Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


١٦٦ ١٦٦



ﭿ ١٦٧ ١٦٧


١٦٨ ١٦٨

١٦٩ ١٦٩


١٧٠ ١٧٠


١٧١ ١٧١

١٧٢ ١٧٢

ﯿ
١٧٣ ١٧٣
72
Al-Imran Ayat 0 - 166

وَمَآ أَصَٰبَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِ فَبِإِذۡنِ ٱللَّهِ

Allah mengabarkan bahwa apa yang menimpa mereka pada saat dua pasukan bertemu, pasukan kaum Muslimin dengan pasukan kaum musyrikin di Uhud, berupa gugurnya sebagian dari mereka dan kekalahan, bahwa ia atas izin Allah, qadha` dan qadarNya, tidak akan tertolak, ia pasti terjadi, perkara takdir yang sudah terjadi hanya bisa disikapi dengan berserah diri, karena sesungguhnya Allah menakdirkannya karena hikmah besar dan faidah yang agung, karena Allah hendak memilah antara orang Mukmin dari orang munafik. (As-Sa'di, 156).
Pertanyaan: Kaum Muslimin memetik faidah dari kekalahan di medan Uhud, apa itu?

Al-Imran Ayat 0 - 168

ٱلَّذِينَ قَالُواْ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ وَقَعَدُواْ لَوۡ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُواْۗ قُلۡ فَٱدۡرَءُواْ عَنۡ أَنفُسِكُمُ ٱلۡمَوۡتَ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ١٦٨

Seandainya mereka mengikuti kami, maksudnya tidak berangkat untuk berperang melawan orang-orang Quraisy. Dan mereka tidak ikut berangkat berperang, yakni mereka mengucapkannya sambil mereka berpangku tangan tidak berangkat untuk berjihad. Maka Allah membantah mereka dengan, “Cegahlah.” Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, bila kalian benar, maka tolaklah kematian dari diri kalian. Allah men-jelaskan bahwa ketakutan tidak menolak apa yang ditakdirkan, bahwa orang yang terbunuh terbunuh dengan ajalnya, apa yang Allah ketahui dan kabarkan pasti terjadi, tidak bisa tidak. (Al-Qurthubi, 5/405).
Pertanyaan: Apakah jiwa berpengaruh terhadap waktu ajal kematian?

Al-Imran Ayat 0 - 169

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ ١٦٩

Akan tetapi mereka itu hidup, ini adalah pemberitahuan bahwa kehidupan para syuhada adalah kehidupan orang-orang hidup, yaitu bahwa mereka menikmati rezeki di surga, berbeda dengan mayit-mayit lain dari kalangan orang-orang Mukmin, mereka tidak menikmati rezeki surga sebelum mereka memasukinya pada Hari Kiamat. (Ibnu Juzay, 1/166).
Pertanyaan: Mengapa orang-orang yang mati syahid dikatakan tetap hidup sesudah mereka terbunuh?

Al-Imran Ayat 0 - 169

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ ١٦٩

Di sisi Tuhan mereka, ini menunjukkan derajat mereka yang tinggi dan kedekatan mereka kepada Tuhan mereka. Mereka mendapatkan rizki berupa berbagai bentuk kenikmatan yang sifatnya tidak ada yang mengetahui kecuali siapa yang memberikannya kepada mereka. Mereka berbahagia dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka. Yakni, mereka berbahagia dengan itu, mata mereka tenang dan jiwa mereka senang, hal itu karena kebaikan dan jumlahnya yang banyak, keagungan dan kesempurnaan kenikmatan untuk menggapainya, tidak ada sesuatu yang mengeruhkannya, Allah menyatukan bagi mereka antara nikmat jasmani melalui rezeki dan nikmat hati dan rohani dengan apa yang Dia berikan kepada mereka berupa karuniaNya, maka kenikmatan dan kebahagiaan terwujud sempurna bagi mereka. (As-Sa'di, 156).
Pertanyaan: Allah Allah menyatukan bagi para syuhada antara nikmat jasmani melalui rizki dan nikmat hati dan rohani. Jelaskan!

Al-Imran Ayat 0 - 170

فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٧٠

Tidak ada yang lepas dari mereka kecuali kehidupan yang keruh, yang tidak seorang pun berharap kelangsungannya selapa apa pun masanya, yang tersisa bagi mereka adalah kehidupan yang jernih yang tidak berakhir, tidak ada penghabisan bagi kenikmatannya, tidak ada ujian yang mereka hadapi, tidak ada kesedihan yang mereka alami, tidak ada musibah yang menimpa mereka di waktu pengumpulan dan lainnya. (Al-Biqa'i, 2/180).
Pertanyaan: Bagaimana keadaan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah?

Al-Imran Ayat 0 - 170

وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٧٠

Saudara-saudara mereka yang mereka tinggal dalam keadaan hidup di dunia di atas jalan iman dan jihad, karena mereka mengetahui bahwa bila saudara-saudara mereka itu gugur sebagai syahid, niscaya mereka menyusul, mendapatkan kemuliaan sebagaimana yang mereka dapatkan, karena itu mereka berbahagia. (Al-Baghawi, 1/448).
Pertanyaan: Mengapa orang-orang yang mati syahid berbahagia dengan saudara-saudara mereka di dunia?

Al-Imran Ayat 0 - 173

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.” Adalah kalimat yang dipakai untuk menepis apa yang dikhawatirkan dan ditakuti. Kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim saat dia dilemparkan ke dalam api. Maknanya adalah bahwa Allah adalah yang mencukupi kita semata, maka kita tidak bergantung kepada selain Allah. Makna, “Dia sebaik-baik Pelindung.” Adalah sanjungan bagi Allah, bahwa Dia adalah sebaik-baik dzat yang seorang hamba bertawakal kepadaNya dan berserah diri. “Maka mereka kembali,” yakni, pulang membawa nikmat dan selamat, serta pahala besar. (Ibnu Juzay, 1/167).
Pertanyaan: Apa makna "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung”?