Quran
ﮎ
ﰺ
ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ
ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ١٩١ ١٩١ ﭯ ﭰ
ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ١٩٢ ١٩٢ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ
ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ١٩٣ ١٩٣ ﮇ ﮈ
ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ
ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ
ﮞ ١٩٤ ١٩٤ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ
ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ١٩٥ ١٩٥ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ
ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ
ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ
ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ
ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ
ﰊ ﰋ ﰌ ﰍ ﰎ ﰏ ﰐ ﰑ ﰒ ﰓ ﰔ ﰕ ﰖ ﰗ
ﰘ ﰙ ﰚ ﰛ ﰜ ﰝ ﰞ ﰟ ﰠ ﰡ ١٩٦ ١٩٦
وَٱلۡفِتۡنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۚ
Yakni, fitnah yang ditimpakan atas orang Mukmin di dalam agamanya lebih berat baginya daripada pembunuhan terhadapnya. Ada yang berkata, Kekafiran orang-orang kafir lebih berat daripada pembunuhan yang dilakukan orang-orang Mukmin terhadap mereka di medan jihad. (Ibnu Juzay, 1/100).
Pertanyaan: Bagaimana ayat ini dijadikan dalil bahwa menjaga agama termasuk tujuan syariat?
وَٱلۡفِتۡنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۚ
Karena jihad berarti melayangnya nyawa dan terbunuhnya kaum lelaki, Allah mengingatkan bahwa apa yang mereka pegang berupa kekafiran kepada Allah, syirik kepadaNya dan menghalang-halangi dari jalanNya adalah lebih berat, lebih besar dan lebih berbahaya daripada pembunuhan, karena itu Allah berfirman, “Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.” (Ibnu Katsir, 1/215-216).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan fitnah? Apa yang dimaksud dengan pembunuh-an dalam ayat? Mana dari keduanya yang lebih berat?
وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِۖ
Allah menyebutkan tujuan dari perang di jalanNya, bahwa tujuannya bukan menumpahkan darah orang-orang kafir, bukan untuk merampas harta mereka, akan tetapi maksudnya adalah agar agama seluruhnya hanya milik Allah, agama Allah mengungguli semua agama, menolak segala apa yang menentangnya berupa kesyirikan dan selainnya. (As-Sa'di, 89).
Pertanyaan: Ayat menunjukkan tujuan sebenarnya dari memerangi orang-orang kafir dan menepis apa yang dituduhkan oleh sebagian orang. Jelaskan hal itu!
فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَٱعۡتَدُواْ عَلَيۡهِ بِمِثۡلِ مَا ٱعۡتَدَىٰ عَلَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ
Karena pada umumnya jiwa manusia tidak berhenti pada batasnya manakala ia diberi izin untuk menghukum, karena jiwa cenderung melampiaskan dendamnya, maka Allah memerintahkan agar mereka berpegang kepada ketakwaan kepadaNya, yaitu berhenti pada batasan-batasanNya dan tidak melampauinya. (As-Sa'di, 90).
Pertanyaan: Mengapa Allah memerintahkan bertakwa saat membalas serangan?
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ١٩٤
Karena takwa itu berarti meninggalkan kepentingan diri, maka Allah mengabarkan kepada mereka bahwasanya Dia menjadi pengganti bagi mereka dari jiwa mereka karena ketakwaan mereka dan keteguhan mereka di atasnya, sehingga ia menjadi ciri mereka, maka Allah mengabarkan ma’iyah (kebersamaan)Nya kepada mereka. (Al-Biqa'i, 1/367).
Pertanyaan: Apa sebab ma’iyah Allah kepada orang-orang yang bertakwa di dalam ayat?
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ
Abu Ayyub berkata tentang ayat ini, “Ayat ini turun pada kami orang-orang Anshar, hal itu manakala Allah telah memuliakan agamaNya dan memenangkan RasulNya, kami berkata di antara sesama kami, ‘Kita telah meninggalkan keluarga dan harta kita hingga Islam menyebar dan Allah memenangkan NabiNya, seandainya kita kembali mengurusi keluarga dan harta kita, kita memperbaiki apa yang tersia-sia darinya.' Maka Allah menurunkan FirmanNya, “Dan infakkanlah (harta kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan.” Jadi maksud kebinasaan adalah tinggal untuk mengurusi keluarga dan harta serta meninggalkan jihad. (Al-Baghawi, 1/171).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kebinasaan?
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٩٥
Manakala infak adalah pilar pendukung jihad paling besar, kehidupan di awal Islam sempit, harta tidak banyak, hal ini mengharuskan setiap orang menahan apa yang ada di tangannya, karena dia menduga bahwa memegangnya adalah keselamatan, sebaliknya menginfakkannya adalah kebinasaan, maka Allah mengabarkan kepada mereka bahwa perkaranya bukan seperti yang dibisikkan oleh setan. “Setan menjanji-kan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan.” [Al-Baqarah: 268]. (Al-Biqa'i, 1/367).
Pertanyaan: Dengan apa keselamatan diraih? Dan dengan sebab apa kebinasaan terjadi ketika seruan jihad memanggil?