Quran
ﮎ
ﰺ
ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ
ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ
ﭯ ﭰ ﭱ ١٩٧ ١٩٧ ﭳ ﭴ ﭵ
ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ
ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ
ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ
ﮍ ﮎ ١٩٨ ١٩٨ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ
ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ١٩٩ ١٩٩
ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ
ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ
ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ
٢٠٠ ٢٠٠ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ
ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ٢٠١ ٢٠١ ﯨ
ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ٢٠٢ ٢٠٢
وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ فَإِنۡ أُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡيِۖ وَلَا تَحۡلِقُواْ رُءُوسَكُمۡ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ٱلۡهَدۡيُ مَحِلَّهُۥۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦٓ أَذٗى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡيَةٞ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٖۚ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَمَن تَمَتَّعَ بِٱلۡعُمۡرَةِ إِلَى ٱلۡحَجِّ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡيِۚ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖ فِي ٱلۡحَجِّ وَسَبۡعَةٍ إِذَا رَجَعۡتُمۡۗ تِلۡكَ عَشَرَةٞ كَامِلَةٞۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمۡ يَكُنۡ أَهۡلُهُۥ حَاضِرِي ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ١٩٦
Al-Hasan berkata, “Haji mabrur adalah pelakunya pulang sebagai ahli zuhud terhadap dunia dan berharap akhirat.” (Al-Qurthubi, 2/324).
Pertanyaan: Bagaimana haji seorang Mukmin mabrur?
فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ
Dorongan dan ajakan untuk berkata-kata baik sebagai pengganti kata-kata buruk, kepada kebaikan dan ketakwaan dalam akhlak sebagai pengganti kefasikan dan berbantah-bantahan. (Al-Qurthubi, 2/328).
Pertanyaan: Jelaskan perhatian al-Qur`an al-Karim terhadap perkataan yang baik dan menjauhi perkataan buruk!
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٧
Allah mengkhususkan pembicaraan dalam ayat ini kepada orang-orang yang berakal, karena mereka adalah orang-orang yang mampu membedakan antara yang haq dengan yang batil, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang shahih dan pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang hanya dengan akal ia diketahui dan dengan pemikiran ia dipahami, Allah tidak menjadikan bagian darinya untuk selain mereka dari kalangan orang-orang bodoh. (Ath-Thabari, 4/161).
Pertanyaan: Mengapa Allah mengkhususkan perintah bertakwa kepadaNya untuk orang-orang yang berakal?
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٧
Ayat ini turun pada sekelompok orang Arab yang pergi haji tanpa membawa bekal. Sebagian dari mereka berkata, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal.” Yang lain dari mereka berkata, “Bagaimana kita menunaikan haji ke Baitullah lalu Allah tidak memberi kita makan?” Maka mereka menjadi beban bagi jamaah haji yang lain, maka mereka dilarang melakukan itu dan mereka diperintahkan membawa bekal. (Ibnu Athiyyah, 1/273).
Pertanyaan: Siapa yang meninggalkan sebab bukan orang yang bertawakal. Jelaskan hal ini melalui ayat!
لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَبۡتَغُواْ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّكُمۡۚ
Manakala Allah melarang berbantah-bantahan saat haji, maka hal ini mungkin dipahami bahwa berniaga juga dilarang, karena pada umumnya berniaga mengajak kepadanya terkait dengan penawaran harga, maka Allah menyebutkan hukumnya sesudahnya. (Al-Alusi, 2/87).
Pertanyaan: Mengapa Allah menjelaskan dibolehkannya berniaga saat haji sesudah melarang berbantah-bantahan padanya?
فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا
Allah menyandingkan dzikir dengan doa untuk menunjukkan bahwa yang dipertimbangkan di dalam dzikir adalah apa yang diucapkan disertai hati yang fokus dan batin yang khusyu’, seperti keadaan orang yang berdoa saat dia memohon hajatnya, bukan sekedar mengucapkan dengan lisan semata. Allah memulai dengan dzikir karena ia adalah kunci dijawabnya doa. Kemudian Allah menjelaskan bahwa manusia dalam urusan doa kepada Allah terbagi menjadi dua kelompok; kelompok yang mementingkan dunia, maka mereka tidak memohon kepada Allah kecuali dengannya dan kelompok yang berdoa kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akhirat. (Al-Alusi, 2/90).
Pertanyaan: Mengapa Allah menyandingkan dzikir dengan doa dan memulai dengan dzikir?
أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ نَصِيبٞ مِّمَّا كَسَبُواْۚ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ٢٠٢
Ali ditanya, “Bagaimana Allah menghisab manusia yang jumlahnya sangat banyak?” Dia menjawab, “Sebagaimana Allah memberi mereka rizki sekalipun jumlah mereka banyak.” (Ibnu Juzay, 1/103).
Pertanyaan: Bagaimana Allah menghisab manusia yang jumlahnya sangat banyak?