Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

ﭦﭛﭣﭤ


١ ١

ﭿ
٢ ٢


٣ ٣


٤ ٤

٥ ٥



ﯿ
٦ ٦
77
An-Nisa Ayat 0 - 1

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

Derajat muraqabah adalah derajat mulia, dasarnya adalah ilmu dan keadaan. Yang pertama bahwa seorang hamba mengetahui bahwa Allah melihatnya, mengawasinya, menyaksikan segala amal perbuatannya, mendengar seluruh perkataannya, mengetahui segala apa yang terlintas di dalam benaknya. Yang kedua adalah keterkaiatan ilmu ini pada hati di mana ia mendominasinya, hati tidak melalaikannya. Ilmu saja tanpa keadaan tersebut tidak cukup. (Ibnu Juzay, 1/172).
Pertanyaan: Apa dasar muraqabah?

An-Nisa Ayat 0 - 1

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

Kata kerja bertakwalah diulang, karena ia diperintahkan secara khusus kepada orang-orang Muslim, karena pada mereka masih ada sisa dari kebiasaan jahiliyah yang tidak mereka sadari, yaitu melalaikan hak silaturrahim dan anak-anak yatim. (Ibnu Asyur, 4/217).
Pertanyaan: Mengapa perintah bertakwa di dalam ayat diulang dua kali?

An-Nisa Ayat 0 - 1

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

Yang mengharuskan dan yang mendorong kalian untuk bertakwa kepada Allah adalah bahwa kalian menggunakan namaNya untuk saling meminta di antara kalian, kalian mengagungkan namaNya, sehingga bila kalian hendak menunaikan hajat kebutuhan dan kepentingan kalian, maka kalian menggunakan namaNya sebagai perantara untuk meminta, siapa yang menginginkan hal itu berkata kepada rekannya, “Aku memohon kepadamu dengan nama Allah agar kamu melakukan hal ini.” Karena dia mengetahui apa yang ada dalam hatinya, yaitu sikap mengagungkan Allah yang mendorongnya memenuhi apa yang diminta olehnya dengan nama Allah. Sebagaimana kalian mengagungkan Allah dengan itu, maka agungkanlah Allah dengan beribadah dan bertakwa kepadaNya. (As-Sa'di, 163).
Pertanyaan: Kita mengagungkan Allah dalam beberapa hal namun tidak di beberapa hal lainnya, jelaskan hal ini!

An-Nisa Ayat 0 - 2

وَءَاتُواْ ٱلۡيَتَٰمَىٰٓ أَمۡوَٰلَهُمۡۖ وَلَا تَتَبَدَّلُواْ ٱلۡخَبِيثَ بِٱلطَّيِّبِۖ

Telah hadir di dalam surat sebelumnya kisah perang Uhud yang meninggalkan anak-anak yatim, kemudian Firman Allah, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” Bahwa kematian adalah sebuah jalan yang setiap orang pasti akan melaluinya, ini menunjukkan bahwa akan ada anak-anak yatim di setiap waktu, maka Allah mengajak kaum Muslimin agar menahan diri dari harta mereka dan berbuat adil kepada mereka, karena mereka adalah orang-orang yang paling patut untuk diperlakukan dengan sikap takwa kepada Allah dan merasa diawasi olehNya sesudah sanak kerabat, maka Allah berfirman, “Berikanlah kepada anak-anak yatim." (Al-Biqa'i, 2/207).
Pertanyaan: Apa hubungan antara disebutkannya anak-anak yatim di dalam surat ini dengan kematian dan kisah perang Uhud di akhir surat Ali Imran?

An-Nisa Ayat 0 - 3

فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ

Maka pilihlah menurut pertimbangan kalian dan pertimbangan paling baik adalah agama, sebagaimana yang Nabi sabdakan, “Seorang wanita dinikahi karena empat sifat: Hartanya, kecantikannya, kedudukannya dan agamanya. Pilihlah yang beragama, maka engkau akan beruntung.” Di dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang boleh memilih sebelum menikah, bahkan peletak syariat membolehkannya melihat kepada wanita yang hendak dinikahinya, agar dia mengetahui apa yang hendak diputuskannya. (As-Sa'di, 164).
Pertanyaan: Pada Firman Allah, “Perempuan (lain) yang kalian senangi,” mengandung petunjuk untuk memilih istri, jelaskan hal itu!

An-Nisa Ayat 0 - 3

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ

Ayat ini mengandung petunjuk bahwa seorang hamba tidak sepatutnya mendekatkan diri kepada resiko berbuat zhalim, aniaya dan tidak menunaikan kewajiban sekalipun ia mubah, tidak layak baginya berbuat demikian, sebaliknya dia harus memilih apa yang lapang dan selamat, karena sebaik-baik pemberian bagi seorang hamba adalah keselamatan. (As-Sa'di, 164).
Pertanyaan: Jika diduga kuat terjadi kezhaliman, maka termasuk bijaksana bila kita menjauhi sebab-sebabnya, jelaskan hal ini dari ayat!

An-Nisa Ayat 0 - 5

وَلَا تُؤۡتُواْ ٱلسُّفَهَآءَ أَمۡوَٰلَكُمُ ٱلَّتِي جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمۡ قِيَٰمٗا

Ayat ini mengandung sanjungan kepada harta, salaf berkata, “Harta adalah senjata orang Mukmin, lebih baik bagiku meninggalkan harta yang Allah akan menghisabku karenanya dibandingkan aku miskin lalu membutuhkan uluran tangan manusia.” Mereka juga berkata, “Berdaganglah, berusahalah, karena kalian berada di satu zaman yang bila salah seorang di antara kalian membutuhkan, maka perkara pertama yang dia makan adalah agamanya.” (Al-Alusi, 4/202).
Pertanyaan: Kepada apa isyarat Firman Allah, “Harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.”?