Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٨٩ ٨٩



٩٠ ٩٠
ﭿ
٩١ ٩١


٩٢ ٩٢


٩٣ ٩٣


٩٤ ٩٤


٩٥ ٩٥
٩٦ ٩٦
ﯿ ٩٧ ٩٧
219
Yunus Ayat 0 - 89

قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا

Pembicaraan tertuju kepada Musa dan Harun. Hanya saja Allah tidak menyebutkan doa kecuali dari Musa seorang, namun Musa berdoa dan Harun mengamininya. (Ibnu Juzay, 1/387).
Pertanyaan: Ayat ini mengandung dalil bahwa doa dikabulkan dari orang yang berdoa dan orang yang mengamininya. Jelaskan!

Yunus Ayat 0 - 89

قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٩

Allah menyusulkan perintah kepada keduanya agar tetap istiqamah sesudah menjawab doa keduanya. Ini menunjukkan bahwa istiqamah merupakan wujud syukur atas kenikmatan, karena jawaban Allah terhadap doa seorang hamba adalah nikmatNya dan kemuliaanNya kepada hamba tersebut, nikmat agung yang wajib disyukuri dan syukur paling agung adalah menaati pemberi nikmat. Hakikat istiqamah adalah tetap stabil tegak (lurus) yang lawannya adalah kebengkokan. Kata istiqamah sering dipakai untuk memegang kebenaran dan jalan lurus. (Ibnu Asyur, 11/273).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan istiqamah dan mengapa Allah memerintahkan Musa dan Harun agar beristiqamah sesudah mengabulkan doa mereka berdua?

Yunus Ayat 0 - 90

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدۡرَكَهُ ٱلۡغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٩٠

Iman dalam keadaan ini tidak bermanfaat, taubat masih terbuka sebelum menyaksikan azab, kalau sesudahnya atau pada saatnya, maka ia tidak berguna. (Al-Qurthubi, 11/45).
Pertanyaan: Kapan batas akhir diterimanya iman dan taubat?

Yunus Ayat 0 - 90

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدۡرَكَهُ ٱلۡغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٩٠

Sunnah Allah sudah ditetapkan bahwa bila orang-orang kafir sudah sampai pada titik darurat seperti ini, mereka akan lebih beriman dan iman mereka sia-sia, karena iman mereka adalah iman terhadap sesuatu yang nyata, seperti iman orang yang datang pada Hari Kiamat, adapun iman yang bermanfaat adalah iman kepada yang ghaib. (As-Sa'di, 372).
Pertanyaan: Mengapa iman Fir'aun ditolak dan apa iman yang diinginkan oleh Allah?

Yunus Ayat 0 - 92

وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ٩٢

Karena itu tanda-tanda tersebut datang kepada mereka berulang-ulang, namun mereka tidak memetik faidah darinya, karena mereka memang lalai darinya. Berbeda dengan orang yang memiliki akal dan hati yang terjaga, maka dia melihat tanda-tanda kekuasaan Allah  merupakan bukti paling besar atas kebenaran apa yang dibawa oleh para rasul. (As-Sa'di, 372).
Pertanyaan: Mengapa kebanyakan manusia tidak mengambil faidah dari ayat-ayat Allah padahal ayat-ayat tersebut sering melewati mereka?

Yunus Ayat 0 - 93

فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ

Ini adalah penyakit yang menimpa ahli agama yang benar, saat mereka berhasil membuat setan tidak berharap untuk mereka taati dalam meninggalkan agama secara total, maka setan berusaha merusak hubungan baik di antara mereka, dia menanamkan kebencian dan permusuhan. Maka lahirlah perselisihan yang menyeret kebencian dan permusuhan, lalu sebagian menyatakan bahwa yang lainnya sesat, bahwa sebagian adalah musuh sebagian yang lain dan hal ini tentu saja membahagiakan setan. Jika Tuhan mereka adalah satu, rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu, kemaslahatan umum mereka adalah sejalan, lalu untuk apa mereka berselisih dengan perselisihan yang memecah belah persatuan mereka dan mencerai-beraikan keutuhan mereka dan merenggangkan jalinan kuat di antara mereka, akibatnya mereka gagal untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan agama mereka, sebagian dari agama mereka mati akibat dari hal itu. (As-Sa'di, 373).
Pertanyaan: Apa penyakit yang menimpa umat ini dan melemahkannya padahal di tengah-tengah mereka masih ada ilmu yang shahih?

Yunus Ayat 0 - 94

فَإِن كُنتَ فِي شَكّٖ مِّمَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ فَسۡـَٔلِ ٱلَّذِينَ يَقۡرَءُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكَۚ

Ayat ini berisi bimbingan bahwa siapa yang menghadapi syubhat dalam agama, dia harus merujuk kepada ahli agama, agar syubhatnya bisa dikikis. Bahkan harus bergegas, sebagaimana hal itu ditunjuk oleh kata "maka" yang berposisi sebagai jawaban dari kata jika, dan dalam kaidah kata "maka" mengandung makna sesudah secara langsung. (Al-Alusi, 11/252).
Pertanyaan: Apa obat dari syubhat-syubhat yang menyerang hati?