Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

١٤١ ١٤١

١٤٢ ١٤٢

١٤٣ ١٤٣

ﭿ

١٤٤ ١٤٤



١٤٥ ١٤٥


١٤٦ ١٤٦


١٤٧ ١٤٧

ﯿ ١٤٨ ١٤٨
68
Al-Imran Ayat 0 - 143

وَلَقَدۡ كُنتُمۡ تَمَنَّوۡنَ ٱلۡمَوۡتَ مِن قَبۡلِ أَن تَلۡقَوۡهُ

Ayat ini menunjukkan tidak dimakruhkannya berharap mati syahid. Sisi petunjuknya adalah bahwa Allah mengakui angan-angan mereka, tidak mengingkarinya atas mereka, tetapi Allah mengingkari sikap tidak melaksanakan tuntutannya. (As-Sa'di, 150).
Pertanyaan: Apakah mengharapkan mati syahid seperti mengharapkan kematian? Jelaskan hal ini melalui ayat di atas!

Al-Imran Ayat 0 - 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ

Ayat ini mengandung dalil paling besar atas keutamaan ash-Shiddiq al-Akbar Abu Bakar dan sahabat-sahabatnya yang memerangi orang-orang murtad sesudah wafat Rasulullah. (As-Sa'di, 151).
Pertanyaan: Peperangan yang dilakukan oleh Abu Bakar dan para sahabat melawan orang-orang murtad menunjukkan sebuah pemahaman besar dan hikmah. Jelaskan hal ini!

Al-Imran Ayat 0 - 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ

Ayat yang mulia ini mengandung bimbingan dari Allah kepada hamba-hambaNya untuk selalu dalam keadaan di mana kematian pemimpin sebesar apa pun tidak sampai menggoyahkan iman mereka atau sebagian dari tuntutan iman, hal itu adalah dengan menyiapkan diri dalam segala urusan agama melalui beberapa orang yang memiliki kapabilitas, bila seseorang dari mereka wafat, maka yang lain bisa meneruskannya. (As-Sa'di, 151).
Pertanyaan: Ayat mulia mengandung bimbingan terkait dengan kaidah pengaturan dan kepemimpinan. Jelaskan!

Al-Imran Ayat 0 - 147

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٤٦ وَمَا كَانَ قَوۡلَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا

Mereka menyatukan sabar dengan istighfar, inilah yang diperintahkan saat musibah terjadi, sabar di atasnya dan memohon ampunan dari dosa-dosa yang menjadi sebabnya. (Ibnu Taimiyah, 2/156).
Pertanyaan: Apa yang diperintahkan saat terjadi musibah?

Al-Imran Ayat 0 - 147

وَمَا كَانَ قَوۡلَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٤٧

Mereka menyadari bahwa dosa-dosa dan tindakan berlebih-lebihan termasuk sebab kekalahan, dan meninggalkan keduanya termasuk sebab-sebab kemenangan, maka mereka memohon ampunan kepada Tuhan mereka. (As-Sa'di, 151).
Pertanyaan: Mengapa para mujahid memohon ampunan dari dosa-dosa dan sikap berlebih-lebihan?

Al-Imran Ayat 0 - 147

وَمَا كَانَ قَوۡلَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٤٧

Mereka meminta ampunan pertama kali agar mereka layak memohon kemenangan atas orang-orang kafir karena saat itu mereka lebih unggul atas mereka dari sisi bahwa mereka lebih bersih dibandingkan orang-orang kafir dari sisi dosa. Permintaan kemenangan padahal jumlah mereka besar sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat sebelumnya, mengisyaratkan bahwa mereka tidak menimbang jumlah mereka yang besar, tidak mengandalkannya, tetapi mereka mengandalkan keteguhan telapak kaki mereka kepada Allah, mereka yakin bahwa kemenangan adalah dari Allah. (Al-Alusi, 4/85).
Pertanyaan: Mengapa para mujahid memohon ampun sebelum mereka memohon kemenangan? Mengapa mereka memohon kemenangan padahal jumlah mereka besar?

Al-Imran Ayat 0 - 148

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا وَحُسۡنَ ثَوَابِ ٱلۡأٓخِرَةِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٤٨

“Maka Allah memberi mereka.” Allah yang ilmu dan kuasaNya meliputi segala sesuatu. “Pahala di dunia,” dengan menerima doa permohonan kemenangan mereka dan kecukupan melalui harta rampasan perang dan lainnya, nama yang baik, lapang dada serta lenyapnya syubhat-syubhat buruk. Karena pahala dunia, apa pun itu, ia akan tetap tercampur dengan kekeruhan, teriringi dengan ujian, karena dunia adalah alam kekeruhan, maka Allah mengosongkannya dari kriteria baik, sebaliknya kriteria ini Allah khususkan untuk akhirat, Allah berfirman, “Dan pahala yang baik di akhirat.” (Al-Biqa'i, 2/164).
Pertanyaan: Mengapa kriteria baik hanya untuk pahala akhirat dan bukan untuk pahala dunia?