Quran
ﯨ
ﱔ
ﭛ ١٧ ١٧ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ
ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ١٨ ١٨
ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ
ﭺ ﭻ ١٩ ١٩ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ
ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ٢٠ ٢٠ ﮉ ﮊ ﮋ
ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ
ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ
٢١ ٢١ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ
ﮩ ﮪ ﮫ ٢٢ ٢٢ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ
ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ
ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ٢٣ ٢٣ ﯣ ﯤ
ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ
ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ٢٤ ٢٤
ﯩ
وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ
Kata قَدَّمَتْ hadir dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja lampau) untuk mendorong manusia bergegas dalam beramal dan tidak menunda, karena dia hanya memiliki apa yang dilakukannya di zaman sebelumnya, sedangkan yang akan datang tidak berada di dalam tangannya, dia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.” [Luqman: 34]. (Asy-Syinqithi, 8/54).
Pertanyaan: Mengapa kata قَدَّمَتْ hadir dalam bentuk fi’il madhi?
وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ
Ayat yang mulia ini merupakan dasar dalam muhasabah seorang hamba terhadap dirinya, bahwa dia harus memeriksa dirinya. Apabila ada yang salah, maka dia memperbaikinya dengan meninggalkannya, bertaubat nasuha dan meninggalkan sebab-sebab yang membuatnya demikian. Jika ada kelalaian dalam melaksanakan perintah Allah, maka dia mengerahkan daya dan upayanya, memohon pertolongan kepada Tuhannya dalam memperbaiki, melengkapi, membaguskannya, membandingkan antara nikmat dan karunia Allah dengan kelalaiannya, hal itu membuatnya merasa malu kepada Allah. (As-Sa’di, 853).
Pertanyaan: Jelaskan tentang muhasabah diri melalui ayat ini!
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ
Maksud dari Allah membuatnya melupakan dirinya, yakni melupakan bagian-bagian dirinya yang mulia, sebab-sebab kebahagiaan, kebaikan dan keberuntungannya dan apa yang menyempurnakannya. Allah membuatnya melupakannya sehingga tidak terlintas dalam benaknya, tidak membuatnya mengingatnya, tidak membelokkannya keinginannya kepadanya lalu dia punya hasrat untuk meraihnya. Tidak terlintas di dalam benaknya sehingga dia tidak menginginkannya dan bermaksud melakukannya. Allah juga membuatnya melupakan aib-aib dirinya, kekurangannya dan penyakitnya, sehingga tidak terpikirkan olehnya untuk membersihkan diri darinya. (Ibnul Qayyim, 3/147).
Pertanyaan: Bagaimana seorang hamba melupakan dirinya sendiri?
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١٩
Seolah-olah pendengar bertanya, apa efek dari dibuatnya mereka melupakan diri mereka sendiri oleh Allah? Maka dijawab bahwa mereka mencapai puncak kefasikan dan amal-amal keburukan hingga patut bagi mereka untuk dikatakan tidak ada kefasikan di atas kefasikan mereka. (Ibnu Asyur, 28/114).
Pertanyaan: Apa efek dari dibuatnya mereka melupakan diri mereka sendiri oleh Allah?
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ
Ini adalah dorongan untuk merenungkan nasihat-nasihat al-Qur`an, menjelaskan bahwa tidak ada alasan dalam meninggalkan hal tersebut. Karena seandainya al-Qur`an ini ditujukan kepada gunung yang diberi akal, niscaya ia akan tunduk kepada nasihat-nasihatnya. Sekalipun ia kokoh kuat, kamu akan melihatnya tunduk dan hancur karena takut kepada Allah. (Al-Qurthubi, 20/388).
Pertanyaan: Adakah alasan bagi seseorang untuk tidak merenungkan al-Qur`an sesudah penjelasan ini?
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ ٢٢
Selanjutnya Allah menyusulkan bukti atas keesaanNya dalam uluhiyah dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun dengan FirmanNya, “Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.” Allah menyebutkan dalil keesaan ini di ayat-ayat lainnya. (Asy-Syinqithi, 8/68).
Pertanyaan: Apa dalil atas keesaan Allah dalam uluhiyahNya?
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ
Hadirnya nama, “Yang Menjaga Keamanan,” setelah nama-nama yang sebelumnya untuk menyempurnakan penepisan terhadap kesalahpahaman pihak yang menduga bahwa nama “Maharaja” bagi Allah berarti bahwa Allah sama dengan raja-raja dunia yang dikenal dengan kekurangan mereka, maka Allah menyatakan kesucian diriNya pertama kali dengan nama “Yang Mahasuci,” lalu menyatakan kesucian tindakanNya yang tidak nampak dari keburukan dan kejahatan dengan nama “Yang Menjaga Keamanan.” dan menyatakan kesucian tindakanNya yang tampak dari kezhaliman dan ketidakadilan dengan nama “Yang Mahasejahtera.” (Ibnu Asyur, 28/121).
Pertanyaan: Mengapa nama-nama “Mahasuci, Mahasejahtera dan Maha Memberi keamanan” hadir sesudah nama “Maharaja”?