Quran
ﯝ
ﱒ
ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ٢٤ ٢٤
ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ
ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ
ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ
ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ
ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ٢٥ ٢٥ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ
ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ
ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ
ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ٢٦ ٢٦
ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ
ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ
ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ
ﯭ ﯮ ٢٧ ٢٧ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ
ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ٢٨ ٢٨
وَلَوۡلَا رِجَالٞ مُّؤۡمِنُونَ وَنِسَآءٞ مُّؤۡمِنَٰتٞ لَّمۡ تَعۡلَمُوهُمۡ أَن تَطَـُٔوهُمۡ فَتُصِيبَكُم مِّنۡهُم مَّعَرَّةُۢ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ لِّيُدۡخِلَ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُۚ لَوۡ تَزَيَّلُواْ لَعَذَّبۡنَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ٢٥
Terkadang Allah mempersulit satu urusan atas Nabi yang beliau sangka bahwa kebahagiaan ada padanya, padahal di belakangnya ada racun yang mematikan, maka Allah menghalang-halangi beliau darinya dan ini adalah rahmatNya kepada beliau, sekalipun secara lahir pahit dan sulit. Karena itu, berserah dirilah dengan tetap berusaha melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh dan menyesal atas kegagalan dalam mewujudkannya, jangan menyanggah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa terkadang Allah melindungi orang kafir demi orang Mukmin. (Al-Biqa’i, 18/329).
Pertanyaan: Takdir Allah berkaitan dengan hikmah dan rahmatNya. Jelaskan hal ini melalui ayat ini!
إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ
Kesombongan dinyatakan sebagai kesombongan jahiliyah untuk merendahkan dan memburukkannya, karena ia termasuk akhlak orang-orang jahiliyah, sifat jahiliyah ini adalah celaan di dalam al-Qur`an. Allah berfirman, “Mereka menduga Allah dengan dugaan yang tidak benar dugaan jahiliyah.” [Ali Imran: 154]. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari.” [Al-Ma`idah: 50]. (Ibnu Asyur, 26/194).
Pertanyaan: Apa faidah kesombongan dinyatakan sebagai kesombongan jahiliah?
فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
Buah dari ketenangan ini adalah keyakinan dan kepercayaan terhadap berita, berserah diri dan ketundukan kepada perintah. Tidak ada syubhat yang bertentangan dengan berita tersebut, tidak ada keinginan yang menentang perintah, tidak ada penentangan buruk yang melintas pada hati kecuali ia hanya sekedar lewat, hanya seperti bisikan setan yang terlintas yang menggoda seorang hamba, supaya iman hamba menguat, timbangan hamba naik di sisi Allah dengan menolaknya dan tidak membiarkannya bersemayam. Seorang Muslim tidak menyangka bahwa ia karena rendahnya derajatnya di sisi Allah. (Ibnul Qayyim, 2/459).
Pertanyaan: Apa buah dari ketenangan di dalam hati orang-orang Mukmin?
إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ
Karena kesombongan jahiliyah melahirkan perkataan dan perbuatan yang sejenis dengannya, maka Allah menanamkan di dalam hati para kekasihNya ketenangan yang menghadang kesombongan jahiliyah dan pada lisan mereka kalimat takwa untuk menghadang kata-kata kotor buah dari kesombongan jahiliyah. (Ibnul Qayyim, 2/458-459).
Pertanyaan: Mengapa Allah menganugerahi orang-orang Mukmin ketenangan dan kalimat takwa?
وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ
Kalimat takwa adalah la ilaha illallah, disandarkan kepada takwa karena ia adalah tameng dari syirik, ia adalah kepala dari segala bentuk takwa. (Al-Alusi, 13/271).Pertanyaan: Apa itu kalimat takwa dan mengapa seorang Mukmin harus selalu memegangnya?
لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ
Ini adalah isyarat bahwa orang-orang Mukmin memasukinya berkat kehendak Allah bukan karena kekuatan dan usaha mereka. (Al-Alusi, 13/273).
Pertanyaan: Apa faidah pembatasan dengan insya Allah?
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ
Al-Qur`an menyebutkan kekuatan pandangan ilmiah dan kekuatan kehendak amaliah di beberapa ayat, seperti Firman Allah, “Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia menangkan terhadap semua agama.” Hidayah adalah kesempurnaan ilmu dan agama yang haq adalah kesempurnaan amal, seperti Firman Allah, “Para pemilik kekuatan dan pandangan yang tajam.” [Shad: 45]. (Ibnu Taimiyah, 6/38).
Pertanyaan: Muslim membutuhkan dua kekuatan. Apa itu?