Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan


٣٣ ٣٣

٣٤ ٣٤

٣٥ ٣٥

٣٦ ٣٦

ﭿ
٣٧ ٣٧

٣٨ ٣٨

٣٩ ٣٩


٤٠ ٤٠

٤١ ٤١


٤٢ ٤٢

٤٣ ٤٣
363
Al-Furqan Ayat 0 - 33

وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا ٣٣

Ayat ini mengandung petunjuk bahwa orang yang berbicara, baik dia itu muhaddits atau mu'allim atau pemberi nasihat patut meneladani Tuhannya dalam mengatur urusan RasulNya, demikian juga seorang ulama dalam mengatur urusan masyarakat, bila ada tuntutan keadaan atau momentum tertentu, maka dia laik menghadirkan ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi yang sesuai dengannya, nasihat-nasihat dan korelatif. (As-Sa'di, 582-583).
Pertanyaan: Jelaskan sebagian dari hikmah seorang dai dan pendidik melalui ayat ini!

Al-Furqan Ayat 0 - 34

ٱلَّذِينَ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُوْلَٰٓئِكَ شَرّٞ مَّكَانٗا وَأَضَلُّ سَبِيلٗا ٣٤

“Orang-orang yang dikumpulkan,” dihimpun dengan dipaksa, berjalan dengan terbalik “dengan diseret wajahnya;” sebagaimana di dunia mereka melakukan sesuatu yang seolah-olah mereka itu tidak melihatnya, tidak ada tindakan bagi mereka pada diri mereka, setan yang mendorong mereka dengan kuat, maka sesungguhnya akhirat adalah cermin dunia, apa pun yang seseorang lakukan di dunia akan terlihat di akhirat, sebagaimana dunia adalah ladang bagi akhirat, apa pun yang ditanam di dunia akan dipanen di akhirat. Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Nabi Allah, Bagaimana orang kafir dikumpulkan dengan diseret di atas wajahnya pada Hari Kiamat?” Rasulullah menjawab, “Bukankah Allah yang membuatnya berjalan dengan kedua kakinya di dunia berkuasa untuk membuatnya berjalan dengan diseret di atas wajahnya pada Hari Kiamat.” Qatadah rawi dari Anas berkata, “Benar, demi kemuliaan Tuhan kami.” (Al-Biqa'i, 13/382).
Pertanyaan: Balasan itu sejenis dengan amal perbuatan. Bagaimana isyarat ayat ini kepada kaidah ini?

Al-Furqan Ayat 0 - 37

وَقَوۡمَ نُوحٖ لَّمَّا كَذَّبُواْ ٱلرُّسُلَ أَغۡرَقۡنَٰهُمۡ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ لِلنَّاسِ ءَايَةٗۖ

Mereka mendustakan rasul-rasul padahal mereka hanya mendustakan Nuh saja. Maksudnya umat yang mendustakan seorang rasul dianggap mendustakan semua rasul, maka ayat hadir sesuai dengan perbuatan mereka sebagai peringatan keras atas mereka. (Ibnu Athiyyah, 4/210).
Pertanyaan: Bagaimana kaum Nuh dinyatakan mendustakan para rasul, padahal yang mereka dustakan hanya Nabi Nuh seorang?

Al-Furqan Ayat 0 - 39

وَقَوۡمَ نُوحٖ لَّمَّا كَذَّبُواْ ٱلرُّسُلَ أَغۡرَقۡنَٰهُمۡ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ لِلنَّاسِ ءَايَةٗۖ وَأَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ عَذَابًا أَلِيمٗا ٣٧ وَعَادٗا وَثَمُودَاْ وَأَصۡحَٰبَ ٱلرَّسِّ وَقُرُونَۢا بَيۡنَ ذَٰلِكَ كَثِيرٗا ٣٨ وَكُلّٗا ضَرَبۡنَا لَهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَۖ وَكُلّٗا تَبَّرۡنَا تَتۡبِيرٗا ٣٩

Allah mengabarkan bahwa Dia telah membuat perumpamaan untuk mereka, orang-orang yang Allah mengutus para rasul kepada mereka dan Allah membinasakan mereka, Allah tidak menghukum mereka kecuali sesudah menegakkan hujjah atas mereka. (Ibnu Taimiyah, 5/14).
Pertanyaan: Kapan pendurhaka berhak atas hukuman?

Al-Furqan Ayat 0 - 41

وَلَقَدۡ أَتَوۡاْ عَلَى ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِيٓ أُمۡطِرَتۡ مَطَرَ ٱلسَّوۡءِۚ أَفَلَمۡ يَكُونُواْ يَرَوۡنَهَاۚ بَلۡ كَانُواْ لَا يَرۡجُونَ نُشُورٗا ٤٠ وَإِذَا رَأَوۡكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا ٱلَّذِي بَعَثَ ٱللَّهُ رَسُولًا ٤١

Yang dimaksud dengan mereka adalah kaum Quraisy dan orang-orang kafir lainnya dan negeri adalah negeri kaum Luth, hujan paling buruk adalah hujan batu. Lalu Allah bertanya kepada mereka tentang apakah mereka menyaksikan negeri tersebut, karena negeri tersebut berada di jalan mereka menuju Syam. Kemudian Allah menyebutkan sebab mereka tidak mengambil pelajaran, yaitu tidak beriman kepada kebangkitan. (Ibnu Juzay, 2/108).
Pertanyaan: Melalui ayat, jelaskan mengapa sebagian orang tidak mengambil nasihat dan pelajaran dari kejadian?

Al-Furqan Ayat 0 - 43

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ٤٣

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya?” Apa pun yang dipandangnya baik, dia menilainya bagus menurut hawa nafsunya, maka ia adalah agama dan madzhabnya. Sebagaimana Allah berfirman, "Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." [Fathir: 8]. (Ibnu Katsir, 6/113).
Pertanyaan: Apa maksud dari menyembah hawa nafsu?

Al-Furqan Ayat 0 - 43

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ٤٣

Menjadikan hawa nafsunya sebagai sesuatu yang ditaati, sehingga ia seperti tuhan. Hawa nafsu menyeret kepada segala kerusakan, karena jiwa cenderung mengajak kepada keburukan. (Ibnu Athiyyah, 4/212).
Pertanyaan: Kapan seorang hamba dikatakan menyembah hawa nafsunya?