Quran
ﮤ
ﱊ
ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ٣٧ ٣٧
ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ
ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ٣٨ ٣٨ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ
ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ
ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ٣٩ ٣٩
ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ
ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ
ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ٤٠ ٤٠ ﮱ ﯓ ﯔ
ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ
ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ٤١ ٤١ ﯪ ﯫ
ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ٤٢ ٤٢ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ
ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ
ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ ﰍ ﰎ ﰏ
ﰐ ﰑ ﰒ ﰓ ﰔ ﰕ ﰖ ﰗ ﰘ ﰙ ٤٣ ٤٣
رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ
Ini mengandung isyarat kepada semangat mereka yang tinggi, niat dan tekad mereka yang luhur sehingga mereka menjadi para pemakmur masjid yang merupakan rumah Allah di bumi, tempat ibadah kepadaNya, syukur, Tauhid dan penyucian. (Ibnu Juzay, 3/284).
Pertanyaan: Apa faidah dari disifatinya para pemakmur masjid dengan, "Kaum laki-laki.”?
رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ
Banyak sahabat yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada para pedagang di pasar-pasar yang manakala mereka mendengar seruan adzan, mereka meninggalkan segala kesibukan untuk bergegas menuju masjid. Salim bin Abdullah melihat para pedagang pasar yang sedang berangkat ke masjid, maka dia berkata, “Merekalah yang Allah maksud dengan firmanNya, “Mereka melaksanakan shalat dan membayar zakat.” (Al-Qur-thubi, 15/286).
Pertanyaan: Apa sifat kaum laki-laki yang disanjung oleh Allah di dalam ayat ini?
رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ ٣٧
Karena meninggalkan dunia terasa berat oleh sebagian manusia, mencari uang dengan berdagang disukai oleh manusia, biasanya tidak mudah bagi mereka untuk mening-galkannya walaupun sesaat, diperlukan perjuangan untuk mendahulukan hak Allah, maka Allah menyebutkan apa yang memotivasi kepadanya dengan menggunakan dorongan dan peringatan. Allah berfirman, “Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan mata menjadi guncang (Hari Kiamat).” (As-Sa'di, 569).
Pertanyaan: Mengapa ayat ini ditutup dengan, “Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan mata menjadi guncang (Hari Kiamat).”
لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ٣٨
Allah menyebutkan balasan atas kebaikan-kebaikan dan tidak menyebutkan balasan atas keburukan-keburukan sekalipun Allah tetap membalas atasnya karena dua alasan. Pertama, untuk mendorong, maka Allah hanya menyebutkan dorongan. Kedua, ia adalah sifat untuk orang-orang yang tidak melakukan dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecil mereka diampuni. (Al-Qurthubi, 15/304).
Pertanyaan: Mengapa Allah menyebutkan balasan atas kebaikan-kebaikan dan tidak menyebutkan balasan atas keburukan-keburukan?
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡـٔٗا
Orang kafir menyangka dirinya telah melakukan amalan, dia menyangka mendapatkan pahala, bila dia datang pada Hari Kiamat, dia menghadapi hisab dan perhitungan, dia tidak mendapakan pahala apa pun dari amalnya sebelumnya, bisa karena tidak adanya keikhlasan atau karena tidak mengikuti jalan syariat, sebagaimana Allah berfirman, “Dan Kami mendatangi amal yang mereka mereka kerjalan lalu Kami menjadikannya debu yang beterbangan.” [Al-Furqan: 23]. (Ibnu Katsir, 3/286).
Pertanyaan: Apa sebab tertolaknya amal pada Hari Kiamat?
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡـٔٗا
Setelah menyebutkan keadaan orang-orang Mukmin, Allah menyebutkan dua contoh untuk amal orang-orang kafir. Yang pertama tentang amal mereka di akhirat, bahwa ia tidak berguna bagi mereka, sebaliknya pahalanya lenyap seperti fatamorgana. Fatamorgana adalah kilauan layaknya air yang dilihat oleh seseorang di panas yang terik dari kejauhan. (Ibnu Juzay, 2/94).
Pertanyaan: Orang-orang musyrik melakukan beberapa ibadah yang terkotori oleh syirik, bagaimana nasibnya pada Hari Kiamat?
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلطَّيۡرُ صَٰٓفَّٰتٖۖ كُلّٞ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ
Ayat menyebutkan burung secara khusus dari hewan lainnya, karena ia ada di antara langit dan bumi, sehingga ia tidak tercakup oleh siapa yang di langit dan siapa yang di bumi. (Al-Qurthubi, 3/306).
Pertanyaan: Mengapa ayat ini menyebutkan burung secara khusus dari hewan lainnya?