Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan



٦٨ ٦٨

٦٩ ٦٩

ﭿ
٧٠ ٧٠

٧١ ٧١

٧٢ ٧٢

٧٣ ٧٣


٧٤ ٧٤

٧٥ ٧٥

٧٦ ٧٦

٧٧ ٧٧
Surah Header

366
Al-Furqan Ayat 0 - 68

وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا ٦٨

Dosa besar yang paling besar ada tiga. Kufur kemudian membunuh tanpa alasan yang benar kemudian zina, sebagaimana yang Allah susun di dalam ayat ini. Dalam ash-Shahihain dari hadits Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, aku bertanya, “Ya Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab, “Kamu mengangkat sekutu bagi Allah padahal Allah yang menciptakanmu.” Aku bertanya, ‘Kemudian apa?” Rasulullah menjawab, “Kamu membunuh anakmu karena kamu khawatir dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya, ‘Kemudian apa?” Rasulullah menjawab, “Kamu menzinai istri tetanggamu.” Urutan ini memiliki sisi alasan yang logis, yaitu bahwa kekuatan manusia ada tiga, kekuatan akal, kekuatan amarah dan kekuatan syahwat. (Ibnu Taimiyah, 5/21-22).
Pertanyaan: Mengapa dosa-dosa besar di dalam ayat ini diurutkan sedemikian rupa; syirik, membunuh kemudian zina?

Al-Furqan Ayat 0 - 70

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ

Keburukan-keburukan di atas berubah menjadi kebaikan-kebaikan dengan taubat yang nasuha, hal itu tidak lain karena setiap kali dia mengingat masa lalunya, dia menyesal, beristighfar, beristirja’, maka dosa dengan pertimbangan ini berubah menjadi ketaatan, maka pada Hari Kiamat, sekalipun ia tetap tertulis atas, namun ia tidak merugikannya, ia berubah menjadi kebaikan di lembaran catatannya. (Ibnu Katsir, 3/316).
Pertanyaan: Melalui ayat ini, jelaskan keutamaan besar dari taubat yang baik!

Al-Furqan Ayat 0 - 72

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا ٧٢

“Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu,” yakni, kesaksian dusta, dari اَلشَّهَادَة (kesaksian). Ada yang berkata, Mereka tidak menghadiri majelis-majelis dusta dan sia-sia, menurut makna ini ia dari اَلْمُشَهَادَة menyaksikan dan menghadiri. Yang pertama lebih dekat. “Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah.” اَللَّغْوُ adalah perkataan buruk dengan berbagai macamnya. Makna, “mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,” yakni, mereka berpaling darinya, merasa malu, tidak ikut bersama mereka demi menyucikan diri mereka darinya. (Ibnu Juzay, 2/113).
Pertanyaan: Apa yang wajib atas Muslim manakala dia melewati majelis kemaksiatan atau perkataan yang buruk?

Al-Furqan Ayat 0 - 73

وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ٧٣

Mereka tidak berpaling dari ayat-ayat Allah, sebaliknya mereka menghadapkan diri dan hati mereka dengan menyimaknya. (Ibnu Juzay, 2/113).
Pertanyaan: Apa sifat yang sepatutnya bagi Muslim untuk dirinya manakala dia mendengar al-Qur`an?

Al-Furqan Ayat 0 - 74

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ

Mereka berdoa kepada Allah dengan doa paling sempurna yang berguna bagi mereka, yaitu kebaikan anak-anak dan istri-istri mereka, hal itu menuntut untuk mengajari mereka, menasihati dan mendidik mereka, karena siapa yang mengharapkan sesuatu dan berdoa kepada Allah agar mewujudkannya, maka dia akan mengusahakannya. (As-Sa'di, 588).
Pertanyaan: Berdoa agar anak-anak dan istri-istri menjadi shalih mengharuskan suatu hal. Apa itu?

Al-Furqan Ayat 0 - 74

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ

Al-Qurazhi berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan hati seorang Mukmin daripada melihat anak-anak dan istrinya taat kepada Allah.” (Al-Baghawi, 3/347).
Pertanyaan: Apa yang paling menyejukkan hati seorang Mukmin?

Al-Furqan Ayat 0 - 76

أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ٧٥ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٧٦

Semuanya ada sebelas sifat, tawadhu’, santun, tahajjud, khauf (takut), tidak boros, tidak kikir, menyucikan diri dari syirik, meninggalkan zina dan membunuh, bertaubat, tidak berdusta, memaafkan orang yang bersalah, menerima ajakan kebenaran, menampakkan kebutuhan kepada Allah dengan berdoa. (Ibnu Asyur, 19/84).
Pertanyaan: Sebutkan sifat-sifat mulia dalam ayat-ayat tentang Ibadurrahman dan berusahalah untuk mendidik dirimu di atasnya!