Quran
ﰃ
ﱖ
ﰃ
٣ ٣ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ٤ ٤ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ٥ ٥
ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ٦ ٦ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ٧ ٧ ﭳ ﭴ
ﭵ ﭶ ٨ ٨ ﭸ ﭹ ﭺ ٩ ٩ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ
١٠ ١٠ ﮃ ﮄ ﮅ ١١ ١١ ﮇ ﮈ ﮉ ١٢ ١٢ ﮋ
ﮌ ﮍ ١٣ ١٣ ﮏ ﮐ ﮑ ١٤ ١٤ ﮓ ﮔ ﮕ ١٥ ١٥
ﮗ ﮘ ١٦ ١٦ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ١٧ ١٧
ﰄ
٣ ٣ ﮬ ﮭ ﮮ ٤ ٤ ﮰ ﮱ ﯓ ٥ ٥ ﯕ
ﯖ ﯗ ٦ ٦ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ٧ ٧ ﯤ
ﯥ ٨ ٨ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ٩ ٩ ﯬ ﯭ ﯮ ١٠ ١٠
يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩
Apa yang tersimpan di dalam dada dikeluarkan dan ditampakkan, yaitu segala apa yang manusia rahasiakan berupa kebaikan dan keburukan, iman dan kekufuran. Ibnu Umar berkata, “Pada Hari Kiamat Allah memperlihatkan rahasia, sebagian darinya menghiasi wajah dan sebagian lainnya menodainya.” (Al-Qurthubi, 23/212-214).
Pertanyaan: Bagaimana rahasia-rahasia hamba ditampakkan pada Hari Kiamat?
يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩
Ungkapan untuk amal perbuatan yang dirahasiakan mengandung hikmah yang cermat, yaitu bahwa amal perbuatan adalah buah dari rahasia batin. Barangsiapa yang rahasia hatinya baik maka amalnya baik, rahasia hatinya akan nampak di wajahnya dalam bentuk cahaya, keceriaan dan rasa malu. Barangsiapa yang rahasia hatinya buruk, maka amalnya mengikuti rahasia hatinya, tidak ada pertimbangan bagi bentuk luarnya, rahasia hatinya nampak pada wajahnya hitam, gelap dan noda. Jika yang nampak di dunia adalah amal perbuatannya, bukan rahasia hatinya, namun di Hari Kiamat rahasia hatinya akan nampak, dan keputusan akan bergantung kepadanya. (Ibnul Qayyim, 3/388-389).
Pertanyaan: Apa urgensi memperbaiki rahasia hati?
فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ ١٠
Manusia yang kafir pada Hari Kiamat tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya dari azab Allah yang pedih, tidak mempunyai penolong yang menolongnya dari apa yang menimpanya, padahal di dunia dia mengandalkan kekuatan keluarganya, ber-lindung kepada mereka dari siapa yang hendak menimpakan keburukan atasnya, dan mengandalkan penolong berupa sekutu yang membantunya melawan orang yang menindas atau menzhaliminya. (Ath-Thabari, 24/359).
Pertanyaan: Jelaskan sisi dinafikannya kekuatan dan penolong dari hamba kafir di Hari Kiamat!
إِنَّهُمۡ يَكِيدُونَ كَيۡدٗا ١٥ وَأَكِيدُ كَيۡدٗا ١٦
Dengan itu diketahui siapa yang menang. Manusia itu lemah dan remeh, sangat tidak mungkin menang melawan Dzat yang Mahakuat dan Mahaperkasa. (As-Sa’di, 920).
Pertanyaan: Orang-orang kafir senantiasa merencanakan kejahatan terhadap Islam dan kaum Muslim setiap saat. Siapakah yang menang menurut ayat yang mulia ini?
وَنُيَسِّرُكَ لِلۡيُسۡرَىٰ ٨
Kami memudahkanmu perbuatan-perbuatan baik dan perkataan-perkataan baik. Kami mensyariatkan untukmu syariat yang mudah, ringan, lurus, adil, tidak bengkok, tidak sulit dan tidak susah. (Ibnu Katsir, 4/501).
Pertanyaan: Ambillah kesimpulan tentang toleransi dan kemudahan Islam dari ayat yang mulia ini!
فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ ٩
Sampaikanlah peringatan pada siapa yang peringatan itu bermanfaat. Dari sinilah diambilnya adab dalam menyebarkan ilmu, agar tidak ada orang yang meletakkan ilmu pada orang yang tidak layak, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Ali, “Tidaklah Anda menyampaikan suatu perkataan yang tidak mampu dipahami oleh akal mereka, melainkan ia menjadi fitnah (malapetaka) bagi sebagian dari mereka.” Dia juga berkata, “Sampaikanlah kepada manusia apa yang mampu mereka pahami; apakah kalian ingin Allah dan RasulNya didustakan?” (Ibnu Katsir, 4/501).
Pertanyaan: Firman Allah, “Karena peringatan itu bermanfaat” menetapkan salah satu adab dalam mencari ilmu. Apa itu?
فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ ٩ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ ١٠
Mengambil pelajaran yang sempurna berarti terpengaruh oleh pelajaran. Jika seseorang mengingat sesuatu yang dicintainya, dia akan mencarinya, jika dia mengingat apa yang dibencinya, dia menjauh darinya. (Ibnu Taimiyah, 6/502).
Pertanyaan: Mengapa mengambil pelajaran dikaitkan dengan rasa takut?