Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٦٤ ٦٤



ﭿ ٦٥ ٦٥



٦٦ ٦٦



٦٧ ٦٧



٦٨ ٦٨
ﯿ
٦٩ ٦٩
243
Yusuf Ayat 0 - 64

قَالَ هَلۡ ءَامَنُكُمۡ عَلَيۡهِ إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمۡ عَلَىٰٓ أَخِيهِ مِن قَبۡلُ فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ٦٤

Buruk sangka (su`u zhan) bila didasari adanya indikasi tidaklah dilarang dan tidak diharamkan. (As-Sa'di, 411).
Pertanyaan: Kapan su`u zhan dibolehkan?

Yusuf Ayat 0 - 64

فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ٦٤

Penjagaan Allah lebih baik daripada penjagaan kalian dan “Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Al-Baghawi, 2/476).
Pertanyaan: Sejauh mana keyakinan Nabi Ya’qub kepada Allah?

Yusuf Ayat 0 - 67

وَقَالَ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ

Ayat ini mengandung tindakan preventif dari tatapan mata jahat, dan tatapan mata jahat adalah benar adanya. Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya tatapan mata jahat bisa memasukkan seseorang ke dalam kubur dan unta ke dalam panci.” Dan beliau bersabda, “Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah dari setiap setan dan hewan berbisa, dan dari setiap tatapan mata jahat.” Ini menunjukkan adanya tatapan mata jahat. (Al-Qurthubi, 11/399).
Pertanyaan: Bagaimana cara seorang Mukmin menjaga diri dari tatapan mata jahat?

Yusuf Ayat 0 - 67

وَقَالَ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ وَمَآ أُغۡنِي عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٍۖ إِنِ

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang Muslim patut memperingatkan saudaranya dari sesuatu yang dikhawatirkan dan membimbingnya ke jalan keselamatan, karena agama adalah nasihat dan seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. (Al-Qurthubi, 11/403).
Pertanyaan: Bila kamu menduga ada bahaya yang akan menimpa saudaramu sesama Muslim, apa yang kamu lakukan?

Yusuf Ayat 0 - 67

وَقَالَ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ وَمَآ أُغۡنِي عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٍۖ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَعَلَيۡهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ٦٧

Dengan ini Nabi Ya’qub ingin mengajari anak-anaknya agar bersandar kepada Allah, pertolongan Allah dan taufikNya, dengan tetap melakukan sebab-sebab lahir yang nampak. Nabi Ya’qub bersopan santun kepada Allah Peletak sebab dan Yang menakdirkan karunia. (Ibnu Asyur, 13/21).
Pertanyaan: Apakah melakukan sebab-sebab bertentangan dengan tawakal? Jelaskan hal ini melalui ayat yang mulia!

Yusuf Ayat 0 - 68

مَّا كَانَ يُغۡنِي عَنۡهُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٍ إِلَّا حَاجَةٗ فِي نَفۡسِ يَعۡقُوبَ قَضَىٰهَاۚ وَإِنَّهُۥ لَذُو عِلۡمٖ لِّمَا عَلَّمۡنَٰهُ

Ia adalah tuntutan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak, sehingga itu membuatnya tenang, dan apa yang terbersit di dalam hatinya sudah ditunaikan. Ia bukan karena keterbatasan dalam ilmunya, karena beliau termasuk Rasul yang mulia dan ulama rabbani. Karena itu Allah  berfirman tentangnya, “Sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan,” yakni, ilmu yang luas. (As-Sa'di, 402).
Pertanyaan: Allah berfirman “Sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan,” dan sebelumnya Allah menyatakan bahwa taktik Ya’qub tidak bermanfaat apa pun. Apa hikmah di belakangnya?

Yusuf Ayat 0 - 68

وَإِنَّهُۥ لَذُو عِلۡمٖ لِّمَا عَلَّمۡنَٰهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٦٨

Yakni, dia melakukan apa yang dia lakukan atas dasar ilmu bukan karena kebodohan. Karena Kami memang meng­ajari­nya ilmu. Ada yang berkata, "Sesungguhnya dia mengamalkan apa yang dia ketahui." Sufyan berkata, “Siapa yang tidak mengamalkan ilmunya, maka dia bukan orang yang berilmu.” (Al-Baghawi, 2/503).
Pertanyaan: Kapan seseorang layak dikatakan berilmu?