Quran
ﯠ
ﱓ
٥٢ ٥٢ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ٥٣ ٥٣ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ
ﭫ ٥٤ ٥٤ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ٥٥ ٥٥ ﭳ ﭴ
ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ٥٦ ٥٦ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ
ﮁ ﮂ ٥٧ ٥٧ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ٥٨ ٥٨
ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ
٥٩ ٥٩ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ٦٠ ٦٠
ﯡ
ﮨ ٤ ٤ ﮪ ﮫ ٥ ٥ ﮭ ﮮ ٦ ٦ ﮰ
ﮱ ﯓ ﯔ ٧ ٧ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ٨ ٨ ﯛ ﯜ ﯝ
ﯞ ٩ ٩ ﯠ ﯡ ﯢ ١٠ ١٠ ﯤ ﯥ ﯦ
١١ ١١ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ١٢ ١٢ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ
ﯲ ﯳ ١٣ ١٣ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ١٤ ١٤
فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡ فَمَآ أَنتَ بِمَلُومٖ ٥٤ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٥
Kemudian manakala Allah memerintahkan Nabi agar berpaling dari mereka, Allah tetap memerintahkan beliau agar menasihati dan mengingatkan mereka dengan nasihat yang lebih baik. (Asy-Syaukani, 5/92).
Pertanyaan: Di dalam perintah untuk memperingatkan sesudah perintah untuk berpaling dari mereka terkandung faidah dari sisi dakwah. Jelaskan!
وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٥
Ayat ini hanya menyebutkan satu alasan di balik perintah untuk mengingatkan bahwa hanya orang-orang Mukmin mengambil manfaat dari peringatan, karena manfaatnya nyata terjadi, dan untuk menunjukkan perhatian khusus kepada orang-orang Mukmin saat ayat-ayat sedang menunjukkan bahwa kaum kafir tidak mendapat perhatian. Allah berfirman, “Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” [Al-A’la: 9-11]. (Ibnu Asyur, 27/24).
Pertanyaan: Mengapa ayat ini hanya menyebutkan satu alasan -bahwa hanya kaum Muslimin yang mengambil manfaat darinya- di balik perintah untuk mengingatkan?
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Didahulukannya jin dalam ayat ini untuk lebih memperhatikan berita ini yang aneh bagi sebagian kaum musyrikin yang menyembahnya, supaya mereka sadar bahwa jin adalah hamba-hamba Allah. (Ibnu Asyur, 27/28).
Pertanyaan: Apa hikmah didahulukannya jin pada ayat yang ini?
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨
Di antara bentuk kekuatannya adalah bahwa Dia menyampaikan rezekiNya kepada seluruh alam. (As-Sa'di, 813).
Pertanyaan: Apakah hubungan disebutkannya sifat kuat sesudah rezeki?
وَٱلطُّورِ ١ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ٢ فِي رَقّٖ مَّنشُورٖ ٣ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ٤ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ٥ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ٦ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ٧ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ٨
Pada suatu malam Umar ronda di Madinah, dia melewati rumah seorang laki-laki dari kaum Muslimin yang kebetulan sedang shalat. Umar berhenti mendengar bacaannya. Laki-laki itu membaca, “Demi gunung (Sinai),” hingga, “sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya.” Maka Umar berkata, “Demi Tuhan Ka’bah, ini adalah sumpah yang benar.” Kemudian dia turun dari keledainya dan bersandar ke dinding, dia diam beberapa saat kemudian pulang ke rumahnya. Sebulan lamanya dia dijenguk oleh orang-orang namun mereka tidak mengetahui dia sakit apa. (Ibnu Katsir, 4/242).
Pertanyaan: Apakah tadabbur al-Qur`an mungkin dicapai dengan cara mendengar? Jelaskan hal ini!
وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ٤
Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah dari seorang laki-laki dari kaumnya, dia berkata, Nabi bersabda, “Baitul Ma’mur diperlihatkan kepadaku. Aku bertanya, 'Wahai Jibril, itu apa?' Dia menjawab, 'Itu adalah Baitul Ma’mur, dimasuki setiap harinya oleh tujuh puluh ribu malaikat, bila mereka telah keluar darinya, mereka tidak akan pernah memasukinya lagi'.” (Ath-Thabari, 22/455).
Pertanyaan: Baitul Ma’mur mempunyai kedudukan tinggi. Apa dalilnya?
فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ١١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ١٢
Ayat ini menyebutkan amal dan ilmu yang mereka punyai, yaitu perkataan yang batil dan main-main, usaha sia-sia, tidak ada ilmu yang bermanfaat, tidak ada amal shalih, ilmu mereka hanya membahas kebatilan, sedangkan amal mereka hanya main-main saja. (Ibnul Qayyim, 2/55).
Pertanyaan: Apa sifat yang menonjol dari orang-orang yang mendustakan yang tersebut di dalam ayat ini?