Quran
ﮔ
ﱂ
ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ٤٦ ٤٦ ﭡ ﭢ
ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ
ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ٤٧ ٤٧ ﭴ ﭵ
ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ
ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ
ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ
ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ٤٨ ٤٨ ﮛ ﮜ
ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ
ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ٤٩ ٤٩ ﮯ
ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ
ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ٥٠ ٥٠ ﯞ
ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ٥١ ٥١
ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ
ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ٥٢ ٥٢
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦
Larangan berselisih berarti perintah untuk bersepakat, ini mengharuskan usaha mewujudkan sebab-sebab kesepakatan, saling memahami, saling bermusyawarah, berdiskusi di antara mereka sehingga mereka bisa bertindak atas dasar satu pendapat. Bila mereka berselisih dalam satu perkara, maka mereka kembali kepada pemimpin mereka berdasarkan Firman Allah, “Seandainya mereka mengembalikannya kepada Rasul dan ulil amri dari mereka.” [An-Nisa`: 83]. Dan Firman Allah, “Dan jika kalian berselisih dalam satu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.” [An-Nisa`: 59]. Larangan berselisih lebih umum daripada perintah untuk menaati ulil amri (pemegang otoritas), karena bila mereka dilarang untuk berselisih di antara mereka, maka berselisih dengan ulil amri lebih dilarang. (Ibnu Asyur, 10/30).
Pertanyaan: Sebutkan sebagian upaya untuk menghindari perselisihan!
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦
Berselisih mengakibatkan kekalahan karena ia memicu saling membenci, melenyapkan sikap saling tolong menolong di antara kaum Muslimin, sebagian dari mereka akan mengharapkan turunnya musibah atas sebagian lainnya, maka jiwa mereka akan sibuk dengan sebagian yang lain, tidak ada pendukung saat perang sedang sengit-sengitnya, umat tidak lagi fokus pada satu kesibukan yang berguna bagi mereka semuanya, pasukan kaum Muslimin tidak melangkah maju menghadapi musuh-musuh mereka, akibatnya musuh mengalahkan mereka. (Ibnu Asyur, 10/31).
Pertanyaan: Sebutkan tiga dampak negatif berselisih!
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ
Hendaknya tujuan keberangkatan kalian adalah mencari wajah Allah, meninggikan agamaNya, menutup jalan yang membawa kepada azab Allah dan murkaNya dan mengajak manusia ke jalan yang menyampaikan mereka kepada surga kenikmatan. (As-Sa'di, 323).
Pertanyaan: Jelaskan perbedaan antara keluar di jalan Allah dengan keluar untuk menghalang-halangi dari jalan Allah!
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٤٧
Makna الْبَطَرُ menurut bahasa adalah menggunakan nikmat Allah dan segala apa yang Dia berikan, untuk durhaka kepada Allah. (Al-Qurthubi, 10/42).
Pertanyaan: Apa Makna الْبَطَرُ yang dilarang oleh Tuhan untuk kita?
إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَۚ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٤٨
Allah mengabarkan bahwa setan takut kepada Allah dan hukuman hanya berlaku karena meninggalkan apa yang diperintahkan atau melakukan apa yang dilarang. (Ibnu Taimiyah, 3/218).
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٤٩
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah,” yakni, menyerahkan urusannya kepada Allah dan percaya kepadaNya, “maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” Mahakuat, mampu melakukan apa yang Dia kehendaki terhadap musuhNya. (Al-Baghawi, 2/231).
Pertanyaan: Takut kepada Allah tidak cukup untuk menolak azabNya hingga rasa takut itu diikuti melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Jelaskan hal ini!
وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ٥٠
Ini saat ajal kematian, para malaikat memukul wajah orang-orang kafir dan punggung mereka dengan cambuk dari api neraka. (Al-Baghawi, 2/231).
Pertanyaan: Bagaimana azab bagi orang-orang kafir saat kematian?