Quran
ﮏ
ﰻ
ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ
ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ
ﭬ ﭭ ٧٨ ٧٨ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ
ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ
ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ
ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ٧٩ ٧٩ ﮌ ﮍ ﮎ
ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ
ﮗ ﮘ ﮙ ٨٠ ٨٠ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ
ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ
ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ
ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ
ﯞ ﯟ ٨١ ٨١ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ
ﯧ ٨٢ ٨٢ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ
ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ٨٣ ٨٣
وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ
Hal itu karena maksud dari al-Kitab adalah menjaga lafazhnya, tidak mengubahnya, memahami maksudnya dan memahamkannya, dan mereka itu membalik perkara, mereka menyampaikan apa yang tidak dimaksud oleh al-Kitab, baik secara lang-sung atau tidak. (As-Sa'di, 136).
Pertanyaan: Ayat ini menjelaskan sebuah bentuk penyelewengan dan mempermainkan kitab Allah. Jelaskan!
وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٨
Kata kerja dalam ayat ini hadir dalam bentuk fi’il mudhari’ untuk menunjukkan bahwa hal tersebut dilakukan mereka secara terus-menerus, dan bahwa itu adalah kebiasaan mereka. (Ibnu Asyur, 3/292).
Pertanyaan: Mengapa kata kerja dalam ayat ini hadir dalam bentuk fi’il mudhari’?
وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ
Penyelewengan ditafsirkan dengan penyelewengan redaksi yang diturunkan (Allah) dan penyelewengan takwil. Untuk yang kedua ini banyak sekali, beberapa kalangan dari umat ini melakukannya. Adapun yang pertama, maka ia terjadi pada banyak orang, mereka menyelewengkan lafazh-lafazh Rasul dan meriwayatkan hadits dengan riwayat-riwayat yang munkar. (Ibnu Taimiyah, 2/86).
Pertanyaan: Penyelewengan terhadap wahyu terbagi menjadi dua, sebutkan!
وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩
Yakni, mengikuti jalan Tuhan, dinisbatkan kepadaNya karena kesempurnaan ilmu yang dihiasi dengan amal, karena Rabbani adalah orang yang berpegang teguh kepada agama Allah dan menaatiNya dengan sangat kuat. (Al-Biqa'i, 2/118).
Pertanyaan: Apa sifat orang-orang rabbani?
وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩
Sa'id bin Jubair berkata tentang Rabbani, “Ulama yang mengamal-kan ilmunya.” Ada yang berkata, Orang Rabbani di atas ahbar. Ahbar adalah ulama, sedangkan Rabbani adalah orang-orang yang menyatukan kemampuan memimpin masyarakat di samping ilmu. (Al-Baghawi, 1/375).
Pertanyaan: Bagaimana kamu menjadi ulama Rabbani?
وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩
Faidah belajar adalah ilmu dan faidah ilmu adalah amal, dari sana lahir dorongan kepada kebaikan dan merasa diawasi oleh sang Pencipta. (Al-Biqa'i, 2/118).
Pertanyaan: Apa faidah belajar dan mencari ilmu?
وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلنَّبِيِّۧنَ لَمَآ ءَاتَيۡتُكُم مِّن كِتَٰبٖ وَحِكۡمَةٖ ثُمَّ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مُّصَدِّقٞ لِّمَا مَعَكُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِهِۦ وَلَتَنصُرُنَّهُۥۚ قَالَ ءَأَقۡرَرۡتُمۡ وَأَخَذۡتُمۡ عَلَىٰ ذَٰلِكُمۡ إِصۡرِيۖ قَالُوٓاْ أَقۡرَرۡنَاۚ قَالَ فَٱشۡهَدُواْ وَأَنَا۠ مَعَكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ٨١
Diriwayatkan dari beberapa salaf, Ali, Ibnu Abbas dan lainnya bahwa mereka berkata, “Allah tidak mengutus seorang nabi pun sejak Nabi Nuh kecuali Allah mengambil janjiNya atasnya, apabila Allah mengutus Nabi Muhammad sementara dia masih hidup, maka dia akan beriman kepadanya dan menolongnya. Allah memerintahkan nabi tersebut agar mengambil janji dari kaumnya, jika Nabi Muhammad diutus sementara mereka hidup, niscaya mereka akan beriman kepada beliau dan menolong beliau. (Ibnu Taimiyah, 2/88).
Pertanyaan: Jelaskan kedudukan Nabi Muhammad!