Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

٥٢ ٥٢
٥٣ ٥٣


٥٤ ٥٤

ﭿ ٥٥ ٥٥



٥٦ ٥٦


٥٧ ٥٧



٥٨ ٥٨

ﯿ
٥٩ ٥٩
87
An-Nisa Ayat 0 - 52

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُۖ وَمَن يَلۡعَنِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ نَصِيرًا ٥٢

Mereka, yaitu orang-orang yang Allah nyatakan bahwa mereka telah diberi sebagian dari al-Kitab, mereka yang beriman kepada jibt dan thaghut, mereka adalah orang-orang yang Allah laknat, yakni, Allah menghinakan mereka, menjauhkan mereka dari rahmatNya karena mereka beriman kepada jibt dan thaghut, kekafiran mereka kepada Allah dan RasulNya dan penentangan mereka terhadap Allah dan Rasulullah. (Ath-Thabari, 8/471).
Pertanyaan: Kapan ilmu tentang al-Qur`an berguna bagi pemiliknya?

An-Nisa Ayat 0 - 56

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا

Karena sifat api sebagaimana yang kita ketahui membakar dan melenyapkan, maka Allah menyusulkan informasi dengan firmanNya, “Setiap kali kulit mereka hangus.” Panasnya api neraka membuat daging mereka matang hingga bisa dimakan seandainya ia bisa dimakan, ia seperti daging mati yang ada pada luka, yang tidak lagi merasakan sakit, “Kami ganti,” Kami memberinya, “dengan kulit yang lain,” yakni, kulit baru selain yang sudah matang sebagai gantinya. Kami mengembalikannya seperti sediakala, sebagaimana mereka sebelumnya senantiasa mendustakan ayat-ayat kami setiap saat, agar balasan dari satu amalan itu sejenis dengan amalan itu sendiri. (Al-Biqa'i, 2/269).
Pertanyaan: Mengapa kulit orang-orang kafir diganti di dalam api neraka?

An-Nisa Ayat 0 - 57

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا ٥٧

ظَلِيْلًا yakni, bersambung tanpa terputus, lapang tanpa kesempitan, terus-menerus tidak terkena matahari sehari pun, tidak panas dan tidak dingin, akan tetapi ia sangat seimbang. (Al-Biqa'i, 2/270.)
Pertanyaan: Apa petunjuk dari naungan yang teduh di surga di dalam ayat?

An-Nisa Ayat 0 - 58

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا ٥٨

Para hakim tidak boleh memutuskan kecuali dengan keadilan semata. Keadilan adalah apa yang Allah turunkan, sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kalian menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Ibnu Taimiyah, 2/272).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan adil di dalam ayat?

An-Nisa Ayat 0 - 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

Dengan syarat mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan kepada Allah. Bila mereka memerintahkan demikian, maka tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Inilah mengapa kata kerja taatilah tidak disebutkan dalam perintah menaati mereka, sementara untuk Rasul ia disebutkan, karena Rasul tidak memerintahkan kecuali kepada ketaatan kepada Allah, maka siapa yang menaati Rasul, berarti dia menaati Allah. (As-Sa'di, 184).
Pertanyaan: Mengapa kata taatilah disebutkan untuk Rasulullah dan tidak untuk ulil amri?

An-Nisa Ayat 0 - 59

وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

Karena kehidupan manusia tidak menjadi baik dan lurus kecuali dengan menaati mereka dan tunduk kepada mereka. (As-Sa'di, 183).
Pertanyaan: Mengapa ketaatan kepada ulil amri wajib?

An-Nisa Ayat 0 - 59

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya).” Mengembalikan kepada Allah  berarti mengembalikannya kepada KitabNya, sedangkan mengembalikan kepada Rasulullah adalah bertanya kepada beliau saat beliau masih hidup dan memulangkan kepada Sunnah beliau sesudah beliau wafat. (Ibnu Juzay, 1/196).
Pertanyaan: Bagaimana perselisihan dipulangkan kepada Allah dan Rasulullah?