Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

Surah Header

ﭦﭛﭣﭤ
١ ١ ٢ ٢
٣ ٣


٤ ٤

٥ ٥

ﭿ ٦ ٦


٧ ٧

٨ ٨


٩ ٩

١٠ ١٠

١١ ١١
305
Maryam Ayat 0 - 2

ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَبۡدَهُۥ زَكَرِيَّآ ٢

Allah menyifati Zakariya dengan ubudiyah sebagai penghargaan untuknya, pemberitahuan bahwa dia mempunyai kedudukan khusus dan dekat di sisi Allah. (Ibnu Juzay, 2/3).
Pertanyaan: Mengapa Allah menyifati Zakariya dengan ubudiyah?

Maryam Ayat 0 - 3

إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيّٗا ٣

“Yaitu tatkala dia berdoa kepada Tuhannya” berdoa kepadaNya. “Dengan suara yang lirih,” dia menyamarkannya karena dia mengetahui bahwa Allah mengetahui yang samar dan yang jelas, karena menyamarkan lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih jauh dari riya`, di samping agar orang-orang tidak mencibirnya karena masih menginginkan anak [pada-hal usianya sudah tua sekali]. (Ibnu Juzay, 2/3).
Pertanyaan: Dinyatakannya doa Zakariya dengan doa yang samar mengandung beberapa faidah. Sebutkan!

Maryam Ayat 0 - 4

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا

Dia bertawasul kepada Allah melalui kelemahan dan ketidakmampuannya, ini termasuk wasilah yang paling Allah cintai, karena ia menunjukkan bahwa pendoa melepaskan diri dari daya dan kekuatannya, menggantungkan hatinya kepada daya dan kekuatan Allah. (As-Sa'di, 489).
Pertanyaan: Doa Zakariya mengandung wasilah yang manjur dalam berdoa. Apa itu?

Maryam Ayat 0 - 4

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا ٤

Para ulama berkata, “Dianjurkan bagi pendoa untuk menyebut nikmat Allah kepadanya di dalam doanya dan sesuatu yang layak dengan ketundukan, karena ucapannya, “Sesungguhnya tuangku telah melemah” menampakkan ketundukan, dan ucapannya, “Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu” menunjukkan kebiasaan Allah yaitu menerima dan mengabulkan doa-doanya, yakni Engkau tidak pernah mengecewakanku jika aku berdoa kepadaMu, karena Engkau selalu menjawab doaku di masa lalu. (Al-Qurthubi, 13/409).
Pertanyaan: Jelaskan apa yang sepatutnya dilakukan oleh pendoa kepada Allah!

Maryam Ayat 0 - 6

وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا ٥ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ

Zakariya khawatir mereka melakukan hal-hal yang tidak baik pada ma-syarakat setelah kematiannya, maka dia meminta seorang anak kepada Allah sebagai nabi sesudahnya, agar anak tersebut memimpin mereka dengan kenabiannya menurut apa yang diwahyukan kepadanya, maka permintaannya dikabulkan, bukan karena Zakariya khawatir mereka akan mewarisi hartanya sepeninggalnya, karena kedudukan dan posisi seorang nabi lebih tinggi dan lebih mulia untuk sekedar mengkhawatirkan hartanya sedemikian rupa. (Ibnu Katsir, 3/109).
Pertanyaan: Apakah Nabi Allah Zakariya  mengkhawatirkan hartanya akan diambil oleh orang-orang sesudah kematiannya padahal mereka bukan ahli warisnya sebagaimana yang dikhawatirkan oleh ahli dunia di zaman ini dan apakah memang para nabi itu mewariskan harta?

Maryam Ayat 0 - 7

يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسۡمُهُۥ يَحۡيَىٰ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِيّٗا ٧

Kabar gembira ini mengandung tiga perkara. Pertama, doanya dikabulkan dan ini adalah karamah. Kedua, dia diberi anak dan ini adalah kekuatan. Ketiga, diberi nama secara khusus. (Al-Qurthubi, 13/417).
Pertanyaan: Apa kabar gembira yang Allah sampaikan kepada Zakariya sesudah dia berdoa dengan merendahkan diri?

Maryam Ayat 0 - 8

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا وَقَدۡ بَلَغۡتُ مِنَ ٱلۡكِبَرِ عِتِيّٗا ٨

Zakariya takjub dan heran akan memiliki anak padahal dia sudah berusia sangat lanjut dan istrinya mandul, maka dia meminta terlebih dulu karena dia mengetahui kekuasaan Allah dan dia takjub karena itu jarang terjadi dalam kebiasaan. Ada yang berkata, dia meminta saat dalam usia yang diharapkan bisa mempunyai anak dan dikabulkan beberapa tahun kemudian dalam usia yang sudah lanjut. (Ibnu Juzay, 2/4).
Pertanyaan: Bagaimana Zakariya takjub kepada kabar gembira anak dari Allah padahal dia memintanya?