Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan



١٧ ١٧

١٨ ١٨

ﭿ
١٩ ١٩


٢٠ ٢٠

٢١ ٢١

٢٢ ٢٢

٢٣ ٢٣



٢٤ ٢٤

٢٥ ٢٥
179
Al-Anfal Ayat 0 - 17

فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ

Maksudnya bukan karena kekuatan dan daya kalian, kalian mampu membunuh musuh-musuh kalian, padahal mereka berjumlah banyak sementara jumlah kalian sedikit, akan tetapi Allah-lah yang membuat kalian menang atas mereka. (Ibnu Katsir, 2/283).
Pertanyaan: Kemenangan atas orang-orang kafir dan pembunuhan terhadap mereka dinisbatkan secara hakiki kepada siapa?

Al-Anfal Ayat 0 - 19

إِن تَسۡتَفۡتِحُواْ فَقَدۡ جَآءَكُمُ ٱلۡفَتۡحُۖ وَإِن تَنتَهُواْ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَإِن تَعُودُواْ نَعُدۡ وَلَن تُغۡنِيَ عَنكُمۡ فِئَتُكُمۡ

"Jika kalian meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepada kalian," ketika pasukan berhadap-hadapan di perang Badar, Abu Jahal -semoga Allah melaknatnya- berkata, “Ya Allah, siapa di antara kami yang paling memutuskan hubungan silaturahim dan yang datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang tidak kami ketahui, maka binasakanlah dia esok pagi.” Maka dialah yang berdoa untuk kehancuran dirinya sendiri. (Al-Baghawi, 2/206).
Pertanyaan: Allah senantiasa berlaku santun kepada hamba sampai hamba tersebut melakukan kejahatan atas dirinya sendiri. Jelaskan hal ini dari ayat!

Al-Anfal Ayat 0 - 19

وَلَن تُغۡنِيَ عَنكُمۡ فِئَتُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَوۡ كَثُرَتۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٩

Kebersamaan ini, yang dengannya Allah mendukung orang-orang Mukmin, kembali kepada amal-amal iman yang mereka lakukan. Bila musuh mengalahkan orang-orang Mukmin pada satu kesempatan, maka hal itu tidak lain kecuali karena kelalaian dari orang-orang Mukmin atau karena mereka tidak menunaikan kewajiban iman dan konsekuensinya, karena bila tidak, seandainya mereka menegakkan amal-amal iman dengan benar, niscaya tidak ada panji mereka yang terkalahkan secara terus menerus, tidak pula musuh berkuasa atas mereka. (As-Sa'di, 217-318).
Pertanyaan: Bagaimana kita menyatukan antara kebersamaan Allah dengan orang-orang Mukmin dengan kemenangan orang-orang kafir yang kadang terjadi atas orang-orang Mukmin?

Al-Anfal Ayat 0 - 22

إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ٢٢

Yang Allah nafikan dari mereka ini adalah pendengaran yang berefek pada hati, bukan pendengaran tegaknya hujjah, karena hujjah Allah telah tegak atas mereka karena mereka telah mendengar ayat-ayatNya, akan tetapi mereka tidak mendengar dengan pendengaran yang ber-guna bagi mereka. (As-Sa'di, 318).
Pertanyaan: Pendengaran apa yang Allah nafikan dari orang-orang musyrik dan pengetahuan apa yang kamu dapatkan dari hal tersebut?

Al-Anfal Ayat 0 - 23

وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيهِمۡ خَيۡرٗا لَّأَسۡمَعَهُمۡۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ٢٣

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mendengar dan mengerti memiliki kebaikan, karena bisa saja dia memahami, namun tidak mengamalkan, sehingga tidak mengambil faidah dari apa yang dipahaminya, sehingga tidak ada kebaikan baginya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa pendengaran yang menghasilkan pemahaman hanya dituntut dari orang yang memiliki kebaikan, karena dialah yang bisa mengambil manfaat darinya. (Ibnu Taimiyah, 3/365).
Pertanyaan: Apakah setiap orang yang mendengar dan memahami memiliki kebaikan?

Al-Anfal Ayat 0 - 24

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ

Kehidupan hati dan rohani adalah dengan menghamba kepada Allah, menaatiNya dan menaati RasulNya secara terus menerus. (As-Sa'di, 318).
Pertanyaan: Dengan apakah kehidupan rohani itu?

Al-Anfal Ayat 0 - 24

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ

Allah menghalangi seseorang dengan hatinya sehingga dia tidak beriman dan tidak kafir kecuali dengan izinNya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, Nabi  memperbanyak ucapan, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, apakah engkau masih khawatir atas kami?” Beliau menjawab, “Ya, sesungguhnya hati manusia itu di antara dua jari dari jari jemari Allah, Dia membolak-baliknya.” (Ibnu Katsir, 2/285).
Pertanyaan: Jika kamu mengetahui bahwa hatimu ada di tangan Allah bukan di tanganmu, maka apa yang harus kamu lakukan?