Quran
ﮓ
ﱀ
ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ٥٨ ٥٨
ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ
ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ٥٩ ٥٩
ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ٦٠ ٦٠ ﮄ ﮅ
ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ٦١ ٦١
ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ
ﮗ ﮘ ﮙ ٦٢ ٦٢ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ
ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ
٦٣ ٦٣ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ
ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ٦٤ ٦٤ ﯚ ﯛ
ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ
ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ٦٥ ٦٥ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ
ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ٦٦ ٦٦
ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ٦٧ ٦٧
وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَشۡكُرُونَ ٥٨
Ini adalah perumpamaan bagi hati saat wahyu turun padanya. Hati yang baik akan menerima dan mempelajari wahyu yang datang, maka ia akan tumbuh menurut kebaikan dasarnya dan kebaikan unsurnya. Sebaliknya hati yang buruk yang tidak mengandung kebaikan, ketika wahyu datang kepadanya, maka ia tidak menemukan tempat yang cocok, sebaliknya ia mendapatinya berpaling dan lalai, ia seperti hujan yang turun di tanah yang tandus, pasir dan bebatuan, ia tidak meninggalkan bekas apa pun. (As-Sa'di, 292).
Pertanyaan: Sebutkan bentuk-bentuk hati dalam menerima wahyu?
قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٦٠
“Pemuka-pemuka kaumnya berkata,” yakni, para tokoh, pemimpin dan orang-orang yang dihormati dari mereka, “Sesungguhnya kami meman-dangmu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata,” yakni, dalam ajakanmu kepada kami agar kami meninggalkan penyembahan kepada berhala-berhala yang kamu melihat nenek moyang kami menyembahnya. Demikianlah keadaan orang-orang durjana, mereka melihat orang baik adalah orang yang sesat, sebagaimana Allah berfirman, “Bila mereka melihat orang-orang baik, mereka berkata, ‘Sesungguhnya mereka itu benar-benar tersesat.” [Al-Muthaffifin: 32]. Allah berfirman, “Orang-orang kafir berkata kepada orang-orang Mukmin, ‘Seandainya ia adalah kebaikan niscaya mereka tidak mendahului kita padanya.” [Al-Ahqaf: 11]. (Ibnu Katsir, 2/214).
Pertanyaan: Jelaskan sebagian dari ujuan yang menimpa orang-orang shalih dari ayat ini?
قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٦١
Jawaban Nabi Nuh kepada mereka, “Aku tidak sesat,” menunjukkan sopan santun yang tinggi, berpaling dari sikap kurang ajar mereka, menyikapinya dengan lembut dan lapang dada sesuai dengan tuntutan akhlak kenabian. (Ibnu Athiyyah, 2/415).
Pertanyaan: Jawaban Nabi Nuh kepada kaumnya mengandung sebuah manhaj bagi para da'i. Jelaskan!
قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٦١
Ini adalah hidup seorang Rasul, dia menyampaikan, menasihati, fasih dan mengetahui Allah. (Ibnu Katsir, 2/214).
Pertanyaan: Apa sifat yang patut dipunyai oleh seorang da'i?
أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٦٢
Yakni, tugasku adalah menyampaikan kepada kalian dengan menjelaskan Tauhid kepada Allah, perintah-perintah dan larangan-laranganNya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang kepada kalian. “Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.” Karena kalian tidak mengetahui maka kalian harus menaatiku dan mengikuti perintahku. (As-Sa'di, 293).
Pertanyaan: Seorang rasul mengetahui dari Allah apa yang tidak manusia ketahui. Hal ini menuntut apa dari mereka?
فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ٦٤
Allah menyebutkan penyelamatan terhadap orang-orang yang beriman terlebih dahulu sebagai wujud dari perhatianNya kepada mereka dan untuk menyegerakan kabar gembira bagi orang-orang Mukmin yang membaca-nya, bahwa di antara kebiasaan Allah pada saat membinasakan kaum musyrikin adalah bahwa Dia menyelamatkan RasulNya dan orang-orang yang beriman. (Ibnu Asyur, 8/197).
Pertanyaan: Mengapa Allah mendahulukan penyelamatan terhadap orang-orang Mukmin atas penenggelaman terhadap orang-orang kafir dalam ayat yang mulia ini?
فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ
Ini adalah sunnah Allah pada hamba-hambaNya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa, kemenangan dan keberuntungan adalah milik mereka, sebagaimana Allah membinasakan kaum Nabi Nuh dengan menenggelamkan mereka dan menyelamatkan Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman. (Ibnu Katsir, 2/214).
Pertanyaan: Dalam kisah Nuh terkandung faidah bagi kaum Muslimin yang tertindas, apa itu?