31

حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيۡرَ مُشۡرِكِينَ بِهِۦۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ ٣١

Ada yang berkata, musyrik disamakan dengan orang yang jatuh dari langit karena dia tidak mempunyai cara agar tidak jatuh, apa pun yang dilakukannya, dia pasti jatuh, dia binasa tidak bisa tidak, dia disambar burung lalu dimangsanya atau terjatuh ke tempat yang dalam. Al-Hasan berkata, ayat menyamakan amal orang-orang kafir dengan keadaan ini karena ia lenyap sia-sia, mereka tidak kuasa atasnya apa pun. (Al-Baghawi, 3/218).
Pertanyaan: Jelaskan keadaan musyrik kepada Allah di dunia dan akhirat?

Al-Hajj Ayat 0 - 32

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

Mengagungkannya adalah memuliakan dan menghargainya, berangkat menuju ke sana. Ada yang berkata syiar adalah perkara agama secara mutlak. Mengagungkannya adalah menegakkan dan memuliakannya. (Ibnu Juzay, 2/56).
Pertanyaan: Bagaimana seorang hamba mengagungkan syiar-syiar Allah?

Al-Hajj Ayat 0 - 32

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

Yang dimaksud adalah ketakwaan hati, yaitu menyembah Allah semata bukan selainNya dengan puncak penyembahan. Ibadah adalah puncak cinta dan puncak ketundukan dan keikhlasan. Ini di dalam agama Ibrahim al-Khalil. Semua ini menjelaskan bahwa ibadah hati adalah dasar. (Ibnu Taimiyah, 4/427).
Pertanyaan: Ibadah hati adalah dasar ibadah. Bagaimana ayat menunjukkan hal itu?

Al-Hajj Ayat 0 - 35

فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ ٣٤ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ عَلَىٰ مَآ أَصَابَهُمۡ وَٱلۡمُقِيمِي ٱلصَّلَوٰةِ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣٥

Allah menyifati orang-orang yang tunduk patuh dengan empat sifat, yaitu hati yang takut saat nama Allah disebut, sabar atas gangguan di jalan Allah, mendirikan shalat dan infak. (Ibnu Asyur, 17/261).
Pertanyaan: Tunduk patuh kepada Allah terwujud dengan empat sifat. Apa itu?

Al-Hajj Ayat 0 - 36

فَإِذَا وَجَبَتۡ جُنُوبُهَا فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرۡنَٰهَا لَكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٣٦

Berilah makan siapa yang meminta dan siapa yang tidak meminta di antara orang-orang yang meminta dengan bahasa tubuhnya, berilah makan siapa yang menahan diri dengan tidak meminta sama sekali dan siapa yang memposisikan dirinya agar diberi. (Ibnu Juzay, 2/58).
Pertanyaan: Islam berusaha mewujudkan solidaritas sosial, jelaskan hal itu melalui ayat!

Al-Hajj Ayat 0 - 36

كَذَٰلِكَ سَخَّرۡنَٰهَا لَكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٣٦

Allah memberikannya sebagai nikmat bagi kita dengan menundukkan-nya, menjadikan kita bisa bertindak atasnya, padahal ia lebih besar tubuhnya dan lebih kuat, hal itu agar supaya hamba mengetahui bahwa urusan-urusan tidak sebagaimana yang nampak pada hamba, namun menurut apa yang Allah yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa atur. Allah membuat yang kecil menguasai yang besar, agar manusia mengetahui bahwa yang menang adalah Allah, yang Maha Esa lagi Mahaperkasa di atas hamba-hambaNya. (Al-Qurthubi, 14/403).
Pertanyaan: Jelaskan nikmat dan karunia Allah kepada hamba-hambaNya dengan ditundukkannya hewan-hewan besar untuk mereka!

Al-Hajj Ayat 0 - 37

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ

Makna ayat, kalian tidak akan mencapai ridha Allah dengan daging dan darah, akan tetapi kalian sampai kepadanya dengan takwa, yakni dengan ikhlas karena Allah dan ingin mendapatkan wajahNya dengan apa yang kalian sembelih berupa hewan-hewan hadyu. Ayat ini meng-ungkapkan makna ini dengan kata, “Tidak akan sampai kepada Allah” sebagai ungkapan mendalam dan penegasan, karena ayat berkata, daging dan darah tidak sampai kepada Allah, namun kalian sampai kepada Allah dengan takwa, itulah yang dituntut dari kalian dan karenanya kalian mendapatkan pahala. (Ibnu Juzay, 2/58).
Pertanyaan: Apa tujuan agung dari penegakan syiar-syiar haji?