Quran
ﮕ
ﱃ
ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ
١٢٣ ١٢٣ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ
ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ
ﭵ ١٢٤ ١٢٤ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ
ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ١٢٥ ١٢٥ ﮄ
ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ
ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ١٢٦ ١٢٦ ﮕ ﮖ
ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ
ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ
ﮩ ﮪ ١٢٧ ١٢٧ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ
ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ
ﯙ ﯚ ١٢٨ ١٢٨ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ
ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ١٢٩ ١٢٩
ﮖ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلۡكُفَّارِ وَلۡيَجِدُواْ فِيكُمۡ غِلۡظَةٗۚ
Mukmin yang imannya sempurna adalah Mukmin yang lunak kepada sesama Mukmin, namun keras terhadap musuhnya yang kafir. (Ibnu Katsir, 2/348).
Pertanyaan: Bagaimana hubungan seorang Mukmin dengan saudaranya yang Mukmin dan hubungannya dengan orang kafir yang memerangi?
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلۡكُفَّارِ وَلۡيَجِدُواْ فِيكُمۡ غِلۡظَةٗۚ
Maksud dari hal ini adalah mengirimkan rasa takut ke dalam hati para musuh agar mereka takut akan akibat dari memerangi kaum Muslimin. (Ibnu Asyur, 11/63).
Pertanyaan: Apa maksud perintah kepada kaum mujahidin agar bersikap keras terhadap kaum musyrikin?
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ١٢٤ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ
Di antara orang-orang munafik ada yang berkata yang lain, “Siapa di antara kalian yang bertambah imannya karena surat ini?” Dia berkata demikian dalam konteks melecehkan al-Qur`an. Seolah-olah mereka berkata, “Betapa anehnya ini, apa dalilnya?” “Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah iman mereka.” Hal itu karena bukti-bukti dan dalil-dalil diperbarui dengan turunnya setiap surat. “Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (surat itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada." Yakni, menambah kekufuran dan kemunafikan mereka di samping kekufuran dan kemunafikan mereka sebelumnya. (Ibnu Juzay, 1/374).
Pertanyaan: Bagaimana turunnya ayat menambah iman sebagian orang dan menambah kemunafikan orang yang lain?
أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ ١٢٦
Tidak diragukan bahwa fitnah yang diisyaratkan oleh ayat ini khusus untuk orang-orang munafik, berupa penyakit yang menimpa mereka, atau malapetaka yang terjadi pada mereka atau hama yang menyerang buah-buahan mereka atau kekurangan jumlah mereka dan anak-anak mereka. Bila dua hal dari berbagai bencana tersebut terjadi dalam setahun, artinya mereka men-dapat ujian dua kali. (Ibnu Asyur, 11/67).
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan fitnah di dalam ayat ini?
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨
“Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian.” Se-nang jika kalian mendapat kebaikan dan berusaha dengan sekuat tenaga menyampaikan kebaikan kepada kalian serta berusaha sungguh-sungguh memberi hidayah kepada kalian kepada iman, membenci keburukan bagi kalian dan berusaha sungguh-sungguh menjauhkan kalian dari keburukan. “Penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman,” yakni, lebih mengasihi dan menyayangi orang-orang Mukmin dibandingkan bapak mereka sendiri. (As-Sa'di, 357).
Pertanyaan: Apa sifat-sifat yang membuat seorang da'i diterima oleh masyarakat?
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨
“Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian.” Sangat ingin kalian beriman dan berbahagia. “Penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” Allah menamakan Rasul dengan dua nama dari nama-namaNya. (Ibnu Juzay, 1/374).
Pertanyaan: Kecintaan Allah mewariskan sebagian sifat-sifatNya pada hamba, berikanlah contoh dalam hal ini!
فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ١٢٩
Ayat ini mengingatkan pentingnya kalimat yang penuh berkah ini, karena Allah memerintahkan Nabi agar mengucapkannya dan tidak memerin-tahkannya untuk sekedar bertawakal. (Ibnu Asyur, 11/74).
Pertanyaan: Mengapa ayat ini mengingatkan pentingnya doa yang termaktub di dalamnya?