Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

١٠٦ ١٠٦

١٠٧ ١٠٧


ﭿ ١٠٨ ١٠٨


١٠٩ ١٠٩


١١٠ ١١٠

١١١ ١١١


١١٢ ١١٢



ﯿ ١١٣ ١١٣
96
An-Nisa Ayat 0 - 107

وَلَا تُجَٰدِلۡ عَنِ ٱلَّذِينَ يَخۡتَانُونَ أَنفُسَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمٗا ١٠٧

Orang yang selalu berkhianat adalah orang yang melakukan pengkhianatan berulang-ulang, sedangkan orang yang gemar berdosa adalah orang yang menyengaja melakukannya, karena itu ancaman ini tidak mencakup orang yang melakukan dosa sekali dan yang jarang, di mana dia berkhianat karena ketidaksengajaan atau karena kelalaian. (Ibnu Athiyah, 2/110).
Pertanyaan: Kapan seseorang disebut gemar berkhianat dan gemar bermaksiat?

An-Nisa Ayat 0 - 107

وَلَا تُجَٰدِلۡ عَنِ ٱلَّذِينَ يَخۡتَانُونَ أَنفُسَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمٗا ١٠٧

Orang-orang yang mengkhianati diri mereka, Yakni, menganiaya diri mereka dengan melakukan kemaksiatan dan berbuat dosa. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.” Banyak berkhianat, tenggelam di dalamnya, lagi bergelimang dosa. Abu Hayyan berkata, “Ayat ini menggunakan shighat (bentuk kata) mubalaghah (superlatif) sehingga ia tidak mencakup orang yang melakukan khianat dan dosa sekali dan siapa yang melakukannya karena lalai dan tidak sengaja. (Al-Alusi, 5/141).
Pertanyaan: Mengapa ayat berkata, خَوَّانًا أَثِيْمًا dengan shighat mubalaghah?

An-Nisa Ayat 0 - 107

وَلَا تُجَٰدِلۡ عَنِ ٱلَّذِينَ يَخۡتَانُونَ أَنفُسَهُمۡۚ

Khianat kepada orang lain sama dengan khianat kepada diri sendiri, karena akibat buruknya kembali kepada diri sendiri. (Al-Alusi, 5/140.
Pertanyaan: Mengapa khianat kepada orang lain sama dengan khianat kepada diri sendiri?

An-Nisa Ayat 0 - 110

وَمَن يَعۡمَلۡ سُوٓءًا أَوۡ يَظۡلِمۡ نَفۡسَهُۥ ثُمَّ يَسۡتَغۡفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ١١٠

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa dia berkata, Abu Bakar ash-Shiddiq menyampaikan kepadaku dan Abu Bakar benar, bahwa dia berkata, “Tidak ada seorang hamba yang berbuat dosa kemudian dia berwudhu lalu shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah, kecuali Allah mengampuninya.” Kemudian dia membaca ayat ini. “Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qurthubi, 7/117).
Pertanyaan: Pelebur dosa itu banyak, sebutkan satu darinya!

An-Nisa Ayat 0 - 110

أَوۡ يَظۡلِمۡ نَفۡسَهُۥ

Menzhalimi diri disebut kezhaliman karena seorang hamba tidak memiliki dirinya sehingga dia bisa berbuat terhadapnya sesukanya, akan tetapi ia adalah milik Allah yang Allah titipkan pada seorang hamba, Allah memerintahkannya agar menegakkannya di atas jalan keadilan dengan memastikannya tetap pada jalan yang lurus dari sisi ilmu dan amal, berusaha mengajarinya apa yang diperintahkan, berusaha mengamalkan apa yang wajib. Maka usaha seorang hamba di selain jalan ini adalah kezhaliman terhadap dirinya sendiri dan pengkhianatan, penyimpangan dari keadilan. (As-Sa'di, 201).
Pertanyaan: Mengapa kemaksiatan disebut kezhaliman terhadap diri sendiri?

An-Nisa Ayat 0 - 111

وَمَن يَكۡسِبۡ إِثۡمٗا فَإِنَّمَا يَكۡسِبُهُۥ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦۚ

Namun bila keburukan-keburukan mewabah dan tidak diingkari maka hukuman atasnya akan merata, dosanya berlaku umum, maka ia tidak keluar dari maksud ayat yang mulia ini, karena siapa yang meninggalkan nahi mungkar yang wajib atasnya, berarti dia ikut me-mikul dosanya. (As-Sa'di, 201).
Pertanyaan: Hukuman atas keburukan, kapan ia berlaku khusus atas pelakunya dan kapan berlaku umum?

An-Nisa Ayat 0 - 111

وَمَن يَكۡسِبۡ إِثۡمٗا فَإِنَّمَا يَكۡسِبُهُۥ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا ١١١

“Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Dan di antara bentuk ilmu dan hikmah Allah adalah bahwa Dia mengetahui dosa dan apa yang keluar darinya, faktor penyebabnya, hukuman akibat melakukannya. Dan Allah mengetahui keadaan pelakunya, bahwa apabila dosa keluar darinya karena dominasi jiwanya yang kuat me-ngajak kepada keburukan disertai sikap kembali kepada Tuhannya dalam banyak waktunya, maka Allah  akan mengampuninya dan membimbingnya untuk bertaubat. Namun bila dosa keluar darinya karena keberaniannya melanggar batas-batas Allah, meremehkan penglihatanNya atau meremehkan hukumanNya, maka dia jauh dari ampunan, jauh dari taufik kepada taubat. (As-Sa'di, 201).
Pertanyaan: Pelaku dosa ada dua. Sebutkan!