Quran
ﮓ
ﱁ
ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ١٧١ ١٧١
ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ
ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ
ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ١٧٢ ١٧٢ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ
ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ
ﮐ ﮑ ﮒ ١٧٣ ١٧٣ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ
ﮘ ١٧٤ ١٧٤ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ
ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ١٧٥ ١٧٥ ﮨ ﮩ
ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ
ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ
ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ
ﯧ ﯨ ﯩ ١٧٦ ١٧٦ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ
ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ١٧٧ ١٧٧ ﯵ ﯶ ﯷ
ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ١٧٨ ١٧٨
أَوۡ تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ١٧٣
Allah telah menitipkan sesuatu pada fitrah kalian yang menunjukkan kepada kalian bahwa apa yang dianut oleh nenek moyang kalian adalah batil dan bahwa kebenaran adalah apa yang dibawa oleh para Rasul, yang ini lebih bernilai daripada apa yang dibawa oleh nenek moyang kalian dan mengalahkannya. Benar, kadang-kadang seseorang bisa memandang bahwa agama dan adat kebiasaan nenek moyangnya yang tersesat adalah yang benar, hal itu tidak lain kecuali karena dia berpaling dari hujjah-hujjah, ayat-ayat dan keterangan Allah baik yang ada di angkasa maupun yang ada di dalam diri manusia. Berpalingnya dia dari hal itu dan fokusnya kepada perkataan orang-orang yang sesat membuatnya mengunggulkan kebatilan atas kebenaran. (As-Sa'di, 308).
Pertanyaan: Mengapa sebagian manusia mengikuti ajaran nenek moyang dan meninggalkan apa yang dibawa oleh para Rasul?
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥
Dia berlepas diri dari sifat hakiki dari orang yang mengetahui ayat-ayat Allah, karena ilmu tentang ayat-ayat Allah membuat pemiliknya mempunyai akhlak-akhlak yang mulia dan amal-amal perbuatan yang bagus, menapaki derajat tinggi dan kedudukan mulia. Namun dia malah meninggalkan Kitab Allah di belakang punggungnya, mencampakkan akhlak-akhlak yang kitab Allah memerintahkan kepadanya, melepasnya laiknya dia melepas pakaian. Manakala dia berlepas diri darinya, maka setan mendatanginya dan menguasainya karena dia keluar meninggalkan benteng yang paling kokoh dan terjun bebas ke derajat yang paling rendah, setan mendorongnya kepada kemaksiatan dengan kuat, “maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.” padahal sebelumnya dia termasuk orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus dan mengajak ke jalan yang lurus. (As-Sa'di, 309).
Pertanyaan: Apa bahaya meninggalkan Kitab Allah sesudah mempelajari dan mengetahuinya?
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥
Manakala dia menentang dan tidak mengamalkan petunjuk Allah, maka lahirlah kegelapan setan di dalam jiwanya yang membuat setan mampu menguasainya dan senantiasa menyesatkannya. Berlepas diri dari ayat-ayat Allah membuat godaan setan dan bila seseorang mengikuti godaan setan maka setan bisa menyetirnya dan selanjutnya menundukkannya dan menyesatkannya, dan inilah yang diungkapkan dengan, “Maka setan menyusulnya.” Maka karena itu dia termasuk ke dalam rombongan orang-orang yang tersesat dengan kesesatan yang jauh. (Ibnu Asyur, 9/176).
Pertanyaan: Apa bahaya menyerah di depan godaan setan?
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ ف
Kandungan ayat ini adalah dorongan untuk beramal dengan dasar ilmu, bahwa hal itu adalah ketinggian bagi pelakunya dari Allah, penjagaan baginya dari setan, ancaman terhadap sikap meninggalkan Kitab Allah, bahwa hal itu menjatuhkannya ke derajat paling bawah, membuat setan menguasainya. Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan hamba kepada hawa nafsu menjadi sebab kekalahan baginya. (As-Sa'di, 308).
Pertanyaan: Apa urgensi beramal dengan landasan ilmu. Jelaskan melalui ayat!
وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ
Firman Allah, “Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat Kami,” menunjukkan bahwa semestinya ayat-ayat Allah menjadi sebab hidayah dan tazkiyah (penyucian), seandainya Allah menghendaki taufik baginya dan perlindungan dari godaan setan dan fitnahnya, maka dia tidak berlepas diri darinya. Ini adalah pelajaran bagi orang-orang yang diberi taufik, agar mereka mengetahui karunia Allah di balik taufik yang mereka dapat. Makna, seandainya Kami menghendaki, niscaya dia meningkatkan amalnya dengan ayat-ayat yang Kami berikan kepadanya, lalu Allah meninggikannya berkat ilmunya. (Ibnu Asyur, 9/176).
Pertanyaan: Ayat-ayat al-Qur`an al-Karim adalah sebab hidayah. Jelaskan!
فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ
Al-Qutaibi berkata, “Segala sesuatu yang menjulurkan lidahnya, ia men-julurkan karena lelah atau karena haus, kecuali anjing, ia menjulurkan lidahnya saat berbicara, saat istirahat dan saat haus, Allah menjadikannya sebagai perumpamaan bagi siapa yang mendustakan ayat-ayatNya, bila kamu menasihatinya maka dia tetap tersesat, bila kamu membiarkannya, maka kamu tetap tersesat, seperti anjing, bila kamu mengusirnya maka ia menjulurkan lidahnya, bila kamu membiarkannya, maka ia juga demi-kian.” (Al-Baghawi, 2/175).
Pertanyaan: Mengapa orang yang dinasihati namun tidak mau menerima nasihat disamakan dengan anjing?
مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٧٨
Inilah sanjungan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk dan ajakan kepada kaum Muslimin agar menghadap kepada Allah dalam mencari hidayah dan keterjagaan dari sebab-sebab kesesatan. (Ibnu Asyur, 9/180).
Pertanyaan: Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa seorang hamba harus menghadap kepada Allah dalam mencari hidayah. Jelaskan!