Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


١٦ ١٦

١٧ ١٧


١٨ ١٨

ﭿ

١٩ ١٩



٢٠ ٢٠



٢١ ٢١

٢٢ ٢٢
52
Al-Imran Ayat 0 - 17

ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡمُنفِقِينَ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ ١٧

Dikhususkannya istighfar pada waktu sahar, karena doa pada waktu itu lebih dekat untuk dikabulkan, ibadah pada saat itu lebih khusyu’, jiwa lebih bersih dan konsentrasi lebih fokus. (Al-Alusi, 3/102).
Pertanyaan: Mengapa waktu sahar dikhususkan dengan istighfar?

Al-Imran Ayat 0 - 17

ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡمُنفِقِينَ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ ١٧

Mereka menghidupkan malam dengan shalat, kemudian mereka duduk di waktu sahar memohon ampun kepada Allah, mereka menutup qiyamul lail dengan memohon ampun. (Ibnu Taimiyah, 2/39).
Pertanyaan: Dengan apa ibadah ditutup?

Al-Imran Ayat 0 - 18

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١٨

Ayat ini merupakan dalil bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu Tauhid, karena Allah menyatakannya untuk diriNya, dan mempersaksikan makhluk-makhlukNya yang khusus dengannya, kesaksian tidak terwujud kecuali berdasarkan ilmu dan keyakinan, seperti kedudukan kesaksian yang berpijak kepada mata penglihatan. (As-Sa'di, 125).
Pertanyaan: Apa kedudukan ilmu Tauhid? Bagaimana kamu menggunakan ayat ini sebagai dalil atas apa yang kamu katakan?

Al-Imran Ayat 0 - 18

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١٨

Ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dari banyak sisi. Di antaranya, Allah menyandingkan kesaksian para ulama dan para malaikat dengan kesaksian DiriNya dan itu sudah cukup sebagai keutamaan. Di antaranya, Allah menjadikan mereka sebagai saksi-saksi dan hujjah atas manusia dan mewajibkan manusia mengamalkan perkara yang mereka persaksikan, jadi mereka adalah sebab dalam hal itu, maka dengan setiap amal yang dikerjakan, mereka mendapatkan bagian pahalanya dan itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Di antaranya, bahwa pengakuan Allah terhadap kesaksian para ulama, berarti Allah menyucikan mereka dan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang adil, bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Allah atas perkara yang Allah serahkan kepada mereka. (As-Sa'di, 125).
Pertanyaan: Ayat ini menunjukkan kemuliaan para ulama dari beberapa sisi, jelaskan!

Al-Imran Ayat 0 - 19

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بَِٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ١٩

Sebab persatuan dan kesatuan adalah menyatukan agama seluruhnya dan mengamalkan seluruhnya, yaitu ibadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, sebagaimana yang Allah perintahkan lahir dan batin. Sedangkan sebab perpecahan adalah meninggalkan apa yang Allah perintahkan kepada hamba dan kedengkian di antara mereka. Buah berjamaah adalah rahmat Allah, ridha dan shalawatNya, kebahagiaan dunia dan akhirat, wajah yang bersinar terang. Hasil perpecahan adalah azab dan laknat Allah, wajah yang menghitam dan bahwa Rasulullah berlepas diri dari mereka. (Ibnu Taimiyah, 2/55).
Pertanyaan: Apa sebab persatuan dan apa sebab perpecahan di tubuh umat?

Al-Imran Ayat 0 - 19

وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بَِٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ١٩

Allah mengabarkan bahwa mereka berselisih sesudah mereka mengetahui kebenaran karena kedengkian, yaitu hasad di antara mereka. (Ibnu Juzay, 1/139).
Pertanyaan: Ayat menjelaskan sebab perselisihan. Apa itu?

Al-Imran Ayat 0 - 21

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡفُرُونَ بِٔاَيَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقۡتُلُونَ ٱلنَّبِيِّۧنَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَيَقۡتُلُونَ ٱلَّذِينَ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡقِسۡطِ مِنَ ٱلنَّاسِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ٢١

Ayat ini menunjukkan bahwasanya amar ma’ruf dan nahi mungkar diwajibkan pada umat-umat terdahulu. (Al-Qurthubi, 5/73).
Pertanyaan: Jelaskan keagungan syiar amar ma’ruf dan nahi mungkar!