Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٢٣ ٢٣


٢٤ ٢٤

ﭿ ٢٥ ٢٥

٢٦ ٢٦

٢٧ ٢٧
٢٨ ٢٨
٢٩ ٢٩

٣٠ ٣٠

٣١ ٣١



٣٢ ٣٢

ﯿ
٣٣ ٣٣
491
Az-Zukhruf Ayat 0 - 26

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٞ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ٢٦

Setelah Allah menyebutkan dalil-dalil kepada mereka, memperingatkan mereka terhadap azab, dan terbukti bahwa mereka selalu bertaklid tidak terpisah dari taklid, maka Allah mengingatkan mereka kepada moyang mereka paling besar, titik kebanggaan mereka, dan yang palik berhak untuk diikuti agar mereka beruntung dengan mengikuti moyang dan meninggalkan taklid atau dalam bertaklid kepadanya jika mereka memang harus bertaklid, karena dia adalah moyang paling agung dan berpegang pada dalil. (Al-Biqa’i, 7/21).
Pertanyaan: Mengapa Nabi Ibrahim disebutkan sesudah kaum musyrikin yang memegang teguh agama nenek moyang?

Az-Zukhruf Ayat 0 - 26

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٞ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ٢٦

Ibrahim berlepas diri dari apa yang disembah oleh bapaknya merupakan bukti paling nyata menghindari penyembahan kepada berhala tanpa ada toleransi padanya sedikit pun, sekalipun yang menyembahnya adalah orang paling dekat kepada orang yang mentauhidkan Allah seperti bapak. (Ibnu Asyur, 25/192).
Pertanyaan: Mengapa ayat menyebutkan bapak Ibrahim sebelum kaum Nabi Ibrahim?

Az-Zukhruf Ayat 0 - 28

وَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِيَةٗ فِي عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٢٨

Yakni, kami menjadikan perkata yang mulia ini yang merupakan induk dari segala perkara dan dasarnya, yaitu keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan berlepas diri dari penyembahan kepada selain Allah. Kalimat ini terus abadi pada anak keturunannya sebelum mereka dilanda kemewahan dan pelanggaran. (As-Sa’di, 764).
Pertanyaan: Apa pengaruh kemewahan dan pelanggaran terhadap akidah Tauhid?

Az-Zukhruf Ayat 0 - 30

وَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٞ وَإِنَّا بِهِۦ كَٰفِرُونَ ٣٠

Ini termasuk penentangan dan penyelisihan yang paling besar. Mereka tidak hanya berpaling dan tidak pula mengingkarinya, mereka tidak merasa cukup dengan semuanya sehingga mereka pun menggugatnya dengan gugatan yang sangat buruk, mereka memasukkannya ke dalam golongan sihir yang tidak didatangkan kecuali oleh manusia paling jahat dan paling besar kebohongannya. (As-Sa’di, 765).
Pertanyaan: Ucapan kaum musyrikin, "Ini adalah sihir", menunjukkan apa?

Az-Zukhruf Ayat 0 - 32

وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ

Jika kehidupan hamba-hamba dan rizki mereka di tangan Allah, Dia-lah yang membagi-bagikannya di antara hamba-hambaNya, Dia yang melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya dari siapa yang Dia kehendaki menurut tuntutan hikmahNya, maka rahmat Allah dalam hal agama dan yang tertinggi adalah kenabian dan kerasulan lebih patut dan lebih patut untuk berada di tangan Allah. Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalahNya, dari sini maka diketahui bahwa perkataan mereka itu sampah tidak berharga, bahwa segala pengaturan urusan, baik dunia dan agama ada di tangan Allah saja. (As-Sa’di, 765).
Pertanyaan: Mengapa Allah menyebutkan pembagian rizki sesudah menyebutkan usulan mereka agar al-Qur`an diturunkan kepada orang besar di antara dua negeri?

Az-Zukhruf Ayat 0 - 32

وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٣٢

Agar sebagian melayani sebagian yang lainnya. (Ibnu Juzay, 2/312).
Pertanyaan: Ada hikmah besar di balik perbedaan kehidupan manusia dan derajat dunia mereka. Jelaskan!

Az-Zukhruf Ayat 0 - 33

وَلَوۡلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ لَّجَعَلۡنَا لِمَن يَكۡفُرُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ لِبُيُوتِهِمۡ سُقُفٗا مِّن فِضَّةٖ وَمَعَارِجَ عَلَيۡهَا يَظۡهَرُونَ ٣٣

Al-Hasan berkata, “Maknanya kalau bukan karena kekafiran manusia seluruhnya akibat kecenderungan mereka kepada dunia dan meninggalkan akhirat, niscaya Kami memberi mereka dunia sebagaimana yang Kami katakan, karena dunia tidak berharga di sisi Allah. (Al-Qurthubi, 19/37-38).
Pertanyaan: Jelaskan remehnya dunia di sisi Allah melalui ayat!