Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan

ﰿ


١٠٩ ١٠٩



ﭿ




١١٠ ١١٠

١١١ ١١١



١١٢ ١١٢

١١٣ ١١٣
126
Al-Ma'idah Ayat 0 - 109

يَوۡمَ يَجۡمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَآ أُجِبۡتُمۡۖ قَالُواْ لَا عِلۡمَ لَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ١٠٩

Yakni, bagaimana sikap umat-umat kalian terhadap dakwah kalian, mereka beriman atau kafir, taat atau bermaksiat? Maksud dari pertanyaan ini adalah celaan kepada orang-orang yang kafir dari umat tersebut dan penegakan hujjah atas mereka. (Ibnu Juzay, 1/256).
Pertanyaan: Apa maksud dari pertanyaan Allah kepada nabi-nabi tentang hal ini?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 109

يَوۡمَ يَجۡمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَآ أُجِبۡتُمۡۖ قَالُواْ لَا عِلۡمَ لَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ١٠٩

“Mereka (para Rasul) menjawab, 'Kami tidak tahu (tentang itu)'.” Mereka berkata demikian sebagai bentuk kesopanan kepada Allah, mereka mengembalikan ilmu kepada Allah. (Ibnu Juzay, 1/256).
Pertanyaan: Mengapa para nabi menjawab dengan jawaban tersebut?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 109

يَوۡمَ يَجۡمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَآ أُجِبۡتُمۡۖ قَالُواْ لَا عِلۡمَ لَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ١٠٩

Makna ucapan mereka, “Kami tidak tahu (tentang itu),” ini tidak menunjukkan bahwa para rasul mengingkari bahwa diri mereka mengetahui apa yang umat-umat mereka lakukan, akan tetapi mereka lupa terhadap jawaban karena beban berat hari itu, kemudian sesudah akal mereka pulih, mereka menetapkan kesaksian atas umat-umat mereka. (Ath-Thabari, 11/210).
Pertanyaan: Para rasul memberikan dua jawaban. Apa kedua jawaban tersebut dan kapan?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 110

إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَۖ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيَۡٔةِ ٱلطَّيۡرِ بِإِذۡنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِيۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ

Semua ini secara jelas menyatakan bahwa Isa bukan tuhan, akan tetapi hamba Allah. Beliau melakukan semua itu atas izin Allah, sebagaimana nabi-nabi selainnya melakukan hal yang sepertinya; jelas bahwa yang memberi izin bukanlah yang diberi izin. (Ibnu Taimiyah, 2/571).
Pertanyaan: Ayat yang mulia ini merupakan dalil bahwa Isa adalah hamba Allah, bukan seperti yang diklaim orang-orang Nasrani. Ba­gai­mana demikian?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 110

ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ

Ingatlah dengan hati dan lisanmu, laksanakan kewajibannya sebagai bukti syukur kepada Tuhanmu, karena Dia telah memberimu nikmat yang tidak Dia berikan kepada selainmu. (As-Sa'di, 247).
Pertanyaan: Apakah Allah mengkhususkan nikmat bagimu dan apa kewajibanmu kepada nikmat tersebut?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 110

وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ بِإِذۡنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِيۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ

"Dengan seizinKu," Allah mengulangnya setelah menyebutkan setiap mukjizat untuk membantah pihak yang memberi hak Rububiyah bagi Isa. (Ibnu Juzay, 1/257).
Pertanyaan: Mengapa Allah mengulang kata "dengan seizinKu" pada setiap mukjizat?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 113

قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ١١٣

Yakni, kami meminta karena kami ingin memakannya, makan untuk mengambil keberkahan, bukan karena membutuhkan. Dengan itu kami yakin kepada kuasa Allah, hati kami menjadi tenang dan tenteram, kami mengetahui bahwa engkau telah berkata benar kepada kami bahwa engkau adalah utusan Allah, sehingga iman dan keyakinan kami bertambah. (Al-Baghawi, 1/732).
Pertanyaan: Mengapa hawariyin (para pengikut setia Nabi Isa) meminta kepada Nabi Isa agar menurunkan hidangan?