Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan



٢٣ ٢٣

ﭿ ٢٤ ٢٤


٢٥ ٢٥

٢٦ ٢٦

٢٧ ٢٧


٢٨ ٢٨

٢٩ ٢٩

٣٠ ٣٠


٣١ ٣١

٣٢ ٣٢
501
Al-Jatsiyah Ayat 0 - 23

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٣

“Menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” Dia menaati hawa nafsunya hingga ia seperti tuhannya. (Ibnu Juzay, 2/328).
Pertanyaan: Bagaimana hawa nafsu menjadi sesembahan selain Allah?

Al-Jatsiyah Ayat 0 - 23

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٣

Ayat ini mengandung celaan terhadap hawa nafsu. Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah Allah menyebutkan hawa nafsu kecuali Dia mencelanya.” Wahab berkata, “Jika kamu tidak mengetahui mana dari dua perkara yang lebih baik, maka lihatlah yang paling jauh dari hawa nafsumu, lakukanlah ia.” Sahal at-Tustari berkata, “Hawa nafsumu adalah penyakitmu, bila kamu menyelisihinya, maka itu adalah obatnya.” (Al-Alusi, 25/209).
Pertanyaan: Bagaimana seharusnya orang yang berakal bersikap terhadap kemungkaran dan kemaksiatan yang diinginkan oleh nafsunya?

Al-Jatsiyah Ayat 0 - 23

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٣

Ayat ini merupakan dasar peringatan atas tindakan menjadikan hawa nafsu sebagai pendorong bagi orang-orang Mukmin dalam beramal dan meninggalkan dalil yang benar. Bila seseorang mencintai kebenaran, maka hal itu termasuk berhias diri dengan akhlak cinta kepada kebenaran berdasarkan dalil, seperti kecintaan seorang Mukmin terhadap shalat, jamaah, qiyam Ramadhan dan tilawah al-Qur`an. Di dalam hadits disebutkan, “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat,” maksudnya, mendirikan shalat. Adapun mengikuti sesuatu yang dicintai demi memuaskan diri tanpa melihat kebaikan dan keburukannya, maka itu adalah sebab kesesatan dan penyimpangan. (Ibnu Asyur, 25/259).
Pertanyaan: Ayat yang mulia ini menetapkan sebuah dasar penting dalam urusan mengikuti hawa nafsu. Apa itu?

Al-Jatsiyah Ayat 0 - 25

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥

Permintaan mereka agar nenek moyang mereka dihidupkan tidak dikabulkan, sebagai pemuliaan untuk umat ini karena kemuliaan Nabi umat ini. Karena Sunnah Allah yang berlaku adalah bahwa siapa yang tidak beriman sesudah datangnya mukjizat yang diminta maka Allah membinasakan mereka, sebagaimana Allah  lakukan terhadap umat-umat sebelumnya. (Al-Biqa’i, 7/107).
Pertanyaan: Di antara bentuk pemuliaan Allah kepada umat ini adalah menolak usulan kaum musyrikin agar nenek moyang mereka dihidupkan. Jelaskan hal itu!

Al-Jatsiyah Ayat 0 - 25

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥

Az-Zamakhsyari berkata, “Jika kamu bertanya, perkataan mereka bukan hujjah, mengapa ayat ini menyebutnya hujjah? Kami jawab, Karena mereka menyodorkannya layaknya orang yang berhujjah menyodorkan hujjahnya, mereka memaparkannya sebagai hujjah. Dinamakaan hujjah untuk mengejek mereka. Atau dalam perkiraan dan persangkaan mereka bahwa itu adalah hujjah. Atau seolah-olah dikatakan, hujjah mereka tidak lain hanyalah sesuatu yang bukan hujjah. Maksudnya menafikan bahwa mereka sama sekali tidak punya hujjah. (Al-Qurthubi, 19/167).
Pertanyaan: Mengapa Allah menyebut ucapan mereka sebagai hujjah?

Al-Jatsiyah Ayat 0 - 28

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ

Di atas lutut mereka karena takut, khawatir, menantikan keputusan Allah Maharaja lagi Maha Pengasih. (As-Sa’di, 778).
Pertanyaan: Mengapa umat-umat duduk berlutut pada hari kiamat?

Al-Jatsiyah Ayat 0 - 30

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ٣٠

Ayat ini dimulai dengan rincian tentang orang-orang Mukmin padahal konteksnya adalah membicarakan pengusung kebatilan di dalam Firman Allah, “Akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (dosa)” demi memuliakan orang-orang Mukmin, menyegerakan kebahagiaan mereka dan menyegerakan kesedihan para penentang. (Ibnu Asyur, 25/371).
Pertanyaan: Bentuk pemuliaan Allah kepada orang-orang Mukmin bermacam-macam, jelaskan salah satunya dari ayat ini!