Quran
ﮩ
ﱌ
ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ٣٩ ٣٩
ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ
ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ
ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ
ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ٤٠ ٤٠ ﭿ ﮀ
ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ
ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ
ﮑ ﮒ ﮓ ٤١ ٤١ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ
ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ٤٢ ٤٢ ﮣ
ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ
٤٣ ٤٣ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ
ﯗ ﯘ ٤٤ ٤٤ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ
ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ
ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ٤٥ ٤٥
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتٗاۖ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٤١
Al-Farra` mengatakan, “Ini adalah perumpamaan yang Allah buat untuk siapa yang menyembah sesembahan-sesembahan selainNya, yang tidak kuasa mendatangkan manfaat dan mudarat baginya, seperti rumah laba-laba yang tidak melindunginya dari panas dan dingin. Seandainya mereka mengetahui bahwa menyembah berhala itu se-perti menjadikan rumah laba-laba yang tidak berguna apa pun, dan bahwa ini adalah perumpamaan bagi apa yang mereka sembah. (Al-Qurthubi, 16/363).
Pertanyaan: Jelaskanlah sisi kesamaan antara rumah laba-laba dengan kuburan dan tempat-tempat keramat yang disembah selain Allah!
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتٗاۖ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٤١
Kaum musyrikin seperti laba-laba, tertipu dengan apa yang dilakukannya. Sesembahan-sesembahan mereka adalah seperti laba-laba, tidak memberi guna apa pun saat dibutuhkan dan ia hancur dengan sedikit tindakan perusakan. (Ibnu Asyur, 20/252).
Pertanyaan: Apa sisi kemiripan antara orang-orang musyrik dan sesembahan mereka dengan laba-laba rumahnya?
وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣
"Tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu", mereka adalah orang-orang yang mengetahui, bukan orang-orang bodoh lagi dungu. Ini mengandung sindiran bahwa orang-orang yang tidak mengambil faidah darinya adalah orang-orang yang berakal bodoh, apalagi dengan orang-orang yang tidak mau merenungkannya dan malah menjadikannya sebagai bahan ejekan dan olok-olok. (Ibnu Asyur, 20/256).
Pertanyaan: Apa bahaya tidak merenungkan perumpamaan al-Qur`an?
وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣
Bahwa perumpamaan-perumpamaan yang Allah buat dalam al-Qur`an hanyalah untuk perkara-perkara besar, tujuan-tujuan luhur, masalah-masalah penting, ahli ilmu mengetahui bahwa ia lebih penting dari selainnya karena Allah memperhatikannya? Dan mendorong hamba-hambaNya untuk merenungkan dan memahaminya, maka mereka mengerahkan segala usaha untuk mengetahuinya. (As-Sa'di, 631).
Pertanyaan: Mengapa mengetahui perumpamaan-perumpamaan dikhususkan bagi orang-orang yang mengetahui?
ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ
Memperbanyak membaca al-Qur`an menambah kekuatan bashirah, membuka rahasia-rahasia ilmunya, ia lebih mulia daripada sekedar memberi pembacanya faidah, lebih berharga sehingga tidak menganugerahi pembacanya ilmu, membuka hijabnya dari pengetahuan-pengetahuannya yang berharga pada kali pertama. Bahkan setiap kali pembacanya mengulang-ulang bacaan disertai tadabur, maka ia akan memberinya hakikat rahasia-rahasianya, bila pembacanya meningkat-kannya, maka ia akan semakin mendapatkan cahaya-cahayanya, sehingga pembacanya memastikan bahwa keajaiban-keajaibannya tidak pernah berhenti dan keunikan-keunikannya tidak pernah habis. (Al-Biqa'i, 14/447).
Pertanyaan: Kapan seorang Muslim mengambil faidah dari membaca al-Qur`an?
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
Sebagian salaf bila dia hendak berdiri shalat, dia gemetar dan wajahnya pucat, dia ditanya tentang sebabnya, dia menjawab, “Karena aku akan berdiri di depan Allah. Kalau hal ini patut terjadi padaku di depan raja dunia, apalagi di hadapan Raja pararaja?” Shalat seperti ini mencegah dan pasti dari perbuatan keji dan mungkar. Namun barangsiapa yang shalatnya hanya mengejar hukum sah, tidak ada khusyu’ padanya, tidak ada mengingat dan tidak ada keutamaan, seperti shalat kita, dan seandainya ia memang cukup, maka shalat tersebut tidak berbekas pada pelakunya, dia seperti sediakala. (Al-Qurthubi, 16/367).
Pertanyaan: Apa bentuk shalat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
Bila orang yang shalat mampu khusyu’ di dalam shalatnya, mengingat keagungan Allah yang dia berdiri di hadapannya, maka hal itu akan mendorongnya untuk bertaubat dari perbuatan keji dan mungkar, jadi shalat mencegah dari perbuatan tersebut. (Ibnu Juzay, 2/160).
Pertanyaan: Bagaimana shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?