Quran
ﮪ
ﱍ
ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ٢٥ ٢٥ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ
ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ٢٦ ٢٦ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ
ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ
ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ٢٧ ٢٧ ﮂ ﮃ ﮄ
ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ
ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ
ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ
ﮞ ٢٨ ٢٨ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ
ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ٢٩ ٢٩ ﯔ
ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ
ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ
ﯪ ﯫ ﯬ ٣٠ ٣٠ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ
ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ٣١ ٣١ ﯹ ﯺ ﯻ
ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ٣٢ ٣٢
وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٧
Di antara sifat Allah yang Mahatinggi adalah keperkasaan dan kebijaksanaanNya. Keduanya disebutkan secara khusus karena dampak dari keduanya nampak pada tema yang diperbincangkan, yaitu memulai penciptaan dan pengembaliannya. Perkasa mengandung kekayaan mutlak, mengandung kuasa mutlak, sedangkan bijaksana berarti keumuman ilmu. (Ibnu Asyur, 21/84).
Pertanyaan: Mengapa Mahaperkasa dan Maha Bijaksana disebutkan secara khusus di dalam ayat yang mulia ini?
وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ
Yakni, menghidupkan kembali makhluk sesudah kematian mereka adalah lebih mudah bagi Allah daripada menciptakan mereka dari awal. Dan ini berdasarkan pertimbangan akal dan pikiran. Apabila Allah Mahakuasa untuk menciptakan makhluk dari awal dan kalian mengakuinya, maka kuasaNya untuk mengembalikan mereka lebih mudah bagiNya. (As-Sa’di, 640).
Pertanyaan: Cara menjawab secara logis hadir di dalam al-Qur`an. Jelaskan hal ini melalui ayat!
كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ٢٨
Orang-orang yang berakal adalah orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berpaling dari kebenaran, mereka mencari kebenaran dan hakikat sebenarnya karena kesempurnaan akal mereka. Maka keyakinan orang-orang Mukmin meningkat, dan orang-orang yang lalai serta orang-orang yang sempat terkecoh oleh kesesatan kaum musyrikin terjaga dari kelalaian mereka, kemudian mereka melihat kebenaran dengan bukti-bukti yang nyata ini. Ini mengandung sindiran terhadap sebagian orang yang jumud (stagnan) mempertahankan kesyirikan mereka, bahwa mereka bukanlah orang-orang yang berakal dan bukan orang-orang yang mengambil manfaat. (Ibnu Asyur, 21/87).
Pertanyaan: Apa sifat-sifat yang paling penting dari orang-orang yang berakal?
كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ٢٨
Orang yang tidak berakal, seandainya ayat-ayat dijelaskan kepada mereka, keterangan-keterangan disodorkan kepada mereka, dia tetap tidak mempunyai akal untuk memikirkan apa yang jelas, tidak mempunyai pikiran untuk memahami apa yang nyata. Hanya kepada orang-orang yang berakal sajalah perkataan disodorkan dan pembicaraan diarahkan. (As-Sa’di, 640).
Pertanyaan: Mengapa hanya orang-orang yang berakal yang diajak berbicara?
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Allah menyatakan bahwa Islam adalah fitrahNya, artinya bahwa dasar akidah Islam berjalan sesuai dengan fitrah dan akal. Adapun pensyariatan dan cabang-cabangnya maka ia adalah perkara-perkara fitrah, yakni berjalan sesuai dengan apa yang diakui dan dibenarkan oleh akal, atau untuk kebaikan yang tidak bertentangan dengan fitrah. (Ibnu Asyur, 21/91).
Pertanyaan: Apa makna disifatinya Islam dengan fitrah?
۞مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢
Bila mereka berbeda pendapat di dalam urusan agama, perbedaan yang merupakan tuntutan ijtihad, atau mereka berbeda pendapat dalam pikiran dan pengaturan karena perbedaan kebiasaan, maka hendaknya mereka mewaspadai jangan sampai perbedaan tersebut membuat mereka menjadi golongan-golongan yang terbecah belah. (Ibnu Asyur, 21/96).
Pertanyaan: Apa faidah yang dipetik kaum Muslimin dari celaan terhadap ahli kitab bahwa mereka memecah belah agama mereka?
مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢
Golongan-golongan, yakni kelompok-kelompok yang saling berafiliasi di mana setiap kelompok dari mereka mendukung pihak yang mengikuti ajaran mereka atas pihak yang menyelisihi mereka, sehingga sebagian dari mereka mengkafirkan sebagian lainnya, menghalalkan darah dan harta mereka, dari sini diketahui bahwa mereka semuanya bukan di atas kebenaran. Mereka membanggakan, karena mereka menyangka bahwa mereka di atas kebenaran dan mendapatkannya, adapun selain mereka maka tidak. (Al-Biqa’i, 15/90-91).