Quran
ﮓ
ﱁ
ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ
ﭦ ﭧ ٨٨ ٨٨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ
ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ
ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ
ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ٨٩ ٨٩ ﮘ ﮙ
ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ
٩٠ ٩٠ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ٩١ ٩١ ﮬ
ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ
ﯙ ﯚ ٩٢ ٩٢ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ
ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ
ﯫ ٩٣ ٩٣ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ
ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ٩٤ ٩٤ ﯻ ﯼ
ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ
ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ ٩٥ ٩٥
قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ
Mereka adalah para tokoh kaum dan orang-orang terpandang yang mengikuti hawa nafsu mereka dan main-main dalam kesenangan mereka. Manakala kebenaran datang kepada mereka dan mereka melihatnya tidak sejalan dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menolaknya dan menyombongkan diri di hadapannya. (As-Sa'di, 296).
Pertanyaan: Bagaimana kesombongan terhadap nikmat bisa menyeret kepada kekafiran?
قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ قَالَ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ٨٨
Memeluk agama karena terpaksa tidak mewujudkan maksud dari agama, yaitu menyucikan jiwa, memperbanyak bala tentara kebenaran dan kebaikan yang dituntut. (Ibnu Asyur, 9/7).
Pertanyaan: Beragama karena terpaksa tidak menghasilkan buah yang diharapkan. Jelaskan hal ini melalui ayat ini!
فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ
Allah mengabarkan bahwa gempa menimpa mereka. Hal itu karena mereka telah menakut-nakuti Syu'aib dan orang-orang yang beriman kepadanya, mengancam akan mengusir mereka. (Ibnu Katsir, 2/223).
Pertanyaan: Apa korelasi azab gempa yang menimpa kaum Nabi Syu'aib dengan apa yang mereka perbuat terhadap Nabi Syu'aibdan orang-orang yang beriman bersamanya?
ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ
Yakni saat mereka ditimpa azab, seolah-olah mereka tidak pernah mendiami negeri yang mereka hendak mengusir Syu'aib dan orang-orang yang beriman kepadanya darinya. (Ibnu Katsir, 2/223).
Pertanyaan: Jelaskan kaidah balasan itu sejenis dengan amal perbuatan melalui ayat ini!
فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ٩٣
Maksudnya, berduka cita. (Al-Qurthubi, 9/287).
Pertanyaan: Apakah seorang Mukmin bersedih tatkala orang-orang kafir binasa?
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّبِيٍّ إِلَّآ أَخَذۡنَآ أَهۡلَهَا بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ ٩٤
Pengkhususan pengutusan para rasul ke negeri-negeri dan bukan pelosok pedalaman, sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat ini dan ayat al-Qur`an lainnya dan dibuktikan oleh sejarah agama-agama, menunjukkan bahwa maksud Allah dari pengutusan para rasul adalah menyebarkan kebaikan bagi para penduduk negeri yang disusupi oleh kekurangan akibat dari berkumpulnya berbagai jenis manusia dan bahwa orang-orang pedalaman tidak luput untuk datang dan singgah ke negeri-negeri terdekat demi kebutuhan sosial mereka. (Ibnu Asyur, 9/16).
Pertanyaan: Jelaskan hukmah Allah di balik pengutusanNya terhadap para rasul ke penduduk negeri bukan penduduk pedalaman!
ثُمَّ بَدَّلۡنَا مَكَانَ ٱلسَّيِّئَةِ ٱلۡحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَواْ وَّقَالُواْ قَدۡ مَسَّ ءَابَآءَنَا ٱلضَّرَّآءُ وَٱلسَّرَّآءُ فَأَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ٩٥
“Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan,” yakni, dengan kenikmatan-kenikmatan sebagai ujian bagi mereka dalam kedua keadaan. “Sehingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata, 'Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan.” Yakni, hal itu telah terjadi pada nenek moyang kami dan hal itu tidak merugikan mereka, ia kebetulan bukan dengan maksud menguji. (Ibnu Juzay, 1/360).
Pertanyaan: Allah menguji manusia dengan kesusahan dan kemudahan, namun sebagian orang tidak mengambil pelajaran darinya, apa sebabnya dan apakah ia relevan dengan sebagian fenomena di zaman ini?