Quran
ﯔ
ﱐ
ﭛ ٤٨ ٤٨ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ
ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ
ﭱ ﭲ ﭳ ٤٩ ٤٩ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ
ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ٥٠ ٥٠ ﮁ ﮂ
ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ
ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ٥١ ٥١ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ
ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ
٥٢ ٥٢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ
ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ
ﯙ ﯚ ٥٣ ٥٣ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ
ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ٥٤ ٥٤ ﯪ ﯫ
ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ
ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ٥٥ ٥٥ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ
ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ٥٦ ٥٦
وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ٤٨
Kata كَسَبُوْا dipilih bukan fi’il عَمِلُوْا untuk memutuskan keluh kesah mereka terhadap azab, bahwa merekalah yang melakukan sebab-sebab azab tersebut, sebagaimana yang telah hadir dalam Firman Allah, "Dan katakanlah kepada orang-orang yang zhalim, 'Rasakanlah oleh kalian balasan apa yang telah kalian usahakan'." [Az-Zumar: 24]. Bukan تَعْمَلُوْنَ. (Ibnu Asyur, 24/34).
Pertanyaan: Mengapa ayat mendatangkan kata كَسَبُوْا dan bukan kata عَمِلُوْا?
فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا
Ayat ini mengandung penjelasan tentang sebuah hakikat, bahwa orang-orang kafir Quraisy beriman kepada Allah sebagai Tuhan, mereka masih lebih baik dibandingkan dengan orang-orang kafir atheis yang tidak beriman kepada Allah, sebagaimana orang-orang kafir Quraisy lebih baik keadaannya daripada sebagian kaum Muslimin yang jahil di zaman ini, karena mereka mengikhlaskan doa kepada Allah dalam keadaan sulit, sedangkan kaum Muslimin yang jahil di zaman ini menyekutukan Allah dalam keadaan mudah dan sulit sekaligus, hal itu dengan berdoa kepada wali-wali dan orang-orang yang mati, beristighatsah kepada mereka dalam segala keadaan. (Al-Jaza`iri, 4/498).
Pertanyaan: Mengapa kaum kafir Quraisy lebih lebih baik keadaannya daripada sebagian kaum Muslimin yang jahil di zaman ini?
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۢ
Ini mengandung dua makna: Yang pertama, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksudnya aku mendapatkan ini karena aku lihai dan pandai dalam mencari uang. Yang kedua, aku mendapatkannya karena Allah mengetahui bahwa aku memang laik. (Ibnu Juzay, 2/271).
Pertanyaan: Ayat menunjukkan kesombongan pemilik harta. Jelaskan!
ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۢ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٤٩
Yakni, Allah mengetahui bahwa aku memang pantas mendapatkannya. Muqatil berkata, “Karena aku memang baik dan Allah mengetahui itu.” Padahal nikmat tersebut adalah ujian, cobaan dan istidraj dari Allah. (Al-Baghawi, 4/21).
Pertanyaan: Apakah semua rizki dan kenikmatan itu baik bagi seseorang? Jelaskan hal itu melalui ayat!
بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٤٩
"Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," karena itu mereka menganggap cobaan adalah karunia, mereka tidak membedakan mana yang merupakan kebaikan murni dan apa yang menjadi sebab kebaikan dan keburukan sekaligus. (As-Sa’di, 727).
Pertanyaan: Apa bahaya kenikmatan atas manusia bodoh yang lalai?
أَوَ لَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥٢
Melapangkan dan menyempitkan rezeki berpulang kepada hikmah Allah dan rahmatNya, bahwa Allah lebih mengetahui keadaan hamba-hambaNya, terkadang Allah menyempitkan rezeki seseorang karena kasih sayangNya, karena seandainya Allah melapangkan, maka ia bisa merusaknya, maka dalam hal ini adalah menimbang kebaikan agamanya yang merupakan bahan utama untuk kebahagiaan dan keberuntungannya. (As-Sa’di, 727).
Pertanyaan: Bagaimana sempitnya rezeki menjadi sebab kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya dan rahmatNya kepada mereka?
۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣
Ayat-ayat ancaman dihadirkan sebelumnya secara panjang sehingga ia melahirkan rasa takut dan cemas di dalam jiwa orang-orang yang mendengarnya, sekalipun mereka menampakkan seolah-olah tidak memperhatikannya, ancaman-ancaman tersebut mungkin membuat mereka berputus asa sehingga tidak melakukan usaha untuk menyela-matkan diri mereka darinya, maka Allah menghadirkan sesuatu yang menggugah rasa harap pada jiwa mereka untuk mengeluarkan mereka kepada keselamatan. Hal ini sejalan dengan kebiasaan kitab al-Qur`an yang mulia ini yang mengobati jiwa manusia dengan penggabungan antara targhib dan tarhib. (Ibnu Asyur, 24/39).
Pertanyaan: Apa hubungan ayat dengan yang sebelumnya?