Quran
ﮥ
ﱊ
ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ
ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ٣ ٣ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ
ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ
ﭸ ٤ ٤ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ
ﮀ ﮁ ﮂ ٥ ٥ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ
ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ٦ ٦
ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ
ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ٧ ٧
ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ
ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ٨ ٨ ﯗ
ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ
ﯟ ٩ ٩ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ
ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ١٠ ١٠ ﯳ
ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ١١ ١١
وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا ٣
Allah menyebutkan di dalam ayat yang mulia ini bahwa tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum musyrikin memiliki enam sifat. Satu darinya sudah cukup menunjukkan dengan pasti bahwa menyembahnya bersama Allah tidak berdasar sama sekali, sebaliknya ia adalah puncak kezhaliman dan kebodohan besar. Pertama, ia tidak menciptakan apa pun, yakni tidak kuasa untuk menciptakan. Kedua, ia adalah makhluk, diciptakan oleh Pencipta segala sesuatu. Ketiga, ia tidak memiliki manfaat dan mudarat untuk dirinya sendiri. Keempat, kelima dan keenam, ia tidak mampu mematikan, menghidupkan dan membangkitkan sesudah kematian. (Asy-Syinqithi, 6/9).
Pertanyaan: Sebutkan sifat-sifat kekurangan yang ada pada sesembahan selain Allah?
قُلۡ أَنزَلَهُ ٱلَّذِي يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ
Apabila Allah mengetahui yang rahasia, maka yang tidak rahasia lebih diketahuiNya. (Al-Qurthubi, 15/369).
Pertanyaan: Mengapa ayat mengkhususkan rahasia dan tidak menyebutkan yang nampak?
وَقَالُوٓاْ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ٱكۡتَتَبَهَا فَهِيَ تُمۡلَىٰ عَلَيۡهِ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ٥ قُلۡ أَنزَلَهُ ٱلَّذِي يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّهُۥ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٦
“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” ini ajakan kepada mereka untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, kabar untuk mereka bahwa rahmat Allah luas, kesantunan Allah besar, barangsiapa bertaubat kepada Allah, maka Allah mengampuninya, Allah mengajak mereka, padahal mereka berdusta dan memalsukan, durhaka dan bohong, kufur dan menentang, berkata tentang Rasul dan al-Qur`an apa yang mereka katakan, Allah tetap mengajak mereka untuk bertaubat dan meninggalkan apa yang mereka pegang kepada Islam dan hidayah. (Ibnu Katsir, 3/299).
Pertanyaan: Mengapa ayat ini ditutup dengan “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”?
قُلۡ أَنزَلَهُ ٱلَّذِي يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّهُۥ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٦
Bila ada yang berkata, apa hubungan “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dengan apa yang sebelumnya? Maka jawabnya, sesudah Allah menyebutkan perkataan orang-orang kafir, Allah berfirman demikian untuk menjelaskan bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, di mana Dia tidak menyegerakan hukuman atas mereka, sebaliknya Dia menangguhkannya. Apabila mereka masuk Islam, Allah mengampuni mereka dan memaafkan. (Ibnu Juzay, 2/103).
Pertanyaan: Apa hubungan “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” dengan apa yang sebelumnya?
وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ل
Ayat ini menunjukkan bahwa ulama, ahli agama dan orang-orang shalih boleh masuk pasar menyelisihi pendapat yang menyatakan hal itu makruh. (Al-Alusi, 9/427).
Pertanyaan: Di antara penunjang besar seorang da'i adalah tawadhu’ (rendah hati) dan bergaul dengan orang-orang; bagaimana kamu mengambil faidah ini dari ayat?
وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Rasul ini',” maksud mereka adalah Nabi Muhammad, “menyantap makanan,” sebagaimana kami menyantapnya. “Dan berjalan di pasar-pasar,” mencari kehidupan sebagaimana kami mencarinya, karena itu dia tidak boleh berbeda dengan kenabiannya dari kami. Mereka berkata kepada Rasulullah, “Kamu bukan seorang raja dan bukan pula malaikat, karena kamu makan dan malaikat tidak makan, kamu bukan raja karena raja tidak keluyuran di pasar dan tidak melakukan hal rendahan.” Perkataan mereka itu rusak, karena Nabi makan makanan sebab beliau adalah manusia, dan beliau masuk pasar karena tawadhu’, ini adalah sifat beliau, hal itu tidak sedikit pun mencoreng kenabian beliau. (Al-Baghawi, 3/322).
Pertanyaan: Di antara tanda kebenaran seorang da'i adalah tawadhu’ dan realistis dalam berdakwah. Jelaskan hal itu!
بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ
Orang-orang itu berkata demikian karena mereka mendustakan dan menentang, bukan karena mereka ingin mendapatkan petunjuk dan bimbingan, sebaliknya karena mereka mendustakan Hari Kiamat, itulah yang membuat mereka berkata demikian. (Ibnu Katsir, 3/300).
Pertanyaan: Apa latar belakang dari perkataan dan tindakan kebanyakan orang-orang kafir?