Quran
ﯤ
ﱓ
ﭛ ٤٣ ٤٣ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ٤٤ ٤٤ ﭣ ﭤ
ﭥ ﭦ ٤٥ ٤٥ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ٤٦ ٤٦ ﭮ
ﭯ ﭰ ﭱ ٤٧ ٤٧ ﭳ ﭴ ٤٨ ٤٨ ﭶ ﭷ ﭸ
ﭹ ٤٩ ٤٩ ﭻ ﭼ ﭽ ٥٠ ٥٠ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ
٥١ ٥١ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ٥٢ ٥٢ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ
٥٣ ٥٣ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ
٥٤ ٥٤ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ٥٥ ٥٥ ﮟ ﮠ ﮡ
ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ٥٦ ٥٦ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ
٥٧ ٥٧ ﮮ ﮯ ﮰ ٥٨ ٥٨ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ
٥٩ ٥٩ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ٦٠ ٦٠ ﯞ ﯟ ﯠ
ﯡ ٦١ ٦١ ﯣ ﯤ ﯥ ٦٢ ٦٢ ﯧ ﯨ ﯩ
ﯪ ٦٣ ٦٣ ﯬ ٦٤ ٦٤ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ
٦٥ ٦٥ ﯳ ﯴ ﯵ ٦٦ ٦٦ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ٦٧ ٦٧
ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ٦٨ ٦٨ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ٦٩ ٦٩
هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٤٣ يَطُوفُونَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ حَمِيمٍ ءَانٖ ٤٤ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ٤٥
Ar-Raghib berkata, “Takut kepada Allah bukan takut yang terlintas di dalam benak, seperti rasa takut kepada singa, akan tetapi maksudnya adalah menahan diri dari kemaksiatan dan melakukan ketaatan. Ada yang berkata, belum dianggap takut kepada Allah siapa yang tidak meninggalkan dosa-dosa. (Al-Alusi, 14/115).
Pertanyaan: Bagaimana takut terhadap menghadap Allah?
وَلِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ ٤٦
Hanya Allah yang mengetahui kebagusan dan sifatnya, hingga bagian dalamnya yang menempel pada tanah dari sutera tebal, sutera terbaik dan termahal, lalu bagaimana dengan bagian luarnya? (As-Sa'di, 831).
Pertanyaan: Keindahan bagian dalam permadani, menunjukkan apa?
مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ فُرُشِۢ بَطَآئِنُهَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٖۚ
Buah yang dipetik di sana dekat, mudah dipetik. Diriwayatkan bahwa ahli surga memetik buah dalam keadaan apa pun, berdiri, duduk dan berbaring, karena apabila dia menginginkannya, ia merunduk. (Ibnu Juzay, 2/396).
Pertanyaan: Jelaskan dekatnya buah surga untuk penduduk surga!
وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ دَانٖ ٥٤
Sisi kesamaan dengan permata yaqut dan marajn pada warna kemerahan yang indah adalah merah pipinya, sebagaimana pipi disamakan dengan mawar. Kata merah juga dipakai untuk putih, di antaranya adalah hadits, “Aku diutus kepada kulit merah (putih) dan hitam.” (Ibnu Asyur, 2/270).
Pertanyaan: Apa sisi kesamaan bidadari surga dengan permata yaqut dan marjan?
كَأَنَّهُنَّ ٱلۡيَاقُوتُ وَٱلۡمَرۡجَانُ ٥٨
Makna ayat, balasan siapa yang berbuat baik dengan menaati Allah adalah bahwa Allah berbuat baik kepadanya dengan memberinya balasan surga. Ada kemungkinan makna ihsan di sini adalah apa yang Jibril tanyakan kepada Rasulullah, lalu beliau menjawab, “Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, bila kamu tidak melihatNya maka Dia melihatmu.” Ini adalah derajat muraqabah dan musyahadah (yakin diawasi dan disaksikan oleh Allah). Allah me-netapkan balasan ihsan tersebut dengan dua surga. Makna ini kuat bahwa Allah menjadikan dua surga ini untuk pemilik derajat yang tinggi dan menjadikan surga yang di bawahnya untuk selain mereka. (Ibnu Juzay, 2/396).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan ihsan di kedua tempat ini?
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ ٦٠
Allah berfirman tentang dua surga yang pertama, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Ini menunjukkan bahwa dua surga yang pertama adalah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik dan Allah tidak berfirman demikian untuk dua surga yang terakhir. Dengan pertimbangan-pertimbangan ini diketahui keunggulan dua surga yang pertama di atas dua surga yang akhir, keduanya disediakan untuk orang-orang yang dekat dengan Allah dari kalangan para nabi, shiddiqin dan hamba-hamba Allah khusus yang shalih sedangkan dua surga yang terakhir untuk orang-orang Mukmin. (As-Sa'di, 832).
Pertanyaan: Apa petunjuk Firman Allah pada dua surga yang pertama, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Dan Allah tidak menyebutkannya pada dua surga yang terakhir?
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ ٦٠
Lakukanlah amalan yang membuktikan bahwa kamu takut kepada Allah. “Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.”