Quran
ﮏ
ﰼ
ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ١٣٣ ١٣٣ ﭞ ﭟ
ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ
ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ١٣٤ ١٣٤ ﭭ ﭮ ﭯ
ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ
ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ
ﮁ ﮂ ﮃ ١٣٥ ١٣٥ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ
ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ
ﮓ ﮔ ١٣٦ ١٣٦ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ
ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ
١٣٧ ١٣٧ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ١٣٨ ١٣٨
ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ
١٣٩ ١٣٩ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ
ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ
ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ١٤٠ ١٤٠
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
Manakala Allah menyebutkan apa yang paling berat untuk diabaikan dan untuk diinfakkan, yaitu harta, Allah menyebutkan apa yang paling sulit untuk ditahan, yaitu amarah. Mereka menahan amarah sehingga tidak melampiaskannya padahal ia sudah memenuhi jiwa. (Al-Biqa'i, 2/157).
Pertanyaan: Apa hikmah hadirnya menahan amarah sesudah infak?
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
Orang yang menahan amarah dan orang yang memaafkan manusia telah berbuat baik kepada diri sendiri dan kepada manusia. Hal itu adalah kebaikan untuk dirinya dan untuk manusia. Barangsiapa berbuat baik kepada manusia berarti berbuat baik kepada dirinya. Allah berfirman, “Bila kalian berbuat baik maka kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri dan bila kalian berbuat buruk maka ia untuk diri kalian juga.” [Al-Isra`: 7]. (Ibnu Taimiyah, 2/140-141).
Pertanyaan: Siapa yang pertama kali mengambil manfaat dari menahan amarah dan memaafkan manusia dan bagaimana demikian?
وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
Yakni, orang-orang yang memendam amarah mereka saat ia memenuhi jiwa mereka. Dari sini dikatakan fulan menahan amarahnya, artinya dia memendamnya, dia menjaga diri dari melampiaskan amarah padahal dia mampu melampiaskannya. (Ath-Thabari, 7/214).
Pertanyaan: Petiklah dari ayat satu sifat dari sifat-sifat orang yang bergegas kepada ampunan dan surga?
قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنٞ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ١٣٧
Ayat ini menunjukkan pentingnya ilmu sejarah, karena ia mengandung makna berjalan di muka bumi, yaitu usaha mengetahui kabar-kabar tentang orang-orang terdahulu dan sebab-sebab kebaikan umat serta kerusakannya. (Ibnu Asyur, 4/97).
Pertanyaan: Membaca sejarah dan mengetahui kehidupan umat-umat memiliki sisi urgensi yang tinggi, jelaskan hal ini melalui ayat?
هَٰذَا بَيَانٞ لِّلنَّاسِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٞ لِّلۡمُتَّقِينَ ١٣٨
Penjelasan mencakup setiap orang yang memahaminya, sedangkan hidayah dan nasihat hanya bagi orang-orang yang bertakwa. (Ibnu Taimiyah, 2/143).
Pertanyaan: Penjelasan bagi manusia seluruhnya, namun hidayah dan nasihat hanya bagi orang-orang yang bertakwa saja, jelaskan hal ini dari ayat!
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٣٩
Jangan bersikap lemah di dalam berjihad melawan musuh-musuh kalian yang juga musuh-musuh Allah, karena Allah bersama kalian atas mereka, sekalipun dalam perang Uhud mereka sempat unggul dalam batas-batas tertentu, kalian akan melihat akhir dari urusan ini berpihak kepada siapa. Dan jangan bersedih atas apa yang menimpa kalian dari mereka dan atas selainnya yang mungkin menimpa kalian. Karena kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, yakni di dua alam, dunia dan akhirat, bila kalian adalah orang-orang yang beriman. (Al-Biqa'i, 2/59).
Pertanyaan: Apakah kekalahan yang menimpa orang-orang Mukmin bertentangan dengan ketinggian mereka? Jelaskan hal itu!
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٣٩
Ayat ini menetapkan bahwa musuh tidak diberi kesempatan berdamai selama kaum Muslimin memiliki kekuatan, bila kaum Muslim di satu daerah tidak memiliki kekuatan, maka imam menimbang apa yang lebih baik bagi mereka. (Ibnu Athiyyah, 1/513).
Pertanyaan: Kapankah gencatan senjata antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir sah dilakukan?