Quran

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan





١٤١ ١٤١

ﭿ
١٤٢ ١٤٢

١٤٣ ١٤٣


١٤٤ ١٤٤


١٤٥ ١٤٥


١٤٦ ١٤٦

١٤٧ ١٤٧
101
An-Nisa Ayat 0 - 141

فَإِن كَانَ لَكُمۡ فَتۡحٞ مِّنَ ٱللَّهِ قَالُوٓاْ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡ وَإِن كَانَ لِلۡكَٰفِرِينَ نَصِيبٞ

“Dan jika orang kafir mendapat bagian.” Dan Allah tidak berfirman "kemenangan", karena mereka tidak mendapatkan kemenangan yang menjadi titik awal keunggulan mereka secara terus menerus, paling banter mereka hanya mendapatkan sebagian dari kemenangan yang tidak langgeng. (As-Sa'di, 210).
Pertanyaan: Allah menyatakan keunggulan orang-orang Mukmin dengan kemenangan, namun tidak untuk orang-orang kafir, Allah menyatakannya dengan bagian, mengapa demikian?

An-Nisa Ayat 0 - 142

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢

Disebutkannya sifat-sifat tercela ini menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin memiliki sifat-sifat kebalikannya, berupa kejujuran lahir dan batin, keikhlasan, apa yang ada pada mereka diketahui, semangat mereka dalam beribadah dan mendirikan shalat serta banyaknya mereka mengingat Allah, bahwa Allah telah membimbing mereka ke jalan yang lurus. Bagi orang yang berakal silakan mempertimbangkan keadaan dirinya di antara dua kelompok ini, dan memilih bergabung dengan kelompok mana dari keduanya, semoga Allah memberikan pertolongan. (As-Sa'di, 211).
Pertanyaan: Bagaimana kamu menyimpulkan sifat-sifat kaum Mukminin dari ayat ini?

An-Nisa Ayat 0 - 142

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ

Mereka bangkit dengan malas dan berat, tanpa semangat dan keinginan, seperti orang yang dipaksa untuk melakukan sesuatu, karena mereka tidak meyakini bahwa mendirikannya berpahala dan meninggalkannya mendatangkan azab. (Al-Alusi, 5/175).
Pertanyaan: Mengapa orang-orang munafik malas shalat?

An-Nisa Ayat 0 - 142

وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢

Karena mereka hanya mengingat Allah melalui lisan saja dan saat mereka hadir di antara manusia, berbeda dengan orang-orang beriman, bila mereka bangkit untuk mendirikan shalat, mereka terbang dengan sepasang sayap semangat dan rasa takut, bahkan mereka menanti-nanti-kan waktu kedatangannya. (Al-Alusi, 5/181).
Pertanyaan: Mengapa orang-orang munafik itu tidak mengingat Allah kecuali sedikit?

An-Nisa Ayat 0 - 144

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

Yakni, hujjah yang jelas di dalam menyiksa kalian. Ini menunjukkan bahwasanya Allah tidak mengazab seseorang sesuai dengan hikmahNya kecuali sesudah tegaknya hujjah atasnya. Banyak ayat yang menyatakan demikian. Ada yang berkata, apakah kalian hendak menghadirkan bukti nyata bagi Allah bahwa kalian adalah orang-orang munafik, karena bersikap loyal kepada orang-orang kafir adalah bukti kemunafikan yang jelas. (Al-Alusi, 5/177).
Pertanyaan: Ayat ini menunjukkan keadilan Allah. Jelaskan hal itu!

An-Nisa Ayat 0 - 145

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥

Karena ia adalah bagian neraka yang paling tersembunyi, paling rendah, paling hina dan paling samar, sebagaimana kekafiran mereka adalah kekafiran yang paling samar dan paling tersembunyi, di samping itu ia adalah derajat neraka yang paling buruk, sebagaimana kekafiran mereka adalah kekafiran yang paling buruk. (Al-Biqa'i, 2/340).
Pertanyaan: Mengapa kaum munafik berada di lapisan neraka paling rendah?

An-Nisa Ayat 0 - 147

مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا ١٤٧

Allah mendahulukan syukur atas iman, karena seorang hamba itu melihat kepada kenikmatan lalu mensyukurinya, lalu beriman kepada Pemberinya, maka syukur menjadi sebab iman sehingga ia didahulukan. (Ibnu Juzay, 1/216).
Pertanyaan: Mengapa Allah  mendahulukan syukur atas iman dalam firmanNya, “Jika kalian bersyukur dan beriman.”?