Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan



٥١ ٥١

ﭿ
٥٢ ٥٢


٥٣ ٥٣




٥٤ ٥٤

٥٥ ٥٥

٥٦ ٥٦
ﯿ

٥٧ ٥٧
117
Al-Ma'idah Ayat 0 - 51

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

Ahli sejarah membuktikan bahwa ahli dzimmah dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang munafik menulis berita tentang kaum Muslimin kepada orang-orang yang seagama dengan mereka, menyampaikan rahasia kaum Muslimin yang mereka ketahui, sehingga sebagian kaum Muslimin ditangkap dan ditawan oleh orang-orang Tartar karena berita dari ahli dzimmah kepada saudara segama mereka. (Ibnu Taimiyah, 2/496).
Pertanyaan: Mengapa Allah melarang berwala` (bersekutu) kepada ahli kitab?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 51

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

Asal wala` adalah mahabbah (kecintaan), sebagaimana asal mu’adah adalah kebencian, karena saling mencintai mengajak untuk saling mendekat dan sepakat, sedangkan saling membenci mengajak untuk saling menjauh dan berbeda. (Ibnu Taimiyah, 2/498).
Pertanyaan: Apa asal wala` dan apa asal mu’adah?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 52

فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يُسَٰرِعُونَ فِيهِمۡ يَقُولُونَ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ٥٢

“Di dalam hati mereka ada penyakit,” yakni, keraguan dan kemunafikan serta kelemahan iman. Mereka berkata, “Kami mengangkat mereka karena terpaksa.” “Kami takut akan mendapat bencana,” karena kemenangan berpihak kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bila mereka yang menang, lalu kita punya jasa pada mereka, maka mereka akan membalas jasa kami itu. Ini adalah su`u zhan (buruk sangka) terhadap Islam. Allah membantahnya, “Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan,” muliakan Islam. (As-Sa'di, 235).
Pertanyaan: Jelaskan melalui ayat bagaimana su`uzhan bisa menyeret kepada kemungkaran besar?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 52

فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يُسَٰرِعُونَ فِيهِمۡ يَقُولُونَ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ٥٢

“Mereka menjadi menyesal,” atas apa yang mereka lakukan yang tidak ber-manfaat apa pun bagi mereka, tidak menolak malapetaka dari mereka, sebaliknya ia adalah kerusakan itu sendiri, aib mereka terbongkar, Allah membuka kedok mereka di dunia kepada hamba-hambaNya yang beriman setelah sebelumnya tertutup, keadaan mereka tidak diketahui. Manakala sebab-sebab yang membuka kedok mereka datang, perkara mereka pun menjadi jelas bagi hamba-hamba Allah yang beriman, maka hamba-hamba Allah itu takjub kepada mereka bagaimana mereka bisa menampakkan iman bahkan mereka berani mengucapkan sumpah atas itu, lalu kebohongan dan kedustaan mereka terbongkar. (Ibnu Katsir, 2/66).
Pertanyaan: Siapa yang mendahulukan orang-orang kafir atas orang-orang Mukmin bisa mendapat siksaan di dunia sebelum akhirat. Jelaskan hal ini!

Al-Ma'idah Ayat 0 - 54

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

أَذِلَّة adalah jamak dari ذَلِيْل, karena kerendahan mereka berarti kelembutan dan kasih sayang, bukan kehinaan, maka sejatinya ia adalah kemuliaan. (Al-Biqa'i, 2/483).
Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan kerendahan kepada orang-orang Mukmin di dalam ayat ini?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 54

أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ

Kekerasan dan ketegasan terhadap musuh-musuh Allah termasuk ibadah yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah, seorang hamba menyetujui Allah dalam bersikap keras kepada mereka, namun hal ini tidak menghalangi kita untuk mengajak mereka kepada agama Islam dengan cara yang lebih baik, keras terhadap mereka disatukan dengan mengajak mereka kepada agama ini, keduanya adalah demi kebaikan mereka sendiri, dan manfaatnya kembali kepada mereka. (As-Sa'di, 236).
Pertanyaan: Kapan kita bersikap keras kepada orang-orang kafir dan kapan bersikap lunak?

Al-Ma'idah Ayat 0 - 54

ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٥٤

Setelah Allah memuji mereka karena sifat-sifat mulia dan keutamaan-keutamaan tinggi yang Dia berikan kepada mereka yang menuntut amal-amal kebaikan yang belum disebutkan, selanjutnya Allah mengabarkan bahwa hal itu adalah karena karunia dan kebaikanNya, agar mereka tidak membanggakan diri mereka, agar mereka bersyukur kepada Allah yang telah memberikannya kepada mereka lalu Dia akan menambahkan dari karuniaNya, agar selain mereka mengetahui bahwa karunia Allah tidak memiliki tabir penghalang. (As-Sa'di, 236).
Pertanyaan: Mengapa Allah menutup sifat-sifat kaum Mukminin dengan menyatakan bahwa itu adalah karuniaNya?