Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

٧ ٧ ٨ ٨
٩ ٩
١٠ ١٠ ١١ ١١
١٢ ١٢
١٣ ١٣
١٤ ١٤
ﭿ
١٥ ١٥
١٦ ١٦
١٧ ١٧
١٨ ١٨
١٩ ١٩

٢٠ ٢٠
٢١ ٢١
٢٢ ٢٢

٢٣ ٢٣
٢٤ ٢٤
٢٥ ٢٥

٢٦ ٢٦

٢٧ ٢٧
ﯿ ٢٨ ٢٨

٢٩ ٢٩
٣٠ ٣٠
521
Adz-Dzariyat Ayat 0 - 9

إِنَّكُمۡ لَفِي قَوۡلٖ مُّخۡتَلِفٖ ٨ يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ ٩

Perkataan mereka yang berselisih tersebut adalah perkataan mereka tentang al-Qur`an dan Nabi , yang semuanya hanya praduga lemah. Hal itu karena manakala mereka mendustakan kebenaran, maka pendapat dan perkataan, madzhab dan manhaj mereka pun berbeda-beda, kebenaran adalah jalan yang satu dan jalan yang lurus, siapa yang menyelisihinya, maka jalan dan madzhab akan berbeda-beda. Sebagaimana Allah berfirman, “Justru mereka mendustakan kebenaran manakala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka dalam keadaan yang kacau balau.” [Qaf: 5]. Yakni, kacau balau dan rancu. (Ibnul Qayyim 3/32-33).
Pertanyaan: Di antara sebab persatuan adalah berpegang teguh kepada wahyu. Jelaskan hal itu melalui ayat!

Adz-Dzariyat Ayat 0 - 15

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ١٥

Tidak samar bagi siapa yang memiliki ilmu di bidang Ushul Fikih bahwa ayat yang mulia ini mengandung petunjuk yang dikenal di kalangan Ulama Ushul dengan dalalatul ima` wat tanbih, bahwa sebab mendapatkan taman-taman surga dan mata-mata air di sana adalah takwa kepada Allah, sebab yang syar’i adalah illat syar’i, menurut pendapat yang lebih shahih. (Asy-Syinqithi, 7/439).
Pertanyaan: Kabar Allah tentang orang-orang yang bertakwa bahwa mereka masuk surga mengandung petunjuk kepada sebab masuk surga. Jelaskan!

Adz-Dzariyat Ayat 0 - 16

ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ مُحۡسِنِينَ ١٦

“Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka.” Ada kemungkinan bahwa penduduk surga telah mendapatkan segala keinginan mereka dari Tuhan mereka, mereka menerimanya dengan penuh kerelaan, jiwa mereka bersuka cita dan berbahagia, tidak mencari penggantinya, tidak berniat untuk pindah darinya. Ada kemungkinan bahwa ini adalah keterangan tentang orang-orang yang bertakwa di dunia, bahwa mereka menerima perintah-perintah dan larangan-larangan dari Tuhan mereka, maksudnya mereka menerimanya dengan dada lapang dan kepasrahan. (As-Sa’di, 808).
Pertanyaan: Apa tanda orang-orang yang bertakwa di dunia?

Adz-Dzariyat Ayat 0 - 17

كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧

Maksudnya mereka beribadah di waktu manusia beristirahat dan tidur, sedangkan mereka tidak beristirahat dari kelelahan siang kecuali hanya sedikit. Al-Hasan berkata, “Mereka melakukan qiyamul lail, mereka tidak tidur malam kecuali sedikit.” Dari Abdullah bin Rawahah, “Mereka tidur sebentar kemudian bangun untuk mendirikan shalat.” (Al-Alusi, 27/14).
Pertanyaan: Apa amal yang dilakukan orang-orang yang bertakwa saat manusia istirahat tidur di malam hari, sehingga mereka masuk surga?

Adz-Dzariyat Ayat 0 - 18

وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨

Akhir malam disebut secara khusus, karena pada waktu ini biasa seseorang tidur, maka shalat dan istighfar mereka di waktu ini menunjukkan bahwa ia lebih utama dibandingkan dengan waktu-waktu malam lainnya. Kata اَلْأَسْحَار hadir dalam bentuk jamak karena mereka selalu melakukannya pada setiap waktu sahur. (Ibnu Asyur, 26/350).
Pertanyaan: Mengapa sahur disebutkan secara khusus?

Adz-Dzariyat Ayat 0 - 23

وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ ٢٢ فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ٢٣

Sebagian orang bijak menyatakan, "Sebagaimana setiap orang berkata dengan mulutnya sendiri, tidak meminjam mulut orang lain, maka setiap orang makan rezekinya sendiri yang menjadi jatahnya, dia tidak bisa makan rizki orang lain." (Al-Baghawi, 19/231).
Pertanyaan: Apa sisi persamaan antara rezeki dan berbicara?

Adz-Dzariyat Ayat 0 - 26

فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ

Kata رَاغَ adalah pergi diam-diam sehingga orang yang ditinggalkannya hampir tidak menyadarinya. Ini adalah salah satu wujud kemurahan hati tuan rumah penerima tamu, mundur pergi diam-diam sehingga tamu seperti tidak mengetahui kepergiannya, dia pun tidak merasa sungkan dan malu, tahu-tahu tuan rumah datang dengan membawa hidangan, berbeda dengan tuan rumah yang berkata kepada tamunya yang hadir, “Duduklah, aku akan menyiapkan hidangan.” Dan perkataan yang sepertinya yang membuat tamu merasa malu dan sungkan. (Ibnul Qayyim, 3/45).
Pertanyaan: Jelaskan sebagian bentuk dari kemurahan hati para nabi dan kebaikan akhlak mereka!